Antisipatif Menghadapi Ekonomi AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pekan lalu ditutup naik, menguat 26,67 poin menjadi 4.518. Aksi ini disebut-sebut karena “angin” segar yang dihembuskan Amerika Serikat (AS). Kebijakan ekonomi negara Paman Sam yang akhirnya menyepakati “Obamacare” itu memberikan “nafas” baru bagi perekonomian dunia yang sedang lesu.

Namun, ini tidak berarti ancaman itu seketika berhenti. Ekonomi regional termasuk nasional yang dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan AS masih dalam posisi siaga satu. Hal ini disebabkan karena peningkatan batas utang menjadi US$ 16,7 triliun itu hanya sampai 7 Februari 2014. Ini berarti bahwa bila pemerintah AS belum mampu memulihkan ekonominya hingga tenggat waktu tersebut, maka akan terdapat kebijakan lain yang turut berdampak pada ekonomi Indonesia.

Satu kebijakan yang kini tengah “dinanti” adalah pengurangan stimulus yang akan dilakukan melalui pembelian kembali obligasi oleh The Fed. Sejak diwacanakan pada Mei tahun ini, spontan arus modal keluar dari Indonesia cukup deras. Cukup beralasan memang, sebab sebagian besar investor masih menumpukkan harapan pada pertumbuhan ekonomi AS.

Keluarnya modal dari Indonesia ini akhirnya berujung pada pelemahan rupiah sehingga dapat ditebak bagaimana kepanikan pasar saat itu. Dengan pasokan produk yang mayoritas impor, maka rupiah yang melemah akan berdampak pada kenaikan harga produk-produk dasar, Rakyat jualah yang menanggung bebannya.

Realitas ini terjadi pada waktu yang tidak tepat, Sebab, Indonesia sedang bersiap menyambut pemberlakuan ASEAN Economic Community di awal 2015. Namun” ini juga bukan berarti dunia berhenti berputar. Ada banyak cara yang secara efektif dapat dilakukan sebagai langkah antisipatif drama ekonomi AS. Satu di antaranya adalah mempercepat penguatan industri kreatif dalam negeri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pertumbuhan serta kontribusi industri kreatif pada perekonomian nasional dalam tiga tahun terakhir sangat memuaskan. Dukungan nasionalisme konsumen kelas muda-menengah melalui kecintaannya pada produk besutan pemain domestik menambah gairah produsen dalam menciptakan ide-ide kreatif.

Satu sektor yang perlu mendapat perhatian lebih adalah di bidang fashion. Beberapa media asing bahkan menyebutkan bahwa Indonesia kini mulai menjadi pusat fashion regional, mulai fashion konvensional hingga yang bernuansa Islami, seperti hijab. Tak ayal, pertumbuhan ekspor produk-produk tersebut kini cukup menggembirakan.

Di sisi lain, perkembangan dunia internet yang begitu pesat telah membuka peluang luas bagi pemain lokal untuk mulai mengekspor produknya ke luar negeri: Alhasil dukungan positif ini tak hanya berhasil membukakan peluang namun juga membantu pemain lokal untuk terus mengupayakan efisiensi. Dengan biaya pemasaran yang rendah, harga jual produk akan semakin kompetitif.

Langkah antisipatif yang perlu dicermati secara serius kini adalah bagaimana menciptakan efek sistemik pada pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Setelah kekalahan batik asli Indonesia dengan batik China beberapa tahun terakhir, upaya mengembalikan batik yang notabene warisan budaya negeri harus diakui belum sesuai harapan. Padahal hampir setiap daerah di Indonesia memiliki cOrak batiknya sendiri yang sangat khas.

Diperlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk segera memperkuat barisan yang akan membawa batik Indonesia tak hanya sebagai’ warisan budaya bangsa, melainkan warisan budaya dunia. Melalui cara ini, nilai ekspor batik akan meningkat. Dengan demikian, semakin besar pula daya serap tenaga kerja di pusat~pusat pengrajin batik di Indonesia.

Dukungan perbankan di sektor kredit modal kerja saat ini mutlak dibutuhkan. Tak hanya dari segi aksesibilitas, melainkan juga “bantuan” dalam hal suku bunga dan persyaratan kredit serta mentoring pengelolaan usaha.

Untuk itu, akan lebih efektif bila perbankan nasional juga memiliki program mentoring sektor usaha kecil menengah. Mengikuti program mentoring sebagai syarat wajib sebelum UKM memperoleh suntikan modal. Makin tinggi nilai ekspor dan penyerapan kredit perbankan nasional, potensi penguatan rupiah akan semakin besar di masa depan. 8emoga!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 23 Oktober 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s