Dari Buruh Menjadi Mitra Strategis

ruwatan buruh pengusahaHubungan industrial di tanah air kini kembali ‘berduka’. Ketidaksepakatan upah minimum provinsi di 2014 antara pekerja dengan pengelola perusahaan terjadi karena adanya perbedaan perhitungan Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Perusahaan yakin KHL di Daerah Khusus Ibukota Jakarta berada di level Rp 2.299.860 sedangkan versi buruh adalah Rp 3.767.320 per bulan. Tak ayal, demonstrasi menjadi pilihan terakhir dalam menyampaikan aspirasi.

Bicara tentang upah memang takkan pernah usai. Namun jika tidak segera ditemukan solusinya, Indonesia tak akan pernah siap untuk menghadapi persaingan ASEAN Economic Community di 2015. Sebab, ketika hubungan industrial di suatu negara ‘bermasalah’, kecenderungan investor hengkang cukup tinggi. Situasi ini tak hanya berdampak negatif dalam jangka pendek, namun justru menarik mundur daya saing beberapa langkah sekaligus.

Meski problematika ini tergolong klasik, namun akan bijaksana bila kita belajar dari kasus senada yang terjadi di Korea Selatan. Negeri yang dikenal dengan ginsengnya ini ditempa oleh sejumlah kasus politik yang berujung pada instabilitas di ekonomi. Perseteruan dengan negara tetangganya (Korea Utara) secara tak langsung merupakan pembelajaran terbaik untuk bangkit dari keterpurukan.

Kuncinya hanya satu: menjadikan semangat kolaborasi sebagai dasar pembentukan paradigma bersama. Korsel telah membuktikan bahwa melalui cara pandang hubungan industrial yang tepat, sinergi antara buruh dan pengelola dapat terjadi.

Satu paradigma yang perlu dicermati adalah bagaimana produsen di negara penghasil ginseng memberanikan diri menciptakan kolaborasi dengan segenap karyawan di setiap level manajerial. Semangat untuk memperbaiki kesejahteraan merupakan titik temu kedua belah pihak. Titik itu pulalah yang seharusnya menjadi perenungan kita.

Di satu sisi, perusahaan membutuhkan karyawan (termasuk buruh) untuk memperoleh masukan ekonomi. Di lain sisi, karyawan membutuhkan perusahaan sebagai tempat untuk mencari nafkah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki hubungan simbiosis rnutualisme (hubungan yang saling menguntungkan).

Cukup miris memang melihat adanya perbedaan definisi ‘ekonomi’ yang diusung oleh kedua belah pihak: Perusahaan menilai perlu menciptakan produktivitas tinggi sebagai hasil dialogis ekonomi, di sisi lain karyawan merasakan ketidakseimbangan antara kewajiban yang telah dipenuhi dengan hak-hak yang diterima.

Satu poin yang hilang sehingga timbul perbedaan cara pandang adalah pemahaman bahwa buruh adalah mitra kerja perusahaan. Artinya, agar perusahaan dapat tumbuh, pengembangan kapabilitas buruh menjadi prasyarat utama. Pada kondisi ini, redefinisi hubungan industrial mutlak wajib tercipta.

Menggagas kemitraan antara perusahaan dengan buruh di Indonesia memang sukses dalam tataran konsep, namun belum di tataran praktis. Manajemen masih memandang buruh sebagai sumber daya atau aset sehingga pola yang tercipta sangatlah transaksional.

Di sejumlah penelitian, pola ini teridentijikasi tidak mampu meraih loyalitas karyawan. Memandang buruh sebagai ‘mitra’ berarti menitikberatkan strategi pengembangan perusahaan pada kemampuan tenaga kerja, mulai peningkatan keahlian hingga kejelasan jenjang karier bagi setiap individu sehingga pola transaksional serta merta akan berubah menjadi pola sinergis yang ejektif. Kondisi ini dipercaya mampu menumbuhkan loyalitas di dalam diri karyawan.

Terakhir, kemitraan juga berbicara tentang apresiasi bagi karyawan. Penggunaan istilah ‘buruh’ hendakhya diubah menjadi ‘anggota’ perusahaan. Dalam semangat ini, kontribusi tiap anggota mutlak dibutuhkan perusahaan. Nah, poin inilah yang perlu mendapat apresiasi lebih dari manajemen.

Penghargaan non finansial, seperti penghargaan bagi karyawan berprestasi atau program peningkatan kesrjahteraan keluarga karyawan lewat pemanfaatan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan merupakan bentuk apresiasi yang dapat membina hubungan industrial jangka panjang.

Inilah sebenarnya pendekatan alternatif yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan karyawan. Semoga artikel ini dapat menjadi perenungan berbagai pihak demi hari esok yang lebih baik.

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 6 November 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s