Managing Uncertainties

Kejutan demi kejutan sepertinya sudah menjadi hal rutin dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan saking seringnya, kejutan sudah menjadi tidak memiliki efek kejut lagi. Baru saja, gonjang-ganjing BBM, tiba-tiba Rupiah meradang, lalu emas bergolak, balik lagi Rupiah menguat, harga karet jatuh, dan seterusnya.

Kita belum tahu ke depan, apa lagi yang akan terjadi dengan cepat. Yang jelas, belum ada sinyal lingkungan akan tenang. Semua perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat akan memberikan dampak ketidakpastian.

Dalam situasi seperti itu, karena semua juga merasakan hal yang sama, maka pemenang persaingan adalah perusahaan yang sukses menyikapi secara cerdas ketidakpastian di sekitarnya. Itu sebabnya pemimpin perusahaan perlu memiliki kemampuan managing uncertainties. Karena semakin besar ketidakpastian, semakin sulit diprediksi, yang berarti juga semakin besar kemungkinan terjadi kesalahan antisipasi yang bisa berdampak pada ketidaksuksesan.

Ketidakpastian dari luar organisasi biasanya terlihat dari lingkungan yang semakin kompleks, dinamis, dan terjadinya kelangkaan sumber daya. Pertama, kompleksitas adalah fungsi dari jumlah dan keterkaitan. Dari segi jumlah, misalnya jika target pasar semakin luas, maka untuk memenuhi kebutuhan pasar, variasi produk juga harus meningkat. Akibatnya pengelolaan organisasi menjadi lebih rumit.

Hal yang sama terjadi jika jumlah vendor meningkat. Situasi akan semakin kompleks kalau terjadi keterkaitan antar faktor penekan. Ketika, rupiah terpuruk, bahan baku impor jadi mahal, sementara BBM  juga naik, akibatnya bahan baku non-impor juga ikut naik, inflasi naik, tuntutan kenaikan gaji juga semakin santer. Jika tekanan memenuhi kebutuhan konsumen, saling terkait dengan tekanan persaingan maka situasi menjadi semakin tidak pasti.

Kedua, lingkungan lebih dinamis terjadi karena faktor kecepatan perubahan. Kemajuan teknologi dan kecepatan informasi menjadi faktor pendorong terbesar semakin cepatnya perubahan. Ketika, pemerintah Amerika diperkirakan akan mencabut stimulus pasar di Amerika, dengan cepat, Dollar panas yang berada di pasar saham Indonesia tersedot keluar, langsung Rupiah terkulai.

Demikian pula sebaliknya, ketika ternyata tidak jadi dicabut, langsung terjadi penguatan Rupiah karena Dollar panas kembali mengalir masuk ke bursa. Demikian pula gejolak ekonomi di Eropa, tidak butuh waktu lama merembet pada gejolak ekonomi di Negara-negara Asia. Ini berarti semakin cepat dampak suatu perubahan, semakin tidak pasti pula lingkungan usaha.

Ketiga adalah kelangkaan sumber daya. Jika semua sumber daya produksi seperti tenaga kerja, bahan baku, energi, mesin dan peralatan tersedia dalam jumlah tidak terbatas, maka pengusaha bisa bekerja dengan tenang, kenyataannya, tidak. Tekanan persaingan yang begitu besar menyebabkan terjadinya rebutan sumber daya.

Manusia berbakat hebat dan kompeten, semakin gencar dikejar, sampai ke program rekrutmen sebelum lulus (early recruitment) dan program management trainee dilakukan oleh hampir semua perusahaan besar yang beroperasi di seluruh dunia.

Demikian pula sumber daya lain. Besi dan batubara terus ditimbun dan dikejar untuk dikuasai. Karena pengusaan sumber daya akan berarti pemastian produksi. Sebaliknya kesulitan sumberdaya berujung pada ketidakpastian berusaha.

Dengan memahami ketiga faktor pemicu ketidakpastian tersebut, pemimpin perusahaan dapat memikirkan langkah-langkah strategis untuk menghadapinya. Itu sebabnya perlu terus dilakukan evaluasi terhadap cara-cara mengelola bisnis yang tercermin pada bisnis model perusahaan.

Pertama, cermat dalam memilih target pasar. Mengurangi variasi segmen pasar akan mengurangi variasi produk dan menyederhanakan proses bisnis. Namun bila tidak terelakkan, maka dukungan teknologi informasi harus dipersiapkan untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan.

Ketepatan membaca arah perubahan dan kecepatan inovasi juga sangat membantu dalam menghadapi ketidakpastian. Kata orang bijak, cara paling mudah memperkirakan perubahan adalah dengan menjadi perancang dan sumber dari perubahan itu sendiri.

Kedua, mempersiapkan sumber daya manusia secara sistimatis dan terencana dalam suatu program pengembangan yang dimulai dari penelusuran talenta terbaik, penempatan, pengembangan, dan mempertahankannya dengan sistem remunerasi dan manajemen kinerja. Hasilnya akan terbentuk manusia andal yang siap menghadapi ketidakpastian. Perlu diingat bahwa manusia adalah sumber daya yang paling fleksibel dan paling cepat beradaptasi.

Terakhir adalah membangun kerja sama. Berbagai pola-pola kerja sama dapat dipilih dan diterapkan seperti aliansi strategis, joint venture, merger, akuisi, kontrak jangka panjang, menjadi pemilik minoritas di perusahaan mitra (di Jepang disebut dengan Keiretsu), waralaba, dan sebagainya.

Kerja sama bisa dilakukan dengan rekan dalam jaringan supply-chain (dengan pemasok dan distributor), atau bahkan dengan perusahaan pesaing. Kekuatan kerja sama dapat menyiasati ketidakpastiaan karena kelangkaan sumber daya.

Ketidakpastian adalah sumber dari meningkatnya biaya produksi dan biaya transaksi. Itu sebabnya, efektif dalam menghadapi ketidakpastian akan menekan biaya, yang selanjutnya akan meningkatkan daya saing.

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 75 Tahun VII Oktober 2013. H. 74.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D. Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s