Management Certified Program: Why is it a must?

Indonesia adalah negara terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), baik dari segi jumlah penduduk, produksi sumber daya alam maupun pasar yang dapat digarap. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Indonesia memiliki peran sentral dan strategis di kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian, ‘besar’ dari aspek kuantitas saja tidaklah cukup bagi Indonesia, karena sejak berlakunya AFTA 2010, maka Indonesia perlu memikirkan ulang aspek kualitas sumber daya manusia yang tersedia.

Tantangan berikutnya adalah AEC 2015 dan sejalan dengan Visi ASEAN 2020, dimana Indonesia akan menjadi salah satu negara yang akan mempercepat liberasisasi perdagangan di bidang jasa dan meningkatkan tenaga profesional secara bebas di kawasan Asia Tenggara. Ini berarti bahwa sumber daya manusia Indonesia haruslah sudah mumpuni secara skill dan mentalitas untuk menghadapi tantangan tersebut.

Jika kita amati berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003, Tentang manajemen Pendidikan Nasional, dimana beberapa sasaran yang termaktub di dalamnya adalah memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup dan sikap hidup untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi dan seterusnya.

Dengan demikian ada harapan melalui pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan akan mampu meningkatkan keterampilan sehingga membentuk sumber daya manusia yang profesional. Hal ini sebanding jika kita lihat jumlah Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), di Indonesia berdasarkan data Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan per Januari 2013 terdapat 10.919 LKP.

Sementara itu, berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003, Tentang Ketenagakerjaan, dikatakan bahwa “Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standar kompetensi kerja”.

Pentingnya standar kompetensi ini juga menjadi salah satu tantangan Indonesia, sehingga Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) perlu dibentuk oleh Pemerintah untuk membangun pilar-pilar produktivitas dalam rangka memenuhi tuntutan industri, mengembangkan kompetensi dan sekaligus pengembangan karier profesional SDM di Indonesia.

Bagi Indonesia, sistem pendidikan SDM yang mengacu pada basis kompetensi ini juga merupakan bagian penting untuk mewujudkan kesepakatan antarnegara ASEAN sekaligus membuktikan pada dunia internasional, bahwa kita mampu memproduksi barang dan jasa sesuai standar global dan melalui tenaga terampil yang telah tersertifikasi.

Apalagi jika Indonesia mengharapkan masuknya direct investment dari negara-negara maju yang memiliki standar Internasional yang memiliki daya saing tinggi, serta kita juga ingin dimasukkan ke dalam kelompok negara-negara industri.

Jika hal ini dapat terwujud maka visi ASEAN 2020, bukanlah hanya sekadar isapan jempol belaka, melainkan telah menjadi bagian dari aliran darah dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.

Apa Yang Perlu Kita Persiapkan?

Sejalan dengan cita-cita tersebut, maka baik perusahaan swasta, BUMN maupun Lembaga Pemerintah di Indonesia, seharusnya: (1) menyusun standar kompetensi SDM; (2) menyiapkan SDM yang profesional sesuai tuntutan industri; (3) mengikutkan SDM ke dalam pendidikan dan pelatihan yang berbasis kompetensi; dan (4) menyiapkan dana yang diperlukan untuk mengembangkan SDM.

Untuk menyusun standar kompetensi, perusahaan pada umumnya dapat menyusun sendiri atau membentuk tim internal dengan tugas khusus, dan bisa juga bekerja sama dengan Konsultan Manajemen yang ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan untuk menyiapkan SDM yang profesional, diharapkan perusahaan memiliki staf yang berkemampuan memberikan pendidikan dan pelatihan, baik yang bersifat strategis, manajerial maupun teknis.

Pada kondisi perusahaan yang belum memiliki kapasitas staf pengajar seperti yang dimaksud, maka perusahaan dapat bekerja sama dengan lembaga-Iembaga pendidikan dan pelatihan yang jumlahnya sudah disebut di atas.

Agar SDM yang dididik dan dilatih memiliki keterampilan sesuai dengan tuntutan standar kompetensi, maka perusahaan dapat mengirimkan para talenta yang mereka miliki ke lembaga-lembaga yang sudah diakui oleh asosiasi tenaga ahli atau kelompok perusahaan, atau dapat juga dikatakan sudah tersertifikasi dan diakui secara nasional oleh BNSP.

Terakhir, dalam hal perusahaan harus menyediakan dana, di saat kondisi ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan dengan melemahnya nilai rupiah juga harus disiasati agar tidak mengganggu produktivitas. Namun juga tidak mengurangi aspek strategi jangka panjang di bidang sumber daya manusia, karena SDM merupakan aset penting bagi perusahaan. Artinya perusahaan tidak mungkin memproduksi barang atau jasa tanpa didukung oleh SDM yang mumpuni dan sesuai dengan target yang dikehendaki.

Untuk itu, sudah waktunya, jika perusahaan dan tenaga kerja di Indonesia, bahU-membahu untuk mengembangkan produk dan jasanya serta mengamankan berbagai risiko di bidang SDM dalam menghadapi ASEAN Economic Community 2015 (AEC).

*Tulisan dimuat di Human Capital Journal. No. 27 Tahun III • 15 September-15 Oktober 2013 H. 12-13.

Djoko RebowoDjoko Rebowo
Kepala Divisi Lokakarya Umum
jkr@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s