Competitiveness

“Visi perusahaan kami adalah menjadi perusahaan terbaik di Asia dalam industri bla bla bla. Demikian tertuang dalam visi di beberapa perusahaan. Optimisme seperti ini sangat baik karena dapat memotivasi seluruh pemangku kepentingan. Jika tidak tercapai sepenuhnya, setidaknya jika sudah mendekati sukses pun sudah luar biasa!

Namun sayangnya, banyak perusahaan yang tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk mewujudkannya. Seharusnya, ketika mencanangkan
menjadi yang terbaik di Asia, maka sebaiknya telah terbayang siapa pemain terbaik di sektor tersebut yang harus ditaklukkan. lnilah prinsip dasar dalam berkompetisi, jika ingin menjadi nomor satu, maka carilah lawan terbaik untuk dikalahkan!

Menjadi yang terbaik, kuncinya adalah memiliki kompetensi unggul. Kompetensi unggul yang pertama adalah penguasaan sumber daya spesifik, yakni sumber daya fungsional yang merupakan kumpulan keterampilan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan di level fungsional, dan sumber daya organisasional, yaitu kompetensi yang dimiliki oleh para pemimpin tertinggi di perusahaan dalam membuat arahan visi dan strategi.
Continue reading

Memahami Sisi lokal Budaya Perusahaan Domestik

Pada beberapa studi tentang kepemilikan perusahaan-perusahaan di Indonesia ditemukan dua fakta yang cukup menarik untuk dicermati. Pertama, bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan tersebut ternyata lahir dari sebuah bisnis keluarga. Sedangkan yang kedua adalah bahwa dalam perkembangannya, setelah mereka beranak-pinak maka budaya pengelolaan yang dibangun pun sangat kental dengan nilai-nilai yang dianut pemilik utamanya.

Tak ayal, kearifan lokal, seperti budaya ewuh-pakewuh, gotong-royong serta musyawarah mufakat kini mewarnai mekanisme manajemen yang ada. Ketika perusahaan telah menjelma menjadi kelompok usaha global dan bahkan dikelola oleh para ekspatriat, budaya lokal masih terus mewarnai. Mungkinkah ini suatu daya saing dalam menghadapi ASEAN Economic Community di 2015 mendatang?

Dalam diskusi hangat dengan kolega dari Tilburg University (Belanda) tentang arah kelola bisnis keluarga, ditemukan fakta bahwa untuk menghadapi persaingan global tak jarang perusahaan yang kini telah menjadi pemain internasional harus kembali pada kekuatan utama nilai-nilai keluarga yang mendominasi kepemilikan.
Continue reading

Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

Pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dunia, seperti semakin perlunya menghemat energi, mendaur ulang sumber daya, mencegah polusi, penduduk yang semakin tua dan berkurang (sebagai contoh, Eropa dan Jepang), semakin meningkatnya persaingan dunia dan semakin pentingnya penetapan nilai sosial (Pearce, CL.; Marciariello, JA; Yamawaki, H., 2010). Kondisi ini berakibat pada semakin meningkatnya persaingan dalam negeri dan semakin mahalnya kebutuhan untuk hidup.

Menyikapi ini semua, apa yang harus dilakukan? Sebagai pelaku usaha, terjadinya pelemahan rupiah bisa mendatangkan peluang atau ancaman. Kondisi meningkatnya persaingan bisa memaksa terjadinya kreativitas untuk menciptakan inovasi mulai dari inovasi produk, proses bahkan merubah model bisnis.

