Esensi Kepatuhan di Fase Awal Bisnis

Riset menunjukkan bahwa salah satu penghambat kemajuan usaha di fase awal adalah ketakutan pebisnis untuk menjadi besar. Sekilas, hasil penelitian itu mungkin terdengar aneh. Namun apabila dicermati lebih lanjut,  kesimpulan penelitian itu tidak keliru.

Seorang pebisnis akan tidur lebih nyenyak ketika ia hanya memiliki satu kantor saja. Ketika ia mendirikan kantor cabang yang baru, barulah si pengusaha memasuki masa di mana bisnisnya menuntut perhatian lebih. Dalam situasi itu, tak jarang, si pebisnis harus mengorbankan waktu istirahatnya. Nah, bagaimana cara yang tepat untuk mengantisipasi kondisi ini?

Dua jawaban yang relevan saat ini adalah: pertama, si pebisnis memberanikan diri untuk mendelegasikan wewenang kepada orang lain. Tentu, orang yang dipilih adalah mereka yang bisa dipereaya alias tangan kanan.

Kedua, menciptakan budaya memiliki usaha di kalangan karyawan. “Bukankah sulit menciptakan kedua hal tersebut Pak?” ucap Baskara Mahendra, pemilik merek Eugene and Eves yang bergerak di bidang fashion berbahan kulit.

Bagi saya, ini merupakan pertanyaan yang lazim terungkap, tidak hanya dalam tataran praktis, melainkan juga secara teori. Satu cara untuk meneapai kedua hal tersebut adalah menggagas perlunya tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance-GCG) sejak awal bisnis dijalankan.

Secara konseptual, GCG muncul dari tuntutan pemegang saham atas hadirnya sebuah mekanisme pengelolaan perusahaan yang dapat menciptakan tidur malam yang nyenyak bagi kedua belah pihak.

Di satu sisi, si pemilik bisnis tidak lagi khawatir kalau-kalau manajemen, atau pihak yang mengelola perusahaan, menyusun kebijakan yang hanya menguntungkan satu pihak. Di sisi lain, manajemen lebih tenang dalam mengemban kepercayaan yang diberikan pemegang saham.

Belajar Dibayar

Pengertian dan sikap saling memahami antar kedua belah pihak merupakan kunci efektivitas penerapan GCG. “Sebenarnya apa yang menjadi kunci good governance Pak?,” tanya Asfialdi, salah seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) yang masih berstatus mahasiswa program studi Sarjana Manajemen Bisnis.

Meski terkesan sederhana, namun pertanyaan tersebut menuntut jawaban yang sangat filosofis. Good corporate governance berdasar pada konsep kepatuhan: patuh pada setiap hal yang telah diamanatkan oleh para founding father atau pendiri usaha.

Di sinilah, kepatuhan kedua belah pihak diperlukan, tidak hanya dari sisi pengelola bisnis. Pemilik bisnis pun dituntut untuk patuh pada aturan main yang telah disepakati.

Contohnya adalah memandang karyawan sebagai mitra perusahaan. Pada tahap awal bisnis, kehadiran karyawan ‘ lengkap dengan berbagai ide yang inovatif sangat mutlak dibutuhkan pebisnis. Itulah mengapa ada begitu banyak bisnis baru yang dibuka dengan cara mengajak karyawan yang telah berpengalaman dalam bisnis sejenis menjadi mitra.

Besar kemungkinan pola ini dapat diterapkan pada semua tim kerja karyawan. “Apa bedanya memandang karyawan sebagai sumber daya dan mitra?” tanya Yehuda, pemilik usaha budi daya ayam kampung.

Memandang karyawan sebagai mitra berarti kita memposisikan mereka sebagai pribadi yang berhak untuk bertumbuh. Nah di sinilah pemahaman berbisnis dengan HATI dapat mulai diterapkan.

Pertama, hendaknya terdapat paradigma bahwa bekerja dalam bisnis kita bukan hahya untuk mencari uang, tetapi juga untuk menambah pengalaman serta memperkuat keahlian. Saya bahkan sering menggunakan konsep bekerja sebagai belajar yang dibayar. Melalui cara pandang semacam itu, hasrat seorang karyawan untuk bertumbuh muncul.

Kedua, adanya keikhlasan jika suatu hari nanti, salah seorang karyawan tangan kanan Anda mengundurkan diri untuk membuka usaha yang sejenis. “Bukankah itu berarti kita menciptakan pesaing Pak?” tanya Baskara.

Benar, pertanyaan Baskara itu termasuk opini yang dapat dikategorikan alamiah. Namun, tidak demikian halnya dengan prinsip berbisnis dengan hati. Ketika seorang tangan kanan kita menjadi pesaing, secara tidak langsung berarti kita telah berhasil mendayagunakan bisnis sebagai sarana pembelajaran bagi terciptanya wirausahawan Indonesia di masa depan.

Tak hanya itu, survei di Eropa menunjukkan bahwa pola tersebut mampu menciptakan loyalitas dalam dimensi yang baru. Loyalitas yang dulunya dipahami sebagai bentuk perhatian karyawan kepada perusahaan, kini menjadi loyalitas seorang pebisnis terhadap pebisnis lainnya. Alhasil, pola ini turut mewamai persaingan dalam industri.

Persaingan akan tergantikan dengan kolaborasi yang sinergis di antara pemain. Ketika jumlah pemain bertambah banyak, maka di situ tercipta pasar yang baru. Peningkatan jumlah konsumen akan sangat berpotensi terjadi.

Tengoklah bagaimana asal muasal pasar tradisional terbentuk. Dari aktivitas satu pedagang yang berhasil mendatangkan pelanggan, maka peluang meraup laba mulai diendus pedagang lain. Alhasil, ketika semakin banyak pedagang yang membuka usahanya di satu lokasi, maka tempat itu akan identik dengan pemenuhan kebutuhan sang konsumen. Tak ayal pada fase selanjutnya, lokasi akan bertumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi. Itulah esensi kepatuhan yang mendasari good corporate governance versi usaha kecil menengah.

Kini, tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana mengkomunikasikan kepatuhan itu ke setiap anggota perusahaan. Targetnya satu, agar semangat yang sama mampu menciptakan tata kelola Esensi Kepatuhan di Fase Awal Bisnis yang baik seturut garis arahan yang telah disepakati.

*Tulisan dimuat di mingguan bisnis Kontan, 18 November – 24 November 2013, H. 21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s