Kolaborasi Picu Inovasi

Satu senjata ampuh untuk menang dalam persaingan ASEAN Economic Community adalah inovasi, baik yang berupa inovasi produk, proses, pemasaran maupun organisasional.

Penelitian yang dilakukan Centre of Innovation and Collaboration PPM Manajemen selama 2010 hingga 2012 menemukan bahwa kunci awal inovasi adalah adanya kolaborasi antardepartemen (atau divisi) di dalam perusahaan.

Dengan menjadikan kolaborasi sebagai budaya kerja, perusahaan akan mampu menggerakkan manajemen madya untuk menjadi konduktor bagi harmonisasi pemicu ide-ide kreatif yang berujung pada sebuah prestasi di bidang inovasi.

Nah bicara kolaborasi sebenarnya bukan hal yang asing bagi pemain domestik. Dalam budaya lokal, kolaborasi dimaknai sebagai sistem gotong royong, Tak ada satu catatan sejarah yang secara eksplisit menyebutkan kapan mekanisme ini tercipta,

Namun pemahaman bahwa gotong royong muncul dari naluri manusia yang memahami pola hidup sosialnya telah membawa individu untuk rela menyingsingkan lengan membantu pihak lain yang memerlukan. Cara pandang ini diyakini sebagai paham ketimuran, sehingga bangsa ini tumbuh tanpa diwarnai esensi individualisme.

Apakah semangat gotong royong dapat diwujudkan di dalam perusahaan? Jawabannya sudah tentu iya. Namun pergeseran nilai-nilai budaya akibat perpaduan nilai-nilai setiap, anggota perusahaan sering membuat gotong royong, menjadi kabur. Terlebih jika manajemen puncak menetapkan aturan main kompetisi antardepartemen, divisi atau bagian terkait dengan besaran kontribusi nominal bagi perolehan profit secara keseluruhan.

Dalam sejumlah kasus ditemukan bahwa persaingan tersebut berhasil melumpuhkan semangat gotong royong antarbagian. Akibatnya budaya individualis semu jualah yang berkembang.

Tak hanya itu, kealpaan spirit gotong royong di dalam perusahaan akan membuat pembeda nyata antara departemen yang berhasil menunjukkan kontribusi positif pada profit perusahaan atau yang dikenal dengan revenue generator dan bagian yang belum dapat berkontribusi. Tak jarang bahkan ia disebut sebagai cost centre. Jika ini yang terjadi apakah kita masih dapat mengatakan bahwa organisasi dalam kondisi sehat?

Menghidupkan semangat saling membantu harus didasari pada pandangan “global optima”. Paradigma ini menyebutkan bahwa setiap departemen di dalam perusahaan wajib melihat pada tujuan perusahaan yang utama.

Keyakinan bahwa masing-masing departemen memiliki kontribusi positif pada pencapaian tujuan harus ditekankan secara konsisten. Karena melalui cara pandang tersebut tak akan ada lagi departemen primadona dan sang penerima subsidi. Sehingga secara psikologis akan tercipta semangat saling bahu membahu untuk meraih kinerja perusahaan yang lebih baik. Prestasi satu departemen harus dipahami sebagai output dari kinerja seluruh departemen. ‘

Dalam konteks budaya organisasi, pola tersebut merujuk pada pemahaman anggota tubuh. Perusahaan dilihat sebagai sebuah tubuh utuh yang terdlri dari bagian-bagian khusus. Jika satu bagian tak dapat berfungsi dengan baik niscaya tubuh akan sakit sehingga tak mampu berkinerja secara optimal. Sebaliknya jika semua anggota berfungsi sempurna, maka tubuh dalam kondisi sehat dan dapat berkinerja penuh.

Menerapkan sistem gotong royong di dalam perusahaan domestik bukan sekadar retorika. Beberapa responden dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa melalui cara dan budaya kerja ini manajemen perusahaan berhasil menorehkan sejarah dengan menciptakan produk. yang ‘benar-benar baru di dunia.Ada 11% lebih responden yang berhasil mencetak rekor inovasi produk pertama di Asia. Kemudian, 4% di antaranya bahkan di dunia.

Fakta tersebut membuktikan bahwa mengelola perusahaan dengan dasar kearifan lokal budaya Indonesia adalah hal yang tepat. Selain karena nilai-nilai tersebut telah dihidupi oleh setiap anggota dari sejak lahir, memahami budaya lokal sama artinya dengan mengingatkan individu pada adikodrati keIndonesiaannya.

Panggilan nurani sebagai jiwa Indonesia akan dengan mudah menyadarkan individu akan posisinya sebagai makhlUk sosial. Maka jika manajemen puncak mampu menjaga kesuburan nilai-nilai tersebut niscaya budaya organisasi akan semakin kuat. Sehingga kelak ketika AEC berlangsung, gelombang masUknya ekspatriat asing tak akan berdampak negatif pada perubahan budaya, yang ada malah penguatan budaya. Mereka jualah yang akan ikut budaya kita.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 22 Oktober 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s