Memahami Sisi lokal Budaya Perusahaan Domestik

Pada beberapa studi tentang kepemilikan perusahaan-perusahaan di Indonesia ditemukan dua fakta yang cukup menarik untuk dicermati. Pertama, bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan tersebut ternyata lahir dari sebuah bisnis keluarga. Sedangkan yang kedua adalah bahwa dalam perkembangannya, setelah mereka beranak-pinak maka budaya pengelolaan yang dibangun pun sangat kental dengan nilai-nilai yang dianut pemilik utamanya.

Tak ayal, kearifan lokal, seperti budaya ewuh-pakewuh, gotong-royong serta musyawarah mufakat kini mewarnai mekanisme manajemen yang ada. Ketika perusahaan telah menjelma menjadi kelompok usaha global dan bahkan dikelola oleh para ekspatriat, budaya lokal masih terus mewarnai. Mungkinkah ini suatu daya saing dalam menghadapi ASEAN Economic Community di 2015 mendatang?

Dalam diskusi hangat dengan kolega dari Tilburg University (Belanda) tentang arah kelola bisnis keluarga, ditemukan fakta bahwa untuk menghadapi persaingan global tak jarang perusahaan yang kini telah menjadi pemain internasional harus kembali pada kekuatan utama nilai-nilai keluarga yang mendominasi kepemilikan.

Istilah pulang kampung kerap kali ditujukan pada segenap anak cucu yang telah sekian lama belajar di sejumlah perusahaan besar bertaraf multinasional. Panggilan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga di beberapa dimensi telah menggeser kebutuhan aktualisasi diri sebagai seorang profesional. Di sinilah esensi nilai-nilai keluarga mulai terlihat.

Meski terkesan sangat teoretis namun patut disadari bahwa loyalitas pada keluarga pada dasarnya merupakan sendi dasar dari family governance (baca: filosofi dasar kepatuhan tata kelola perusahaan berbasis kepemilikan keluarga). Prinsip yang ditekankan pun sangat sederhana, yakni stewardships (pelayanan).

Ungkapan rasa syukur sebagai salah satu anggota keluarga yang diberi kepercayaan Tuhan dinyatakan dengan upaya turut aktif dalam mengembangkan potensi perusahaan. Di satu sisi melestarikan warisan yang diperoleh, di sisi lain mengemban tugas dan tanggung jawab dalam memberikan kesejahteraan kepada segenap karyawan maupun stakeholder yang lain.

Satu hal yang menarik adalah bahwa sebagian besar kelompok perusahaan yang sukses dan berumur panjang adalah mereka yang konsisten, menjaga nilai-nilai keluarga inti sang pendiri. Falsafah kejujuran, dan upaya  mendistribusikan kesejahteraan kepada seluruh karyawan merupakan nilai inti yang terkadang berfungsi sebagai filter ketika asimilasi budaya mulai  masuk melalui pernikahan.

Konteks yang sama juga terjadi di Indonesia. Hingga kini kita sering melihat tren putra-putri mahkota sebuah kerajaan bisnis membangun hubungan keluarga dengan kerajaan lain melalui mekanismepernikahan. Di titik itulah pertautan dua budaya berpotensi terjadi. Namun dalam realitasnya hal tersebut tidak terjadi dengan mudah.

Ketika sang putra-putri mahkota masih berbakti di bawah komando orangtua (sebagai komisaris) atau bahkan sang kakek-nenek, maka nilai yang dijunjung bersumber pada nilai utama. Sekilas memang terkesan pihak yang lain beradaptasi dengan pihak pertama. Namun di situlah warna kehadiran pihak kedua mulai terasa. Di beberapa titik kecil falsafah keluarga kedua turut memperkaya nilai-nilai keluarga asal, dan tak jarang situasi inilah yang turut mengembangkan perusahaan.

Lalu bagaimana dengan stigma umum yang mengatakan “generasi pertama membangun usaha, generasi kedua mengembangkannya dan generasi ketiga menjualnya?” Proses itu mungkin terjadi, namun tidak untuk tujuan yang negatif (memperkaya diri sendiri) melainkan untuk tujuan positif.

Studi di lapangan berhasil menguak fakta bahwa upaya pelepasan unit bisnis oleh generasi ketiga sering dilakukan dengan tujuan menjaga warisan utama, yakni bisnis inti keluarga. Melalui keyakinan bahwa setiap bisnis mempunyai siklus yang bisa sewaktu-waktu mengancam kegagalan satu generasi dalam menjaga warisan yang dipercayakan kepadanya, maka tujuan memperpanjang family legacy kini menjadi tujuan utama dalam jangka panjang.

Selanjutnya, langkah strategis menambah umur usaha juga diarahkan kepada keluarga para karyawan. Tak jarang perusahaan-perusahaan tersebut merekrut mereka yang dipercayai penuh. Di sinilah kaitan, hubungan keluarga dalam mengembangkan perusahaan terlihat sehingga ketika bisnis perusahaan maju maka kesejahteraan karyawan beserta
keluarganya pun turut berkembang.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 26 November 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s