Kunci Sukses Berlabel Kolaborasi

Jika ditanya “Apa yang perIu disiapkan pemain domestik dalam menghadapi ASEAN Economic Community?” maka jawaban yang paling tepat adalah, “pasar” bagi produk-produk lokal. Meski terkesan sederhana, namun menciptakan pasar bagi produk-produk dalam negeri bukan perkara yang mudah.

Ketika kualitas menjadi taruhan, maka produsen lokal akan berupaya meramu bahan baku berkualitas tinggi serta mengolahnya menjadi produk berkualitas ekspor. Namun hal itu secara otomatis menuntut biaya yang cukup tinggi hingga sangat dimungkinkan terjadi kenaikan harga.

Pertanyaannya, apakah dalam kondisi tersebut konsumen lokal masih mau membeli produk dalam negeri? Sebab, di sisi lain, produk impor ditawarkan dengan harga yang jauh lebih rendah.

Logika ekonomi akan mengarahkan konsumen ke produk impor. Apalagi,
kecenderungan di pasar domestik dewasa ini, beberapa produk masih sensitif terhadap perubahan harga. Nah untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pekerjaan rumah pemain lokal kini telah menanti.

Satu cara yang dapat dilakukan adalah membangun loyalitas pasar sejak dini. Ketika pasar sudah menjadi loyal dengan satu merek produk, maka ia akan sulit berpindah ke merek lain. Studi menunjukkan bahwa loyalitas terhadap merek akan terbangun ketika kinerja produk berhasil merebut hati, tak hanya dalam tataran benak konsumen. “Jadi inikah alasan mengapa kita sejak dini harus berbisnis dengan HATI Pak?,” tanya Intan Kusuma Fauzia, pemilik Vanilla Hijab, satu online store yang menjual pemak-pemik hijab.

Dimensi H dalam konsep berbisnis dengan HATI adalah Harapan. Konsep ini berupaya menghubungkan antara harapan konsumen dengan pebisnis, sebuah cara pandang yang mulai ditinggalkan saat ini. Literatur manajemen saat ini cenderung hanya mengarahkan pebisnis untuk menjawab harapan konsumen. Padahal di sisi lain, pebisnis juga mempunyai harapan. Nah proses menghubungkan kedua harapan tersebut adalah melalui komunikasi yang efektif.

Pebisnis harus mampu “berbicara” ke konsumennya mengenai kinerja produk yang ditawarkan. Bagi sebagian orang, langkah itu dipandang sebagai satu upaya promosi. Namun sebenamya tak hanya itu. Berbicara dengan calon konsumen ketika ia sedang mencermati produk, sebenarnya, merupakan jalinan awal hubungan antara kedua pihak.

Bukan soal apabila di kemudian hari si calon konsumen batal menggunakan produk kita. Sebab, di titik itulah kolaborasi terjalin. Meski tak jadi membeli di saat pertama, besar kemungkinan ia akan merekomendasikan produk Anda ke koleganya. Nah apabila saat itu tiba, loyalitas pasar pun mulai terbangun.

“Menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan konsumen memang sulit. Tapi saya melihat di situ terjadi efek personalisasi Pak,” tutur Alica Febriyanti, pemilik salon Poespa di Harapan Indah, Bekasi.

lea, demikian sapaan mahasiswi jurusan Sarjana Manajemen Bisnis ini, mengungkapkan bahwa efektivitas personalisasi yang muncul dari sapaan pemilik ke konsumen sangat mempengaruhi pembelian berulang di masa depan.

“Pertanyaan saya cukup sederhana, seperti di mana mereka tinggal, lalu darimana mereka tahu lokasi salon karena di hari-hari tertentu cukup banyak konsumen datang dari daerah yang cukup jauh dari lokasi kami,” imbuh dia.

Menjadi sahabat

Anda mungkin bertanya-tanya apa yang dimaksud sistem pemasaran berbasis HAT!. Ya, sistem ini mengangkat tema yang cukup unik mengubah konsumen jadi sahabat. “Pola bisnis yang kami geluti, dengan komunikasi yang efektif temyata mampu menambah jumlah sahabat ya Pak,” ungkap Intan. “Dari mereka pula, akhimya saya bisa memahami harapan pasar yang sesungguhnya itu apa. Dan, bagaimana opini mereka yang obyektif terhadap produk kami,” imbuhnya.

“Tutur kata dan kesaksian sahabat kan lebih jujur dari sekadar konsumen yang ‘beli putus,” ujar Intan. Ungkapan itu sangatlah tepat. Terkadang menghubungkan ‘H’ harapan antara pebisnis dengan konsumen terjadi jika di antara keduanya tercipta semangat saling meng-Apresiasi, dimensi A dari konsep HAT!.

Hal yang ditunggu bukanlah apresiasi bisnis yang selama ini banyak dilakukan orang, apresiasi semu yang dilakukan hanya untuk menyenangkan hati. Namun apresiasi dari ‘hati’, sebuah ungkapan jujur akan kinerja pebisnis dan entitasnya secara keseluruhan.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa uang tak dapat menciptakan persahabatan. Namun kami sudah membuktikan bahwa melalui bisnis yang dijalankan kita sebenarnya berpeluang untuk membantu banyak pihak Pak. Mulai dari merekrut mereka untuk membantu menjalankan operasional usaha, hingga menolong konsumen menemukan produk yang benar-benar dibutuhkan dan bukan sekadar di tataran keinginan,” jelas Intan.

Inilah konsep yang banyak dilupakan pebisnis. Tak jarang mereka turut mengarahkan konsumen untuk memuaskan sesuatu yang hanya di level keinginan dan bukan benar-benar kebutuhannya. Transaksi memang terjadi, namun belum tentu sang konsumen melakukan pembelian ulang di kemudian hari. Di situ, kolaborasi tidak terjadi.

Beberapa kesaksian di atas menunjukkan arti penting kolaborasi dalam bisnis masa kini. Ketika pebisnis mampu mengelola hubungan yang ada dengan lebih efektif, bukan hal yang mustahil jika konsumen dengan ikhlas menjadi duta (baca: ambassador) bagi produk-produk lokal. Loyalitas seperti ini yang dibutuhkan Indonesia, saat ini.

*Tulisan dimuat di Mingguan Bisnis Kontan, 4 November -10 November 2013. H. 21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s