Hitam Putih Kenaikan BI Rate

Pro kontra setelah keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,5% memang menarik untuk dicermati. Terlepas dari alasan kuat BI mengambil keputusan tersebut, namun seperti pepatah ‘buah simalakama’, skema pahit ini pun harus ditanggung oleh semua pihak.

Ketika BI rate meningkat, secara otomatis kalangan perbankan berpeluang untuk menaikkan suku bunga depositonya. Hal ini diprediksi mampu menyedot dana segar di masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa dalam nominal tertentu deposito tergolong ‘aman’, investor yang memiliki ekses likuiditas akan melirik simpanan sebagai media investasi jangka menengah.

Namun perbankan yang berlomba-lomba menaikkan suku bunga simpanannya ternyata tidak selalu mendatangkan keuntungan. Dalam beberapa kasus bahkan berpeluang menciptakan ekses likuiditas tinggi. Ketika bank tak mampu mengalirkan dalam bentuk kredit, keputusan itu akan berubah jadi ancaman terbesar. Inilah sisi hitam pertama kenaikan BI rate.

Dalam konteks spread (jarak) antara suku bunga kredit dan simpanan (deposito), kenaikan suku bunga acuan juga secara otomatis berdampak pada suku bunga pinjaman. Di negara-negara dengan spread  ‘tipis’, sundulan dari kenaikan bunga acuan cukup mengancam perekonomian nasional, apalagi bagi negara-negara dengan spread ‘jauh’ seperti Indonesia.

Sebagai contoh, dalam skema normal, ketika suku bunga acuan berada di level 7%, kredit pemilikan rumah berada di level 13%. Artinya, terdapat spread 6%. Selanjutnya jika bunga acuan menjadi 7,5%, itu berarti bunga kredit, khususnya perumahan, menjadi 13,5%.

Secara matematis tak ada masalah, namun pada tataran ekonomi, pertanyaannya adalah seberapa banyak konsumen yang mau dan mampu meminjam dana lewat KPR dengan bunga sebesar itu?

Jawabannya cukup sederhana. Sebagian konsumen akan menunda pembelian rumah, sebagian lagi mengalihkan investasinya pada sektor lain. Tak hanya itu, potensi kredit macet juga akan meningkat. Alhasil, kenaikan BI rate kali ini diprediksi memberi dampak negatif pada perkembangan sektor properti di tanah air. Inilah sisi hitam kenaikan bunga acuan berikutnya.

Merujuk pada realitas tersebut, manajemen pasti berpandangan bahwa apa pun yang terjadi, roda operasional perusahaan harus tetap berjalan normal. Sisi putih pertama dari kenaikan BI rate adalah sundulan pada kupon obligasi perusahaan.

Jika kita menggunakan konsep tingkat imbal hasil yang diharapkan investor, besaran kupon obligasi merupakan kombinasi positif antara suku bunga acuan, tingkat risiko, serta premi atas risiko bisnis perusahaan. Artinya, peluang perusahaan memperoleh suntikan dana jangka panjang melalui surat utang (obligasi) sangat besar.

Dengan pengelolaan likuiditas serta pemanfaatan dana hasil penerbitan obligasi secara efektif, langkah ini akan meningkatkan potensi kemampuan mendatangkan laba serta creditworthiness perusahaan. Bila ini yang terjadi, pemain domestik dapat menciptakan pusaran aliran dana internasional.

Meski untuk meraih prestasi tersebut bukanlah hal yang mudah, mengingat bayang-bayang kenaikan biaya akan semakin menghantui, namun kondisi itu diprediksi mampu menyejukkan iklim investasi dalam jangka pendek sehingga, kini permasalahannya ada pada bagaimana para pemain domestik terus berupaya memperbaiki kinerjanya agar aliran dana masuk benar-benar mengobati likuiditas perusahaan dalam jangka menengah.

Salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi masa-masa ini adalah kemampuan perusahaan untuk menciptakan efisiensi secara optimal, baik melalui implementasi tatakelola yang tepat maupun dalam mengelola risiko. Semakin kecil risiko yang dihadapi, makin kecil pulalah premi yang harus ditanggung.

Karenanya, mekanisme ini akan berdampak pada penurunan nilai ekspektasi tingkat imbal hasil dari sisi investor. Artinya bila di titik akhir perusahaan mampu menunjukkan komitmennya untuk memberikan keuntungan di atas ekspektasi pasar, di situlah loyalitas investor terbangun. Tak hanya itu, perusahaan juga akan beroleh opini positif dari pasar. Inilah sisi putih lainnya.

Kini masihkah kita memandang pada sisi hitam saja’ atau segera berupaya untuk memanfaatkan sisi putih secara optimal?

*Tulisan dimuat di Harian Kontan, 20 November 2013. h.15

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s