Lebih Jauh Tentang Entrepreneurships

Belakangan ini, banyak yang menghubungkan wirausaha dengan usaha berkepemilikan tunggal. Kisah tentang wirausaha pun kerap identik dengan usaha berskala kecil menengah hingga cerita mengenai estafet pengelolaan toko keluarga. Memang, tidak ada yang salah dengan cara pandang tersebut. Namun dalarn sejumlah literatur kewirausahaan, entrepreneurships temyata dibedakan jelas dengan usaha perorangan.

“Sebenamya, di mana letak perbedaan antara keduanya, Pak?” tanya Syahri penuh rasa ingin tahu. Meski secara pribadi penulis percaya bahwa keduanya memiliki persamaan yang cukup banyak, namun berbicara tentang entrepreneurships berarti membahas tentang cara pandang dalam jangka panjang.

Dalam sebuah riset yang dilakukan di pesisir pantai utara pulau Jawa, penulis menemukan bahwa ada begitu banyak usaha perorangan yang telah berjalan selama puluhan tahun. Sebagian besar dari pengusaha itu, bahkan, hanya belajar secara autodidak untuk mengelola usaha yang hingga kini terbukti mendatangkan keuntungan.

Satu hal yang menarik adalah ketika sang anak, atau sang cucu kembali dari luar negeri, mempelajari ilmu manajemen, beberapa usaha tersebut malah berpindah tangan ke pihak lain. Alih-alih harus menempuh siklus hidup bisnis yang tidak lagi menguntungkan, mereka yang ada di generasi terakhir cenderung mengubah arah usaha.

Di sisi lain, ada usaha yang semata-mata cuma dipertahankan hidupnya oleh pemiliknya. Usaha itu pernah besar dan tenar di zamannya, narnun kini tidak lagi. Pesaing mereka yang sangat inovatif terbukti mampu menyedot pangsa pasamya dalam jumlah besar.

Tengoklah toko-toko yang menjual produk olahan ikan bandeng yang tersebar di salah satu jalan protokol di kota Semarang. Kehadiran pemain yang relatif baru, dengan layanan serta promosi yang cukup gencar, telah memberikan wama harmoni di tengah-tengah persaingan.

Stewardship

Realitas ini yang mungkin menggambarkan perbedaan antara entrepreneur dengan seorang pemilik bisnis alias business owner. “Apakah itu mengindikasikan bahwa seorang pemilik bisnis tidak dapat meniadi entrepreneur?” Jawabannya, pasti pemilik bisnis bisa menjadi entrepreneur.

Dalam beberapa dimensi, pernilik bisnis sudah patut dipandang sebagai entrepreneur. Mereka sudah merambah prinsip-prinsip pengelolaan bisnis secara modern, melalui cara yang sederhana, seperti mematenkan merek dagangnya, atau menerapkan proses pemasaran, seperti promosi, melalui tas kantong produk.

“Lalu, apa yang harus disiapkan agar bisnis kecil yang dikelola oleh seorang pemilik bisnls tradisional mampu berkembang sesuai dengan tuntutan persaingan?” demikian pertanyaan yang kerap muncul. Prinsip dasamya ada pada sisi kepatuhan keluarga atau yang dikenal dengan istilah family governance. “Apakah istilah itu sama dengan corporate governance?” pertanyaan lanjutan yang pasti muncul.

Kedua istilah itu sama-sama membahas tentang kepatuhan, namun memiliki konsep yang berbeda. Family governance bermula dari nilai-nilai yang dibangun oleh keluarga sang pemilik usaha. Norma-norma maupun tuntutan yang diberikan ke masing-masing anggota keluarga terkait tugas dan tanggung jawabnya akan mewamai arah perkembangan bisnis keluarga itu.

Sebagai contoh, beberapa anak ditugaskan untuk memperkuat pengelolaan bisnis di fungsi pemasaran. Anak yang lain akan kebagian fungsi-fungsi yang berbeda. Semuanya mengerucut ke upaya mengembangkan bisnis ke arah yang lebih profesional.

“Bukankah terkadang mereka hanya berposisi sebagai komisaris, dan menyerahkan tugas pengelolaan harian ke pihak lain?” tanya Syahri. Benar, sebagian di antara mereka melakukan hal tersebut. Namun bila dicermati, langkah itu hanya diambil dalam jangka pendek, sembari menyiapkan generasi lanjutan yang sedang menimba ilmu di pendidikan tinggi atau perusahaan lain.

Kelak, tiba saatnya mereka akan kembali dan menempati posisi penting di perusahaan keluarga. Di sinilah peran petuah dan nasihat untuk selalu menomorsatukan kepentingan keluarga muncul. “Tepat sekali, Pak. Bahkan, ada di antara mereka yang telah menjadi profesional di perusahaan multinasional. Namun ketika panggilan orang tua untuk mengelola perusahaan keluarga, seketika itu juga mereka meninggalkan karirnya,”ujar Tinton Ramadhan, peserta program Wijawiyata Manajemen (S-2) PPM School of Management.

Inilah konsep yang dikenal dengan istilah stewardships. Sebuah norma yang menekankan bagaimana kita selaku generasi lanjutan bertanggung jawab dalam melestarikan usaha keluarga. Tidak hanya sebatas tanggung jawab dalam melestarikan kekayaan keluarga, tetapi juga kewajiban untuk menjaga performa perusahaan dalam jangka panjang. Di satu sisi, umur panjang dapat tercipta, di sisi lain menyukseskan roda operasi perusahaan juga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan segenap karyawan.

Melalui paparan itu, terlihat jelas bagaimana geliat perusahaan keluarga lokal dalam memberikan dampak positif terhadap perekonornian suatu wilayah. Tak hanya itu, di saat bisnis berkembang, berarti ada lapangan kerja baru yang terbuka. Tak jarang keturunan dari karyawan usaha itu, turut berkontribusi terhadap lini bisnis yang dikembangkan perusahaan. Alhasil, peningkatan kesejahteraan lebih terwujud secara nyata.

Kini, jelas bahwa seorang pemilik bisnis sangat berpotensi menjelma menjadi seorang pebisnis dengan strategi jangka panjang alias entrepreneur. “Maka bisnis kami juga dapat berkembang demikian di kemudian hari ya, Pak?” tanya Yehuda, seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).

Pasti, dengan pemahaman bahwa bisnis yang kita geluti suatu hari nanti akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar, maka memiliki unit bisnis hasil pengembangan, dapat dilakukan dengan mudah.

*Tulisan dimuat di Mingguan Bisnis Kontan, 2 Desember – 8 Desember 2013. H. 21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s