Bisnis pun Bisa Latah

Maraknya bisnis waralaba dewasa ini disebut-sebut sebagai dampak positif dari kelatahan dalam industri domestik. Tidak ada yang salah, memang,
dengan realitas tersebut. Namun, tidak selamanya latah mendatangkan keuntungan dalam jangka menengah. Artinya jika Anda termasuk pebisnis yang sangat memperhatikan stabilitas untuk jangka panjang, maka turut latah dalam konsep bisnis merupakan hal yang harus dihindari.

Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana awal tahun 2000-an marak berdiri bisnis factory outlet. Bisnis yang berbasis pada produk fashion ini mengawali debutnya dengan menjual produk-produk besutan produsen ternama dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun kini, factory outlet malah berkembang menjadi semacam toko rabat. Alhasil konsumen yang dulunya cukup bangga saat berbelanja di FO (demikian nama populer bagi factory outlet), kini mulai meninggalkan toko semacam itu.

Selanjutnya, konsep toko distro yang berkembang di kota-kota besar di Indonesia. Dengan mengusung tema private label produksi anak-anak negeri, kehadiran sejumlah distro mendapat respons positif dari pasar. Tak hanya itu, bagi kalangan tertentu, belanja di distro kini menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Seiring dengan distro, peningkatan jumlah pengguna internet di Tanah Air khususnya pada generasi ‘Y’ telah memicu pola perdagangan melalui situs atau instagram. Melalui media tersebut pebisnis malah diuntungkan karena mendapat sejumlah kemudahan dalam mengoperasikan kegiatan usahanya.

Mereka tak harus memiliki toko secara fisik, cukup membuka penawaran melalui situs internet (website) atau memanfaatkan situs media sosial secara optimal. Ketika permintaan tiba, maka di situlah transaksi terjadi. Kemudahan itulah yang memicu maraknya bisnis dengan pola sejenis dewasa ini.

Fenomena latah di dunia bisnis memang bukan hal yang baru. Sangat manusiawi jika pebisnis memanfaatkan naluri wirausahanya untuk mengendus potensi memperoleh keuntungan. Namun bila hanya sekadar ikut-ikutan, latah dalam dunia bisnis modern bisa berdampak negatif terhadap identitas usaha secara umum.

“Sebenarnya faktor apa yang membuat usaha kecil menengah (UKM) mampu bertahan lama Pak?” tanya Intan, seorang anggota ‘Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) sekaligus pemilik bisnis dengan bendera Vanilla Hijab. Secara teori, jawaban atas pertanyaan itu cukup sederhana: kemampuan berinovasi. “Berarti latah dalam bisnis itu boleh dilakukan, ya, Pak?” Intan bertanya lebih lanjut.

Bila kita mencermati realitas tersebut, secara kontekstual tidak ada yang salah dengan berlaku latah. Mengikuti tren yang tengah terjadi sama artinya dengan masuk ke pasar yang telah terbentuk. Satu keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan hal itu adalah pebisnis tidak perlu bersusah payah mengedukasi pasar hanya untuk memposisikan produknya sebagai sebuah kebutuhan, dan bukan sekadar keinginan.

Strategi ATM

Sebagai bahan refleksi, kita dapat menggunakan riwayat bagaimana IBM dan Apple berupaya untuk mempelopori produksi sekaligus penggunaan komputer sebagai alat bantu kerja di tahun-tahun awal dekade 80-an.

Mereka tidak hanya menunjukkan kehebatan produk, melainkan juga mendidik calon konsumen untuk melihat dampak positif yang diberikan komputer dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Sekali, ide terbeli dan terbukti, komputer kini menjelma menjadi satu kebutuhan sekunder manusia.

“Tapi yang ingin saya pertajam adalah mengapa sebagian besar fenomena latah di bisnis berujung ke langkah copy paste ya, Pak? Bahkan, bukan hanya dalam tataran produk, nama suatu usaha yang populer pun kini bisa dipelesetkan. Etiskah pola tersebut?” ungkap Intan kesal.

Inilah fenomena yang lazim ditemukan pada level usaha kecil menengah. Alih-alih mendapatkan keuntungan, tidak jarang pebisnis melakukan potong kompas untuk meniru bisnis yang sudah mapan. Prinsip amati, tiru dan modifikasi, alias ATM, kini sering digunakan untuk membuka bisnis baru.

Tidak ada yang salah dengan konsep tersebut, selama M yang berarti modifikasi dijalankan, karena modifikasi berarti inovasi. Apa yang menjadi kekurangan bisnis mapan dijawab sebagai kelebihan bisnis baru. Di situlah nilai-nilai etika ditegakkan. Sebaliknya, jika bisnis hanya dijalankan sebatas meniru bisnis lain yang mapan, maka realitas di lapangan menunjukkan bahwa bisnis yang baru itu tidak akan bertahan lama.

Di fase awal, mereka mampu meraup pangsa pasar yang telah dimiliki sang bisnis mapan. Apalagi, jika produk atau jasa yang sama dijual dengan harga atau tarif yang jauh lebih rendah. Namun, percayalah bahwa setiap bisnis memiliki nilai unik yang tidak mudah ditiru oleh pemain lain. Jika pebisnis tetap konsisten menjaga nilai-nilai tersebut, bukan mustahil pelanggan yang telah berpaling pun, suatu saat akan kembali menjadi konsumen Anda
yang setia.

“Benar juga ya, Pak, rezeki kan sudah ada yang mengatur,” tutur Intan lirih. Inilah semangat yang dipupuk di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Menteng, Jakarta Pusat. Melihat sisi positif dari kejadian negatif sebenamya merupakan pemicu semangat pebisnis muda dalam mengawali langkahnya menuju pucak kesuksesan. “Hitung-hitung membuat produk saya dikenal orang juga ya Pak,” jelas Intan sembari mendapat anggukan dari sejumlah sahabatnya.

Itulah konsep lanjutan dari berbisnis dengan HATI yang ditanamkan di sekolah manajemen tersebut. Ketika kita benar-benar memahami bahwa berbisnis dengan HATI, selaras dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para stakeholder, maka fenomena latah dalam dunia bisnis akan dipandang sebagai suatu berkah.

*Tulisan dimuat di mingguan bisnis Kontan, 25 November-1 Desember 2013. H.21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s