Stabil Emosi

Kalau akhir-akhir ini kita dilanda demam Vickynisasi dengan “labil ekonomi”nya, maka stabil emosi–atau istilah sebenarnya adalah stabilitas emosi–sangat tidak asing dalam dunia Psikologi.

Beberapa perusahaan  yang pernah ditangani oleh Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen dalam proses seleksi karyawan, sering menitipkan pesan bahwa mencari karyawan yang pintar secara akademik adalah perlu, namun mencari karyawan yang pandai mengelola emosinya adalah mutlak. Pesan ini bila ditarik maknanya adalah banyak perusahaan yang merasa bahwa kepandaian seseorang dalam mengelola emosi jauh lebih penting dibanding kepintaran secara keilmuan.

Di masyarakat awam, emosi acapkali disamakan dengan marah. Emosi bukanlah marah, marah hanyalah salah satu bentuk emosi. Emosi adalah perasaan yang bisa meliputi perasaan marah, sedih, senang, benci, bangga, kecewa, dan lain sebagainya.

Sering kita melihat fenomena orang-orang yang tidak mampu mengelola emosinya dengan baik. Hanya karena tersenggol bahunya oleh orang lain yang sedang terburu-buru, kemudian memaki-maki dan balas memukul. Atau saat kehabisan tiket pertunjukan kemudian bersikap anarkis dan membakar loket tiket. Betapa luapan emosi yang dilakukan sangat tidak sebanding dengan penyebab kejadiannya.

Kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dikenal sebagai stabilitas emosi. Stabilitas yang dimaksud adalah reaksi individu, baik secara emosi maupun fisik, dapat diprediksi dan tidak mengejutkan. Individu yang memiliki stabilitas emosi yang baik adalah individu yang mampu memahami apa yang sedang ia rasakan dan mengekspresikannya secara tepat.

Sebaliknya, individu yang rendah stabilitas emosinya digambarkan sebagai individu yang sulit untuk menemukenali apa yang sebenarnya ia rasakan, dan melampiaskan perasaannya dengan cara yang destruktif, sering meninggalkan luka bagi orang di sekitarnya dan berakhir pada keadaan yang tidak nyaman pada dirinya sendiri.

Stabilitas emosi merujuk pada konsep kecerdasan emosional, yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Goleman sebenarnya bukanlah tokoh yang pertama kali memperkenalkan konsep kecerdasan emosional, namun melalui Goleman-lah konsep ini mendunia pada tahun 1995.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukannya, Goleman menemukan bahwa untuk menjadi pemimpin dan karyawan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh aspek inteligensi, ketangguhan, dan visi, namun lebih dari itu dibutuhkan sebuah kecerdasan emosi yang meliputi self-awareness, self-regulation, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial.

Aspek-aspek  ini mungkin kedengarannya unbusinesslike, namun ternyata jika digali lebih lanjut sangat terkait dengan keberhasilan seseorang di dunia kerja.

  1. Self-awareness. Ini adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai, kebutuhan, dan tujuannya, serta dampaknya bagi lingkungan di sekitarnya. Seseorang yang memiliki self-awareness  yang tinggi tercermin dari kepercayaan diri yang baik dan penilaian diri yang realistis, tidak merasa dirinya rendah dan sebaliknya tidak merasa sebagai orang yang paling hebat.
  2. Self-regulation. Aspek ini berbicara mengenai kemampuan mengendalikan dorongan atau perasaan yang menggangggu, serta beradaptasi dengan perubahan. Individu dengan self-regulation yang baik akan senantiasa berpikir sebelum bertindak, tidak impulsif. Mereka terbuka terhadap perubahan, tidak keberatan dengan ambiguitas.
  3. Motivasi. Mungkin aspek ini tidak asing lagi bagi kita. Ini adalah dorongan untuk mencapai tujuan. Individu yang memiliki motivasi tinggi, memiliki hasrat untuk bekerja yang bukan sekedar  untuk uang atau status. Mereka  cenderung untuk persisten mencapai tujuan dan senantiasa optimis.
  4. Empati.  Yang dimaksud di sini adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Lebih dari itu, empati juga mencerminkan kemampuan untuk dapat memperlakukan orang lain sesuai dengan reaksi emosi mereka. Individu dengan empati yang tinggi, senantiasa berupaya memahami apa yang dirasakan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
  5. Ketrampilan sosial. Sebagai mahluk sosial, sangatlah dibutuhkan kemampuan untuk mengelola hubungan dengan orang lain, kemampuan untuk membina hubungan baik dengan orang lain. Seseorang dengan ketrampilan sosial yang buruk tidak merasa penting untuk menjaga hubungan baik dengan lingkungannya.

Kelima aspek kecerdasan emosi ini sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang, tidak hanya bagi kualitas relasinya dengan orang lain, namun juga untuk kesehatan fisik dan mental, serta unjuk kerja di pekerjaan.

Bisa kita bayangkan apabila seseorang tidak memiliki lima aspek di atas dalam kadar yang cukup baik, maka tentunya tidak akan menjadi sosok yang menyenangkan untuk diajak berteman dan bekerja sama bukan?

Lantas bagaimana cara meningkatkan kecerdasan emosi? Cara yang harus ditempuh tentunya tidaklah mudah dan singkat, namun dengan upaya yang sungguh-sungguh tentu akan membuahkan hasil. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan emosi:

  1.  Jujur pada diri sendiri dan kenali diri sendiri. Jangan malu mengakui kelemahan dan sadar betul apa kekuatan diri. Gunakan kekuatan diri Anda untuk meningkatkan kualitas kecerdasan emosi Anda.
  2. Kenali apa saja yang menjadi penyebab stres pada diri Anda. Kemudian pelajari cara untuk mengelola stres tersebut.
  3. Bersikap terbuka dan senantiasa berpikir positif. Jangan terpengaruh pada reaksi orang lain terhadap aksi Anda, namun lihatlah pesan di balik reaksi tersebut.
  4. Meluangkan waktu untuk memahami orang-orang di sekeliling Anda. Setiap orang berasal dari latar belakang yang bervariasi sehingga mereka juga memiliki cara pikir dan perilaku yang berbeda. Dengan memahami orang lain, anda akan lebih bijaksana.
  5. Tingkatkan rasa humor pada diri Anda. Humor dan tawa adalah antidotes bagi kesulitan hidup dan mengurangi ketegangan dalam diri.
  6. Hindari selalu berargumen untuk segala hal, karena berargumentasi sangat menguras energi, pilihlah mana hal yang perlu diargumentasikan dan mana yang tidak.
  7. Berorientasi pada masa kini dan akan datang, maafkan kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu dan hindari mengungkit-ungkit masa lalu.
  8. Mensyukuri apa yang kita miliki. Rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, akan tetapi belum tentu senyaman yang kita miliki. Hitunglah nikmat yang telah kita peroleh daripada menghitung apa yang tidak kita peroleh.

Dengan melatih diri Anda untuk melakukan langkah-langkah di atas, Anda akan membuat kondisi emosi Anda senantiasa stabil. Anda akan memperoleh sebuah kondisi bahagia yang akan menggiring Anda ke sebuah kesuksesan di seluruh aspek kehidupan Anda.  Selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kecerdasan emosi. Mari menjadi insan yang pintar secara kognitif dan emosi.

Maharsi AnindyajatiMaharsi Anindyajati. Staf profesional PPM Manajemen
NMA@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s