Semangat Gotong Royong Ciptakan Inovasi

Mempelajari makna dari gotong-royong bagi orang Indonesia mungkin sudah dianggap sebagai kebiasaan, namun tidak demikian halnya dengan orang asing. Pertanyaan bagaimana mungkin seorang individu dapat melepaskan diri dari keinginan untuk berkompetisi? Bukankah bekerja sama dengan sesama pemain (baca: pesaing) bisa jadi menumpulkan peluang untuk menang dalam kompetisi?

Inilah pemahaman yang banyak digunakan pengelola perusahaan dewasa ini. Ketika sebuah perusahaan mempunyai lebih dari satu unit bisnis strategis, maka kompetisi antar unit pun diinisiasi dengan harapan akan tercapai performa terbaik.

Namun realitas di lapangan sering menunjukkan bahwa model persaingan tersebut malah berdampak negatif pada kinerja. Unit yang mampu menunjukkan kinerja terbaiknya sering memandang remeh unit lain yang mungkin mengalami kerugian. Alhasil istilah unit primadona dan unit penerima subsidi pun kini banyak digunakan.

Meski telah menjadi platform pengelolaan unit strategis, menciptakan semangat kompetisi antar-unit oleh sebagian kalangan dinilai sebagai pemicu cara pandang individualistis. Masing-masing unit hanya akan berpikir apa yang terbaik bagi dirinya. Tak jarang bahkan tercipta praktik yang merugikan unit bisnis lain hanya agar unit bisnisnya mampu meraih prestasi lebih.

Nah, pada penelitian yang dilakukan oleh Center of Innovation and Collaboration (CIC) PPM Manajemen di 2013 atas aktivitas inovasi sejumlah perusahaan lokal pada 2010-2012 menunjukkan bahwa cara pandang individu yang tercipta antar-unit tidak akan mampu membawa perusahaan pada keberhasilan dalam inovasi. Sebaliknya, perusahaan yang secara nyata menunjukkan prestasi inovasi terjadi di dalam entitas bisnis yang menjunjung tinggi kolaborasi antar-unit bisnis strategis.

Berbicara tentang kolaboiasi antar -unit mungkin bukan hal baru bagi kita.  Kearifan lokal yang bersumber dari nilai-nilai leluhur telah mengajarkan arti penting dari gotong royong. Saya teringat akan bagaimana masyarakat sebuah dusun di lokasi kuliah kerja nyata (KKN) ketika menyelesaikan studi sarjana.

Dusun itu bernama Slorok, di wilayah Blitar, Jawa Timur. Semangat gotong royong terlihat jelas ketika penduduk saling bahu membahu merenovasi sebuah bangunan peribadatan. Mereka yang berasal dari keyakinan yang berbeda saling bahu membahu, membuang keringat demi sanak saudaranya beroleh tempat peribadatan yang layak. Meski berbeda, tujuan mereka satu, yakni menjaga kedamaian dan kerukunan di wilayah Slorok. Sungguh sebuah tujuan yang mulia.

Pengalaman tersebut meski terlihat sederhana, namun cukup membekas di dalam hati. Ketika kita bekerja di dalam sebuah perusahaan, semangat saling membantu tanpa melihat perbedaan kepehtingan yang ada merupakah langkah awal kesuksesan perusahaan di masa depan.

Dapat dibayangkan jika bagian penelitian dan pengembangan hanya terfokus pada upaya penyempurnaan kualitas produk, padahal belum tentu produk berkualitas tersebut mampu terserap oleh daya beli pasar. Hampir dapat dipastikan target manajemeri tidak akan dapat tercapai.

Menciptakan budaya gotong royong di dalam perusahaan memang bukan hal yang sederhana, terlebih di era perdagangan bebas seperti saat ini. Inkulturasi budaya yang dibawa oleh setiap karyawan akan mewarnai budaya organisasi yang terbentuk. Namun itu bukan berarti lunturnya budaya asli Indonesia, yakni semangat gotong royong.

Pertama, yang harus diperkuat adalah paradigma kinerja perusahaan secara keseluruhan (integral). Setiap unit bisnis strategis harus mampu memahami peran serta kontribusi yang diharapkan bagi terciptanya kinerja perusahaan secara keseluruhan sehingga cara pandang parsial hendaknya secara perlahan mulai ditinggalkan. Mekanisme ini tentunya bersifat top-down approach.

Keberanian serta ketegasan pimpinan puncak dalam mengarahkan semangat organisasi akan membukakan pintu lebih luas bagi paradigma yang dikenal juga dengan sebutan global optima ini.

Kedua, pada tataran teknis, manajemen harus mampu mendefinisikan persaingan yang harus diikuti perusahaan. Tidak lagi bersaing melawan unit bisnis lain dalam organisasi yang sarna, melainkan saling bersinergi demi terciptanya inovasi yang berdaya saing bagi perusahaan.

Kebijakan rotasi karyawan dari satu unit ke unit yang lain dipercaya efektif dalam menumbuhkan loyalitas selain membentuk pola pikir integrasiantar-unit. Nah melalui cara ini setiap individu akan memahami adanya masalah yang penting untuk segera ditangani. Di situlah ide-ide inovasi muncul.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 29 Oktober 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s