Bersiap Menghadapi AEC

Tidak sampai 14 bulan lagi, Indonesia akan turut ambil bagian dalam mewujudkan impian ASEAN, yakni menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan memberlakukan AEC.

Komunitas ekonomi di kawasan ASEAN alias ASEAN Economic Community (AEC) telah diinisiasi pembentukannya beberapa tahun silam. Kini, sejumlah negara anggota ASEAN menyiapkan diri sebaik-baiknya.

Alih-alih ingin menjadi lebih baik, lemahnya daya saing ekonomi yang dimiliki satu negara akan dipandang sebagai peluang bagi negara anggota yang lain . Nah, mencermati realitas tersebut, Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) pun tak mau ketinggalan.

Satu hal yang akan membedakan lulusan di tahun ini dengan para sarjana yang lulus pada tahun 2015 dan seterusnya adalah mekanisme kompetisi di dunia kerja dan bisnis. Pada tahun ini, para lulusan sarjana dalam negeri masih bersaing dengan sesama pencari kerja atau pebisnis lokal. Namun pada saat AEC diberlakukan, besar kemungkinan kita harus bersaing dengan para lulusan pendidikan tinggi dari negara-negara sahabat.

“Kami pun harus memiliki daya saing, Pak,” tutur Baskara dengan nada optimistis. Semangat itulah yang sejak beberapa tahun terakhir dikumandangkan di PPM, sekolah yang terletak di depan Tugu Tani ini.

“Saat ini pun kami sudah mulai merasakan gempita AEC Pak. Melalui perdagangan berbasis internet, kami tidak hanya bersaing dengan pemain lokal, tapi juga dengan beberapa pemain dari Malaysia,” tutur Intan.

Sebagai seorang mahasiswa yang tergabung dalam Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM), pemilik Vanilla Hijab ini mulai merasakan kerasnya kompetisi bisnis. Bersama sang adik yang bernama Atina, Intan mulai menjalankan bisnis ini dengan memanfaatkan Jnstagram, sebuah media sosial yang tengah diminati banyak anak muda.

“Di masa awal bisnis, saya pikir memasarkan hijab merupakan hal yang mudah, mengingat tren penggunaan hijab yang sangat tinggi di Indonesia. Kompetisi kreasi hijab bertaraf internasional pun kini berlangsung di Indonesia Pak.Namun, realitas itu pula yang meningkatkan jumlah pemain sangat signifikan. Hampir setiap outlet, modern maupun tradisional, kini menjual hijab sebagai salah satu produk unggulan. Itu sebabnya, saya terpikir menjual hijab ke negara tetangga,” jelas Intan.

Terlihat jelas bagaimana para educated entrepreneur ini mengalami pertumbuhan dalam pola berpikir. Ketika persaingan di satu pasar dirasakan tidak lagi menguntungkan, maka insting bisnis akan mengarahkan mereka untuk mencari pasar yang baru, termasuk mencoba keberuntungan di negeri orang.

Bagi sebagian orang, tentu tidak mudah menawarkan produk ke pasar luar negeri. Namun fakta pemberlakuan AEC, mau tidak mau, telah menciptakan tuntutan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) lokal untuk segera bersiap memasuki pasar global.

“Saya juga bercita-cita untuk mengglobalkan produk fashion kami Pak,” tutur Giska yang berduet dengan Baskara memproduksi tas-tas kulit berkualitas ekspor. Dengan mengusung merek Eugene and Eve, keduanya kini memanfaatkan masa inkubator. Itu merupakan masa mempelajari seluk beluk pengelolaan produksi hingga sisi komersialisasi produk.

Manfaat inkubator

Masa inkubator oleh sebagian kalangan dinilai sebagai tahap tes kedua ·setelah kelayakan produk. Jika fase kelayakan hanya dilakukan untuk menjajaki layak atau tidaknya suatu ide bisnis, maka di fase inkubator; pebisnis mulai terjun di lapangan.

Aktivitas produksi, pengelolaan karyawan hIngga permodalan pun tidak luput dari pembelajaran. Di sinilah mereka benar-benar belajar meracik strategi yang tepat sebelum me-launching bisnis besamya di kemudian hari.

“Kami juga berhasrat untuk menikmati peluang dari pemberlakuan AEC dengan mengekspor hasil budidaya ayam kampung,” tutur Yehuda. “Karena itu, pada masa inkubator ini kami mengasah ketrampilan dalam budidaya ayam kampung dengan target meminimalkan jumlah ternak yang mati. lni komitmen kami dalam dimensi kualitas produk Pak,” imbuh dia.

“Itulah mengapa jumlah ayam yang kini kami budidayakan masih pada angka 1.000-an ekor. Jika tes kali ini sukses, kami akan bermain di kisaran 5.000 ekor ayam, Pak,” ucap Abimanyu, mitra kerja Yehuda dalam pengembangan bisnisnya.

Itulah manfaat inkubator. Ia bisa menjadi fase uji strategi dan teknis di lapangan. Tidak hanya itu, fase ini terbukti mampu meminimalkan kerugian dalam bisnis. Coba tengok Syahri, pemuda berusia 20 tahunan yang kini menyiapkan uji kolam bagi budidaya lele.

“Minggu lalu kolam tengah dialiri air, Pak, untuk menyiapkannya sebelum tebar benih percobaan. Jika sudah dirasa pas, maka baru saya masuk ke tahap budidaya dalam jumlah besar. Nah, selama waktu menanti, saya sudah menjajaki pasar hingga kini sudah ada daftar konsumen yang mau menerima pasokan produk dari kami,” ujar dia.

Kolaborasi para mahasiswa di bidang manajemen tersebut dengan pemain senior ataupun mahasiswa di bidang lain merupakan hal yang patut dipuji. Mereka tak segan-segan belajar dari para ahlinya, mulai dari pertanyaan yang terkesan sederhana hingga yang bersifat strategis.

Sikap semacam itu yang akan menuntun mereka berhasil di masa depan, termasuk dalam menghadapi AEC. Tidak hanya itu, kegigihan mereka untuk senantiasa berbisnis dengan hati juga patut dicontoh.

Bentuk berbisnis dengan hati itu seperti bersikap jujur dalam berbisnis, misalnya dengan mengungkapkan keunggulan dan kekurangan produk mereka apa adanya, hingga ikhlas menolong pebisnis lain yang sedang tak beruntung.

Perilaku itu membawa mereka untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya secara cepat. Ketika dukungan pasar lokal teraih, maka dengan semangat bertumbuh, akan lahir para pemain global dari Pojok Pengkolan Menteng (PPM).

*Tulisan dimuat di Mingguan Bisnis Kontan, 28 Oktober-3 November 2013. H.21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s