Governance dari Kacamata Kearifan Lokal

Maraknya aksi korupsi yang melanda kehidupan sosial politik bangsa dewasa ini mengingatkan kita akan arti pentingnya good governance (tata kelola yang baik). Meski selama ini dunia mengenalnya dari sudut pandang good corporate governance (GCG), namun sejatinya esensi kepatuhan mutlak wajib menjadi dasar kehidupan dalam berbagai dimensi, termasuk konteks berbangsa dan bernegara.

Ketika suatu negara dipandang sebagai organisasi maka mekanisme tata kelola berbasis kepatuhan pada arahan besar (visi dan misi bangsa) merupakan modal kepercayaan dan legitimasi rakyat.

Dalam konteks perusahaan, good corporate governance dipahami sebagai sebuah mekanisme yang mampu menjembatani perbedaan kepentingan antara pengelola (baca: manajemen) dengan pemilik perusahaan. Menemukan persamaan cara pandang di antara perbedaan yang ada menjadi fundamental dari sebuah tata kelola yang baik.

Sebagai contoh ketika pemilik perusahaan menginginkan suatu praktik bisnis yang santun dan beretika, maka seruan untuk menolak kehadiran korupsi, kolusi dan nepotisme sering dipandang sebagai titik kesepakatan aturan main di antara kedua belah pihak.

Di satu sisi manajernen akan memahami betul nilai-nilai yang diemban, di sisi lain pemilik perusahaan dapat memastikan bahwa keuntungan yang didapat berasal dari praktik bisnis yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

Meski konsep ini hadir di era 80-an, namun sejatinya makna kepatuhan telah lama dipahami oleh Bangsa kita. Saya teringat salah satu pepatah Jawa nrimaing pandum. Sebuah ajaran kehidupan yang mengajak kita untuk menjaga sikap kejujuran, keikhlasan, giat dalam bekerja dengan mematikan keinginan untuk mencari keuntungan sendiri.

Melalui semangat tersebut, seseorang akan senantiasa mensyukuri setiap hasil dari usaha yang telah dikerjakannya. Alhasil dengan pemaknaan ini maka keinginan individu untuk memperoleh keuntungan lebih dari usaha yang tidak etis secara otomatis akan sirna. Pertanyaannya kini adalah bagaimana mengupayakan semangat tersebut dalam era persaingan bebas dewasa ini?

Pertama, manajemen perlu mendefinisikan ulang bentuk apresiasi atas hasil kerja karyawarn. Asas keadilan untuk apresiasi yang bersifat finansial merupakan hal yang patut dicermati secara bijaksana. Memang sulit untuk memenuhi setiap tuntutan yang ada, untuk itulah penghargaan yang bersifat nonfinansial mutlak dibutuhkan.

Aksi penolakan sebagian kalangan atas penetapan upah minimum provinsi untuk 2014 menunjukkan tingginya sensitivitas apresiasi upah di Indonesia. Dengan demikian, kedua belah pihak perlu melihat kembali ranah apresiasi yang perlu diupayakan seperti pemenuhan kebutuhan dalam hal pendidikan, kesehatan atau bidang lainnya. Memperhatikan kesejahteraan keluarga karyawan merupakan hal yang lebih besar dari nilai upah secara harfiah.

Kedua, mengupayakan prinsip nrima ingpandum mutlak membutuhkan internalisasi budaya perusahaan. Kolaborasi antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan karyawan merupakan syarat bagi diterimanya cara pandang ini, Manajemen perlu meredefinisi kaidah karyawan dari sumber daya menjadi mitra strategis perusahaan.

Nah dalam konteks inilah memandang kebutuhan karyawan untuk bertumbuh dan berkembang menjadi warna baru dalam hubungan industrial Tanah Air. Karyawan tidak akan semata-mata memandang bekerja sebagai langkah mencari penghidupan yang layak, melainkan upaya untuk menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik.

Tak hanya itu, cara tersebut terbukti mampu membangun kesamaan misi dan cara pandang atas hal-hal yang menjadi tujuan perusahaan sehingga tanpa disadari akan muncul kepatuhan pada setiap hal yang telah disepakati bexsama. Inilah esensi dari sebuah corporate governance ala Indonesia, di mana kepatuhan muncul tidak melalui mekanisme yang formal legalitas melainkan panggilan hati nurani bersendikan nilai-nilai luhur bangsa. Sudahkah kita patuh pada nilai-nilai yang ada?

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 12 November 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s