Langkah Antisipatif Pelemahan Rupiah

Melemahnya nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir harus diakui telah menciptakan kekhawatiran di kalangan pelaku bisnis domestik, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang mayoritas didanai dengan modal asing. Penurunan Rupiah hingga menembus Rp12.000 per dolar Amerika Serikat (AS) telah memicu pembengkakan nilai total pinjaman.

Tak ayal sejumlah perusahaan mengalami peningkatan rasio utang terhadap ekuitas (baca: debt to equity ratio). Tak hanya itu, beberapa di antaranya juga teridentifikasi mengalami peningkatan risiko kebangkrutan. Di tengah chaos-nya kondisi ini, beberapa kalangan memandang pelemahan rupiah dalam perspektif pro dan kontra.

Kelompok pro mengatakan bahwa dengan melemahnya nilai rupiah, harga produk-produk lokal akan dilihat lebih murah dari kaca mata internasional sehingga potensi peningkatan nilai ekspor akan sangat tinggi. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal yang berkebalikan.

Mengingat sebagian besar faktor produksi diperoleh melalui aktivitas impor, maka pelemahan rupiah spontan menurunkan daya saing sehingga tak jarang malah melunturkan semangat perusahaan untuk meiakukan ekspor. Jika demikian lalu apa yang harus diwaspadai?

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih. Pertama, ajakan untuk menggunakan produk-produk yang sebagian besar disusun oleh bahan-bahan lokal. Meski untuk menciptakan produk yang seratus persen berbahan lokal kini sudah sulit dilakukan, namun era pasar bebas telah memberikan begitu banyak pilihan pada manajemen. Satu diantaranya adalah menciptakan masa (baca: waktu) untuk belajar dari pemain asing melalui konteks kerja sama joint venture.

Undang-undang penanaman modal yang diberlakukan saat ini sebenarnya telah membuka ruang lebih luas untuk tujuan tersebut. Transfer ilmu pengetahuan serta teknologi yang diprasyaratkan seharusnya menjadi mandat operasi di lapangan sehingga melalui konteks ini diharapkan nilai-nilai positif joint venture dapat diperoleh.

Kedua, terkait prinsip hidup berhemat. Saya teringat konsep lumbung desa. Konsep ini mengajarkan kita akan arti penting menyisakan hasil yang ada saat ini untuk keperluan di masa depan. Ketika musim paceklik tiba seperti saat ini, hasil panen di masa lalu dimungkinkan mampu menjadi penopang kelangsungan hidup operasi perusahaan.

Dalam praktiknya, konsep tersebut dapat diterapkan dalam segi pendanaan perusahaan-perusahaan domestik ketika aksi pelemahan rupiah terus berlanjut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar perusahaan domestik yang terkena imbas melemahnya nilai rupiah adalah mereka yang memiliki pinjaman besar dalam dolar AS, sedangkan penerimaan didominasi oleh rupiah.

Mekanisme crossing yang terjadi kini terbukti membebani kinerja perusahaan. Ketika utang diterbitkan, rupiah berada di level Rp9.000-an namun kini ketika melemah hingga Rp12.000 maka besaran pokok pinjaman plus bunga akan melonjak drastis. Tak ayal ketika biaya utang meningkat maka potensi peningkatan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan juga turut tersundul.

Nah, mencermati kondisi tersebut, langkah arif yang perlu dilakukan merujuk pada nilai-nilai lumbung desa adalah dengan memanfaatkan dana internal khususnya yang bersumber dari laba ditahan. Meski secara konseptual penggunaan dana ini selalu mensyaratkan biaya yang lebih besar, namun harus diakui dalam kondisi kritis, penggunaan dana sendiri jauh lebih efisien ketimbang, dana eksternal sehingga di sinilah pelajar berharga itu terbangun: berhemat saat ini untuk ke langsungan hidup di masa depan.

Besar kemungkinan kearifan lokal tersebut dilakukan dengan menelan pil pahit; memperkecil proporsi pembagian dividen kepada para pemegang saham. Meski mungkin langkah ini selalu menjadi alternatif terakhir, prinsip berhemat sekiranya dapat dilakukan melalui hal tersebut demi kelangsungan hidup kedua belah pihak: perusahaan di satu sisi dan pemegang saham di sisi lain.

Sejenak pilihan ini mungkin terburuk, namun pelajaran lain yang timbul adalah terbentuknya pola pikir investasi jangka panjang. Dengan mengurangi potensi keuntungan yang dapai diraih saat ini, pemegang saham berharap agar kinerja perusahaan tetap terjaga sehingga potensi keuntungan di tahun depan dapat terus meningkat.

Semoga rupiah dapat kembali berjaya. Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 3 Desember 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s