Hal ini diperkuat dengan berubahnya kondisi permintaan (kebutuhan pasar, kebutuhan sosial, peraturan dan standar) yang perlu diadaptasi untuk bisa survive dan bisnis tetap jalan.  Untuk bisa berinovasi, pebisnis sudah mulai melakukan inovasi akan sumber daya manusia berbakat yang inovatif, kreatif dan berjiwa kewirausahaan. Selain itu, tidak pelit dalam berinvestasi untuk merekrut tenaga kerja berpendidikan dan menyediakan infrastruktur ilmiah dan teknologi.
Continue reading

Logika Baru Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Logika baru dibutuhkan untuk menyikapi perubahan, sebuah logika yang bercirikan fleksibilitas, pengelolaan organisasi yang lebih baik, memperbesar keterlibatan individu, hubungan yang lebih lateral, dan kepemimpinan yang baik

Tergesernya IBM sebagai perusahaan nomor satu di industri software maupun hardware oleh Dell, Compaq, Intel, dan Microsoft adalah fenomena yang sering diceritakan di sekolah-sekolah bisnis. Demikian pula halnya dengan terpuruknya Sears akibat kalah saing dengan Land’s End, L.L.Bean, dan Eddie Bauer.

Semua peristiwa itu terjadi di Amerika. Pun ketika negeri ini dilanda krisis ekonomi, banyak imperium-imperium bisnis di Indonesia mengalami keruntuhan. Namun ketika ekonomi bergerak pulih, walaupun dengan luar biasa lambatnya, perusahaan-perusahaan itu (ternyata) tak jua kunjung bangkit. Apa penyebabnya?
Continue reading

Bisnis pun Bisa Latah

Maraknya bisnis waralaba dewasa ini disebut-sebut sebagai dampak positif dari kelatahan dalam industri domestik. Tidak ada yang salah, memang,
dengan realitas tersebut. Namun, tidak selamanya latah mendatangkan keuntungan dalam jangka menengah. Artinya jika Anda termasuk pebisnis yang sangat memperhatikan stabilitas untuk jangka panjang, maka turut latah dalam konsep bisnis merupakan hal yang harus dihindari.

Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana awal tahun 2000-an marak berdiri bisnis factory outlet. Bisnis yang berbasis pada produk fashion ini mengawali debutnya dengan menjual produk-produk besutan produsen ternama dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun kini, factory outlet malah berkembang menjadi semacam toko rabat. Alhasil konsumen yang dulunya cukup bangga saat berbelanja di FO (demikian nama populer bagi factory outlet), kini mulai meninggalkan toko semacam itu.
Continue reading

Antara UMK, UKM, dan Sistem Penggajian

Pada 21 November 2011, Gubernur Jawa Barat merevisi dan menetapkan UMK (Upah Minimum Kabupaten) Jawa Barat dan Banten 2012, diantaranya adalah keanikan UMK untuk kabupaten Bekasi menjadi Rp 1.491.866 yang ternyata adalah UMK tertinggi di jawa barat.  keputusan ini digugat oleh Apindo Bekasi melalui surat gugatan yang dilayangkan ke PTUN Bandung tanggal 20 Desember 2011, karena dinilai melanggar kesepakatan semula, yakni Rp 1.356.242.

Pada 26 Januari 2012 PTUN Bandung memenangkan gugatan Apindo terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait UMK 2012, dan Pemprov Jabar mengupayakan banding . Pada keesokan harinya 27 Januari 2012 ribuan buruh memadati ruas jalan di kawasan industri Cikarang Kabupaten Bekasi mengakibatkan kemacetan jalan Tol selama 8 jam, tercatat kemacetan hingga sepanjang 21 km.

Walaupun pada akhirnya diperoleh kata sepakat setelah tak kurang presiden SBY sendiri memerintahkan Menakertrans mendorong komunikasi aktif dengan buruh, ditindaklanjuti dengan rapat koordinasi  yang dipimpin Menko Perekonomian melibatkan 15 menteri dan 16 Gubernur membahas masalah buruh dan tumpang tindih lahan, serta Menakertrans memfasilitasi mediasi antara Apindo dengan serikat buruh.
Continue reading

Structural Dimension of The Technology in Manufacturing Organization: An Exploratory Study

Abstract
Daft (83) states that organizational dimensions falls into two types: structure and context. Technology as contextual dimensions is important because it describes the organizational setting and influences the structural dimensions. Robbins (89) explains that studies assessing the relationship between technology and structure looked at only manufacturing organizations supported relationship in the work unit level or at the operating core.

