Menanti Aksi Heroik Pasar

Pekan lalu, rupiah kembali diperdagangkan melemah lebih dari Rp 11.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Tak berhenti di situ, minggu ini, rupiah diprediksikan masih bergerak di kisaran yang sama. Spontan banyak kalangan kini mulai ‘mengaitkan’ fenomena tersebut dengan publikasi terkait penurunan daya tarik investasi di Indonesia.

Di sisi lain studi menunjukkan kenaikan angka pengangguran pada usia produktif menjadi 7,39 juta jiwa. Angka ini diprediksi akan terus naik bila belum ditemukan stimulus yang ideal bagi industri. Inikah dampak perlambatan ekonomi yang tengah terjadi? Sebab, jika tak segera diantisipasi, kondisi ini akan memperlemah daya saing lokal dalam menghadapi persaingan internasional era ASEAN Economic Community (AEC).

Ketika era perdagangan bebas diamini sebagai suatu kewajiban, pada dasarnya kesejahteraan masyarakat pulalah yang menjadi sasaran utama. Oleh karenanya, bukan hal yang berlebihan jika kini Indonesia. menanti aksi heroik pasar, khususnya pasar lokal.

Kebijakan (wisdom) setiap pelaku ekonomi domestik kini tengah ‘diuji’. Keberanian pemain untuk tetap berkomitmen menyejahterakan masyarakat di atas kepentingan individu perusahaan merupakan kunci awal kemenangan dalam ujian ini. Selanjutnya, kolaboras antara pemain juga akan menjadi kunci kemenangan berikutnya.

Jika ditelusuri lebih lanjut, masing-masing permasalahan yang kini mendera diyakini bersifat sistemik. Jadi, bukan hanya masalah bagaimana memperkuat nilai tukar rupiah, melainkan hal yang lebih penting lainnya adalah bagaimana memulihkan optimisme pasar dalam menatap hari esok.

Saat ini, pasar terkesan masih ‘ragu’ akan potensi pertumbuhan ekonomi negara ini ke depan. Beberapa indikasinya adalah mulai prediksi dampak pesta demokrasi di tahun depan hingga ‘tumpang tindih’ kebijakan yang mewarnai gerak ekonomi dalam negeri. Padahal di sisi lain, realitas sosial menunjukkan bahwa Indonesia menyimpan berjuta kekayaan alam yang mampu menjawab kebutuhan dunia.

Lalu bagaimana aksi heroik itu tercipta? Meski sulit mengurai akar permasalahannya, namun satu yang pasti adalah saat ini cukup mendesak untuk menempatkan faktor-jaktor produksi lokal sebagai tuan rumah di negaranya sendiri.

Kini, sudah menjadi rahasia publik bahwa kemampuan Indonesia dalam mengolah bahan mentah hasil eksplorasi alam nusantara untuk menjadi bahan baku industri masih sangat lemah. Sebagian kalangan menelisik, penyebab utamanya ada pada perhatian pemerintah di sektor hulu. Tetapi, sebagian lagi ada yang memandang bahwa kendala utamanya terletak pada faktor permodalan.

Terlepas dari benar tidaknya temuan penalaran tersebut, satu hal yang pasti adalah bahwa Indonesia perlu memikirkan cara untuk menciptakan kolaborasi di taraf nasional, terutama dengan .sesama pelaku ekonomi lokal.

Upaya menjunjung tinggi kepentingan bangsa hendaknya menjadi fundamental kegiatan ini. Dengan begitu, dengan misi dan visi yang sama, setiap pemain dapat menentukan bentuk kontribusi yang nyata bagi langkah tersebut.

Di satu sisi, pemerintah perlu merumuskan bentuk-bentuk proteksi industri dalam negeri secara lebih strategis. Di sisi lain, kolaborasi antara perusahaan, baik BUMN-BUMD dengan pihak swasta maupun pendidikan tinggi, harus diupayakan dengan lebih cepat. Selanjutnya, ketika kolaborasi dapat berjalan dengan efektif, peningkatan aktivitas produksi dalam negeri dapat terjadi. Ini berarti, semakin besar pula potensi penyerapan tenaga kerja.

Hasil akhirnya pun sudah dapat ditebak. Ketika permintaan output produksi dalam negeri meningkat, maka di situlah sebenarnya peningkatan kesejahteraan masyarakat tercipta. Melalui cara ini, produk-produk lokal akan beroleh tempat di nusantara.

Semakin masif gerakan ini, semakin besar pula peluang Indonesia untuk memperkuat daya saing di pasar internasional. Tak hanya itu, semangat heroik duta-duta produk lokal di pasar global akan semakin menjadikan produk dalam negeri sebagai primadona pasar internasional. Di titik inilah rupiah berpeluang besar menjadi salah satu alat tukar global yang turut diperhitungkan. Siapkah kita menciptakan aksi heroik tersebut? Sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 13 November 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s