Dari Kompetisi Menjadi Kolaborasi

Jika ditanya hal apa yang harus disiapkan menjelang penerapan ASEAN Economic Community mulai Januari 2015, jawaban yang paling tepat adalah daya saing.

Selang beberapa tahun terakhir, diskusi tentang daya saing industri nasional memang marak terjadi, Mulai daya saing yang bersifat individu (perusahaan) hingga di tingkat nasional.

Satu simpulan yang dapat diambil adalah urgensi bagi perusahaan-perusahaan lokal untuk berinovasi mulai di bidang pemasaran, produk, produksi, maupun organisasi.

Studi yang dilakukan Center of Innovation and Collaboration PPM Manajemen di tahun ini menunjukkan bahwa inovasi umumnya tercipta dari sebuah kolaborasi, mulai kerja sama antar bagian (department) hingga hubungan simbiosis dengan stakeholder.

Nah, satu poin yang menarik untuk didiskusikan adalah adanya temuan bahwa mencantumkan ‘inovasi’ dalam misi atau budaya perusahaan belum menjadi jaminan bahwa manajemen akan berhasil menciptakan prestasi di bidang tersebut.

Dibutuhkan komitmen dan (tak jarang juga) keberanian dari manajemen puncak untuk ‘melepaskan’ diri dari mekanisme pengelolaan perusahaan yang diyakini ‘tepat’ hingga kini. Satu di antaranya adalah menciptakan kompetisi di antara unit-unit bisnis perusahaan.

Beberapa perusahaan domestik kini mulai menyadari bahwa menciptakan ide-ide kreatif melalui kompetisi yang diciptakan di dalam perusahaan bukanlah hal yang ideal. Pola tersebut malah mengarahkan perusahaan pada terciptanya egosentris departemen. Setiap departemen hanya terfokus pada target unitnya tanpa memperhatikan kontribusi yang dapat diberikan kepada kinerja unit yang lain.

Alhasil, sepak terjang satu departemen berpeluang besar ‘menyakiti’ departemen lainnya. Jika kondisi ini dipertahankan dalam jangka panjang, dapatkah perusahaan bertahan? Kini kita dapat memperoleh jawaban yang jelas: tidak.

Merumuskan sebuah daya saing terkhusus dalam hal inovasi mutlak membutuhkan kolaborasi dan integrasi dalam satu perusahaan. Setiap departemen harus memahami kontribusi yang harus diberikan agar perusahaan dapat meraih prestasi terbaik di masa depan.

Cara pandang inilah yang terkadang membutuhkan perubahan budaya kerja di dalam sebuah perusahaan. Dengan dukungan positif dari manajemen puncak, niscaya perubahan tersebut akan dapat berlangsung secara efektif.

Meski bukan hal yang mudah, memperoleh dukungan positif manajemen puncak membutuhkan pekerjaan ekstra, terutama di tingkat pengelola madya. Top management lebih menyukai sebuah bukti nyata dibandingkan hanya sebatas rencana ‘di atas kertas’.

Studi yang dilakukan memberikan bukti bahwa ‘motor’ inovasi di dalam perusahaan adanya di tingkat manajemen. madya. Posisi yang ‘di- huni’ oleh para projesional berusia di bawah 40 tahun ini memang identik dengan ide-ide kreatif

Oleh karenanya, dengan stimulus yang tepat serta restu dari manajemen puncak, niscaya angkatan ini akan sang’at berani mencoba hal~hal baru. Meski belum tentu semuanya berhasil, namun dari langkah kecil ini akan tercipta prestasi besar di bidang inovasi. Beberapa studi bahkan menyimpulkan bahwa inovasi sangat lekat dengan kegagalan. Dari 100 perusahaan yang mencoba berinovasi, hanya satu yang sukses.

Nah merujuk pada realitas tersebut, manajemen perlu mendefinisikan kolaborasi secara tepat. Ukuran kinerja setiap karyawan harus mengarah pada kinerja perusahaan secara keseluruhan dan bukan pada tolok ukur setiap unit bisnis.

Artinya, sangat dimungkinkan sebuah unit harus berkorban agar unit yang lain serta perusahaan secara keseluruhan memperoleh keuntungan. Konsep inilah yang dikenal dengan istilah ‘global optima ‘.

Sepintas mungkin tak ada yang istimewa dengan cara pandang tersebut. Namun bila dicermati dari sisi psikologis, menggunakan tolok ukur kinerja perusahaan secara tak langsung telah memposisikan setiap unit pada posisi yang sama dalam perolehan prestasi.

Tak ada lagi cara pandang unit bisnis penerima subsidi dan unit pencipta keuntungan bagi perusahaan. Semua ada pada posisi revenue generator. Pola inilah yang akhirnya berujung pada penciptaan semangat berkolaborasi demi daya saing di masa mendatang.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 30 Oktober 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s