Rupiah Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

Pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dunia, seperti semakin perlunya menghemat energi, mendaur ulang sumber daya, mencegah polusi, penduduk yang semakin tua dan berkurang (sebagai contoh, Eropa dan Jepang), semakin meningkatnya persaingan dunia dan semakin pentingnya penetapan nilai sosial (Pearce, CL.; Marciariello, JA; Yamawaki, H., 2010). Kondisi ini berakibat pada semakin meningkatnya persaingan dalam negeri dan semakin mahalnya kebutuhan untuk hidup.

Menyikapi ini semua, apa yang harus dilakukan? Sebagai pelaku usaha, terjadinya pelemahan rupiah bisa mendatangkan peluang atau ancaman. Kondisi meningkatnya persaingan bisa memaksa terjadinya kreativitas untuk menciptakan inovasi mulai dari inovasi produk, proses bahkan merubah model bisnis.

Hal ini diperkuat dengan berubahnya kondisi permintaan (kebutuhan pasar, kebutuhan sosial, peraturan dan standar) yang perlu diadaptasi untuk bisa survive dan bisnis tetap jalan.  Untuk bisa berinovasi, pebisnis sudah mulai melakukan inovasi akan sumber daya manusia berbakat yang inovatif, kreatif dan berjiwa kewirausahaan. Selain itu, tidak pelit dalam berinvestasi untuk merekrut tenaga kerja berpendidikan dan menyediakan infrastruktur ilmiah dan teknologi.

Segi hubungan dengan pelanggan perlu juga dibina, agar tetap bisa senang membeli produk/jasa yang kita jual dan akhirnya mendatangkan cash flow sebagai pelanggan loyal. Merekrut pelanggan baru akan mendatangkan banyak biaya daripada mempertahankan pelanggan lama.

Untuk bisa tetap menarik, pelaku bisnis harus pandai-pandainya menciptakan nilai tambah bagi pelanggan melalui inovasi yang dilakukan (Ward, K. 2004). Penciptaan nilai tambah memberikan tambahan manfaat lebih banyak bagi pelanggan daripada biaya yang harus dikeluarkannya.

Pelaku bisnis perlu jeli memberikan nilai tambah dan pembinaan hubungan di setiap siklus produknya.  Riset yang dihasilkan oleh Cooper, R. G. ( 2011) berhasil menetapkan salah satu penggerak keberhasilan sebuah produk bisa memenangkan persaingan adalah mampu menciptakan produk yang memiliki keunikan superior, artinya produk tersebut memiliki manfaat dan nilai tambah bagi pelanggan yang tidak dimiliki pesaing sejenis.

Bagaimana dengan keluarga atau perorangan menghadapi pelemahan nilai rupiah ini? Bisa peluang, kalau memiki tabungan USD banyak dan siap melakukan investasi. Namun, keadaan sebaliknya bisa terjadi, bila tidak memiliki tabungan USD dan tabungan Rupiah juga tidak banyak, sering terjadi ‘besar pasak daripada tiang’, artinya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.

Untuk menyiasatinya perlu melakukan beberapa strategi. Pertama, mengubah gaya hidup, didefinisikan sebagai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sebuah keluarga yang memiliki konsekuensi atau dampak langsung dengan besarnya pengeluaran bulanan (Pratomo, E.P., 2012). Gaya hidup mahal, pamer diri serta memilki hobi menggesek kartu kredit akan berakibat meningkatkan pengeluaran dari bulan ke bulan tanpa disadari dan kewalahan membayarnya karena pendapatan tak cukup.

Selain mengubah gaya hidup, perlu meninjau kembali sehat/tidaknya keuangan kita. Tidak bisa menabung secara rutin setiap bulannya, tidak bisa mencicil utang, tidak mampu membayar tagihan kartu kredit dan tidak memiliki perencanaan dan persiapan finansial untuk kebutuhan masa depan, merupakan tanda-tanda tidak sehatnya keuangan (Pratomo, E.P., 2012).

Memang orang cenderung akan tergoda untuk melakukan pemenuhan keinginannya yang timbul tiada henti melalui utang, entah melalui kartu kredit atau sistim kredit lainnya, tanpa menyadari tidak cukupnya pemasukan keuangan untuk membayarnya. Belum lagi, pengaruh kota besar, yang menyajikan berbagai produk/jasa menggiurkan sehingga tergoda membelinya.

Memasuki akhir tahun, perlu rasanya melakukan evaluasi kembali, baik sebagai pelaku bisnis maupun keluarga/perorangan akan tindakan-tindakan yang sudah dilakukan selama tahun 2013. Apakah melemahnya rupiah selama ini sudah diantisipasi dengan baik?

Perlu melakukan berbagai upaya untuk memasuki tahun 2013 agar kondisi keuangan semakin sehat dan mencerdaskan kita untuk mengelola keuangan. Upaya awal yang perlu dilakukan, belajar hidup lebih hemat dan mulai menabung. Meninggalkan gaya hidup hedonis yang membengkakan pengeluaran.

Belajar hidup hemat artinya mencukup kebutuhan dan keinginan dengan wajar sesuai kemampuan keuangan yang dimiliki. Misalnya, memilih transportasi, beralih ke jenis umum yang lebih murah dengan mengurangi kenyamanan diri. Berbelanja perlengkapan diri, tidak harus mahal apalagi produk ‘branded’ dan tidak perlu pamer diri. Kalau perlu, melakukan reformasi keuangan untuk menjadi lebih baik di tahun mendatang. Semoga!

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, 27 November 2013. H. 15

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Coordinator RC-CCH at PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s