Bisnis yang Humanis

Mana yang lebih ideal: berbisnis dengan sahabat atau memperoleh sahabat melalui bisnis? Jika Anda memilih yang pertama, yaitu berbisnis dengan sahabat, jangan melupakan kenyataan yang terjadi, pada akhir-akhir ini: banyak persahabatan rusak akibat campur tangan uang di antara idealisme yang dikembangkan.

Namun jika Anda memandang konsep kedua yang lebih ideal: memperoleh sahabat dari berbisnis, maka tantangan yang akan Anda hadapi adalah bagaimana menempatkan keadilan (fairness) ketika berbisnis dengan sang sahabat.

“Di satu sisi saya bahagia, Pak, karena melalui bisnis yang ada, saya jadi mengenal lebih banyak kawan. Beberapa di antaranya pun kini lebih intens berhubungan, sehingga cukup banyak pertimbangan bisnis yang saya peroleh dari mereka,” tutur Yehuda Ardhito, seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM), yang juga mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis (SMB) angkatan ke-6.

Pemilik peternakan ayam kampung ini mengungkapkan bahwa menekuni bisnis ternyata menunjukkan berbagai makna kehidupan. Satu di antaranya adalah penerapan prinsip saling menolong. “Dahulu saya hanya memahami konsep menolong pada tataran retorika. Namun kini saya jadi paham betul apa artinya menolong,” uiar dia. Semangat semacam itu yang secara konsisten ditumbuhkan di Sekolah Tinggi Manajemen PPM yang berlokasi di depan Patung Tani Menteng, Jakarta Pusat.

Logika yang dibangunpun cukup sederhana. Kuretko, seorang pakar kewirausahaan dunia, mengungkapkan bahwa menempatkan setiap strategi bisnis dalam dimensi praktis berarti menempatkan manusia pada posisi asasinya.

Saya yakin konsep itulah yang berhasil menempatkan sejumlah perusahaan besar sebagai produsen yang “humanis.” Hal tersebut tak hanya. diterapkan dalam tingkatan produk, melainkan juga dalam proses, organisasional hingga kegiatan pemasaran.

“Kami menjadi sadar bahwa berbisnis bukan hanya soal mencari keuntungan, melainkan menerapkan nilai-nilai menolong,” ujar Asfialdi, pebisnis properti dengan proyek besar “perumahan untuk buruh” di daerah Karawang.

“Sebagai contoh, paradigma yang saya gunakan untuk mengelola proyek ini adalah “menolong” segenap pihak (mulai dari pekerja bangunan, pebisnis bahan bangunan, masyarakat sekitar hingga calon konsumen) untuk memperoleh kebutuhannya secara adil dan proporsional,” imbuh Asfialdi.

Media promosi

Sungguh suatu cara pandang yang patut diapresiasi. Betapa tidak, ketika seorang pebisnis menempatkan manusia, apa pun posisinya, sebagai pihak yang wajib ditolong, maka seketika itu dialektika nilai luhur dan keputusan bisnis tercipta.

Mempekerjakan karyawan tidak hanya berarti memberi pekerjaan kepada seseorang saja, tetapi juga menolongnya dalam segi ekonomi. Dengan semangat semacam itu, pebisnis tidak akan memandang karyawan sebelah mata.

Pemanfaatan tenaga secara optimal akan dibarengi dengan peningkatan kemampuan dan keahlian si karyawan. Bukan mustahil jika suatu hari nanti seorang kuli batu ‘akan naik pangkat menjadi mandor, atau supervisor bangunan.

Semangat yang sama juga terjadi di sisi konsumen. Pemasaran sudah tidak lagi dipahami sebagai langkah untuk melakukan persuasi pada calon pembeli agar berkenan menjatuhkan pilihan pada produknya, melainkan membantu konsumen menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Jika tidak jadi membeli, mungkin bukari produk saya yang menjadi kebutuhannya Pak. Satu yang terpenting adalah saya telah membantu mengarahkan konsumen untuk menemulan produk terbaik sebagai solusi atas kebutuhannya,” kata Asfialdi.

Inilah yang disebut pola pemasaran yang “humanis”. Ia tidak menjebak konsumen, melainkan menemani konsumen dalam memperoleh jawaban atas kebutuhannya. Tidak mudah memang menggunakan paradigma ini dalam praktek keseharian.

Apalagi, jika seorang tenaga pemasaran dilengkapi dengan target penjualan yang cukup tinggi setiap bulan. Namun. setidaknya, kesaksian Asfialdi dan rekan-rekan Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) dapat memberikan gambaran tentang praktik bisnis yang sangat tepat bagi Indonesia.

Satu alasan argumentatif yang dapat dijelaskan di sini adalah beberapa hasil studi menunjukkan minimnya kolaborasi antara pengelola perusahaan, alias manajemen, dengan karyawan dan konsumennya.

Mereka cenderung memberi perhatian sebagai cerminan “eksploitasi” yang telah dilakukan. Jadi, kacamata yang digunakan bersifat sangat transaksional. Paradigma yang sama digunakan oleh karyawan dan konsumen. Sejak awal hubungan, mereka sudah memahami bahwa kebaikan yang ditunjukkan perusahaan hanya bersifat sementara.

Setelah pembelian terjadi, di beberapa kasus, terlihat bahwa jalinan penjual-pembeli terputus secara perlahan. Nah, dengan demikian dapat dilihat adanya kekosongan potensi jasa yang dapat diberikan oleh pemain lokal. Di situlah kehadiran pebisnis dengan konsep humanis mutlak dibutuhkan.

Dengan memperlakukan konsumen secara adil mulai dari tahap pengenalan produk, pada dasarnya, perusahaan sedang berinvestasi pada dimensi loyalitas sang konsumen. Jadi, ketika di akhir fase disimpulkan bahwa produk kita belum tepat berfungsi sebagai jawaban atas kebutuhan konsumen, maka “bantuan” yang telah kita berikan akan disampaikan kepada konsumen lainnya.

Melalui mekanisme word of mouth, atau yang dikenal dengan promosi dari mulut ke mulut, seorang konsumen akan berfungsi sebagai media promosi yang hidup untuk perusahaan. Tak ayal, bahkan di banyak kasus dapat ditemui duta-duta produk yang sebenarnya bukan pelanggan produk tersebut. Mereka menjadi duta karena melihat nilai-nilai yang dibangun oleh perusahaan.

“Kami yakin bahwa menjunjung nilai-nilai humanis dalam berbisnis merupakan investasi emas bagi perjalanan bisnis di masa depan,” kata Asfialdi sembari menutup forum diskusi siang itu.

*Tulisan dimuat di mingguan bisnis Kontan, 11 November – 17 November 2013 . H. 21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s