Robbins (89), Daft (83) and Hall (83) mention that structural dimension pertain to internal characteristics of organization. From the 18 propositions developed, 15 propositions indicate that the technology dimension may influence the structural dimensions.

The more uncertain (Thompson (67)), nonroutine (Perrow (67)), innovative (Robbins (89)), fast the rates of change of product or market (Cooper (86), Miles & Snow), and high level of technology (Slevin, Covin (87), Keen (81)) are, the lower complexity (Robbins (89), Daft (83)), formalization (Robbins (89), Daft (83)) and centralization (Robbins (89), Daft (83) and Hall (83)) the structural dimension of the organization will be.

The less uncertain, nonroutine, innovative, slow the rates of change of product or market, low level of technology are, the higher complexity, formalization and centralization the structural dimension of the organization will be. The only three propositions, these are the levels of the technology complexity (Woodward (65)) may not correlate linearly with the structural dimension of the organization.
Continue reading

Hitam Putih Kenaikan BI Rate

Pro kontra setelah keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,5% memang menarik untuk dicermati. Terlepas dari alasan kuat BI mengambil keputusan tersebut, namun seperti pepatah ‘buah simalakama’, skema pahit ini pun harus ditanggung oleh semua pihak.

Ketika BI rate meningkat, secara otomatis kalangan perbankan berpeluang untuk menaikkan suku bunga depositonya. Hal ini diprediksi mampu menyedot dana segar di masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa dalam nominal tertentu deposito tergolong ‘aman’, investor yang memiliki ekses likuiditas akan melirik simpanan sebagai media investasi jangka menengah.

Namun perbankan yang berlomba-lomba menaikkan suku bunga simpanannya ternyata tidak selalu mendatangkan keuntungan. Dalam beberapa kasus bahkan berpeluang menciptakan ekses likuiditas tinggi. Ketika bank tak mampu mengalirkan dalam bentuk kredit, keputusan itu akan berubah jadi ancaman terbesar. Inilah sisi hitam pertama kenaikan BI rate.
Continue reading

Menumbuhkan Semangat Kolaborasi

Studi yang dilakukan Centre of Innovation and Collaboration PPM Manajemen baru-baru ini menemukan bahwa kunci sukses dalam inovasi bersumber dari kolaborasi antar unit strategis.

Temuan ini sekaligus mematahkan mitos yang mengatakan bahwa keberhasilan inovasi tergantung pada kekuatan intelektualitas yang dimiliki. Perusahaan hanya perlu menciptakan harmonisasi langkah diantara segenap anggotanya agar kebijakan yang diambil benar-benar terfokus pada target utama.

Kolaborasi dimaknai bukan hanya sebatas kerja sama, namun lebih kepada sebuah mekanisme kerja yang memungkinkan terciptanya sebuah sinergi. Satu hal yang menarik dicermati adalah bahwa sinergi kerap tercipta saat masing-masing unit yang ada di dalam perusahaan melepaskan ego individualismenya untuk saling membantu dalam meningkatkan performa secara menyeluruh.
Continue reading

Esensi Kepatuhan di Fase Awal Bisnis

Riset menunjukkan bahwa salah satu penghambat kemajuan usaha di fase awal adalah ketakutan pebisnis untuk menjadi besar. Sekilas, hasil penelitian itu mungkin terdengar aneh. Namun apabila dicermati lebih lanjut,  kesimpulan penelitian itu tidak keliru.

Seorang pebisnis akan tidur lebih nyenyak ketika ia hanya memiliki satu kantor saja. Ketika ia mendirikan kantor cabang yang baru, barulah si pengusaha memasuki masa di mana bisnisnya menuntut perhatian lebih. Dalam situasi itu, tak jarang, si pebisnis harus mengorbankan waktu istirahatnya. Nah, bagaimana cara yang tepat untuk mengantisipasi kondisi ini?

Dua jawaban yang relevan saat ini adalah: pertama, si pebisnis memberanikan diri untuk mendelegasikan wewenang kepada orang lain. Tentu, orang yang dipilih adalah mereka yang bisa dipereaya alias tangan kanan.
Continue reading