Tips Menghadapi Ekonomi Biaya Tinggi

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat pekan lalu telah membuat industri domestik kalang kabut. Betapa tidak, penurunan Rupiah hingga menembus Rp. 12.000,- per dollar secara otomatis memicu pembengkakan nilai utang sejumlah produsen yang memiliki kewajiban ke kredit dalam dollar AS.

Apalagi situasi ini terjadi di akhir tahun, masa di mana sebagian besar tenggat waktu pembayaran pokok utang maupun bunga terjadi. Alhasil meski tingkat suku bunga pinjaman tak berubah namun dengan nilai Rupiah yang semakin melemah maka biaya utang yang harus ditanggung perusahaan akan membesar. Bagaimana kita mencermati kondisi ini?

Ada beberapa langkah yang dapat menjadi alternatif baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Nah, langkah antisipatif jangka pendek dapat dilakukan dengan mengajukan penundaan jadwal pelunasan pokok utang maupun beban bunganya.

Meski mirip dengan upaya yang dilakukan di 2008 ketika Indonesia terkena imbas krisis keuangan di Amerika Serikat, namun kali ini manajemen perusahaan harus lebih jeli menentukan waktu pelunasan yang dijanjikan. Sebab, agenda politik nasional (Pemilu) di April 2014 mutlak harus menjadi pertimbangan utama dalam memprediksi nilai tukar rupiah.

Waktu pelunasan pasca Pemilu sekiranya menjadi pilihan terbaik. Harapannya adalah bahwa rezim pemerintahan yang baru diharapkan mampu memberi angin segar bagi peningkatan animo penggunaan Rupiah setidaknya di dalam negeri, sehingga akan memicu aksi penguatan.

Adapun dalam jangka panjang, alternatif pertama yang perlu mendapat perhatian lebih adalah terkait pola kebijakan modal kerja maupun struktur modal pemain domestik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini manajemen lebih memilih penggunaan dana asing meski perusahaan menerima sebagian besar pendapatan dalam Rupiah.

Secara konsep memang langkah tersebut dibenarkan (dengan target memperoleh dana hasil konversi dalam Rupiah yang lebih banyak). Namun aktivitas ‘lindung nilai’ alias hedging hendaknya dipandang sebagai kewajiban. Artinya, agar perusahaan terbebas dari jebakan pelemahan nilai kurs, maka ketika utang diterbitkan maka manajemen harus lebih jeli dalam memanfaatkan instrument hedging; apakah melalui kontrak forward maupun future.

Salah satu langkah efektif dalam semangat lindung nilai adalah dengan menempatkan aktivitas hedging sebagai salah satu bentuk mitigasi manajemen risiko. Dengan demikian bagian manajemen risiko perusahaan dapat memberikan teguran atau bahkan sangsi ketika lindung nilai tidak dilakukan. Kini permasalahannya adalah bagaimana jika manajemen belum ‘lihai’ melakukan hedging?

Langkah alternatif yang dapat dilakukan ada dua. Pertama, perusahaan harus melihat kembali perputaran arus kasnya, khususnya yang bersumber dari aktivitas operasi. Pastikan ada aliran Dollar Amerika yang masuk melalui penjualan produk. Ini berarti pula bahwa manajemen harus mulai melirik aktivitas ekspor. Pemberlakuan perdagangan bebas serta ASEAN Economic Cooperative di 2015 mungkin perlu mendapat perhatian lebih khususnya bagi penjajakan ekspansi ke Negara-negara tetangga.

Alternatif kedua adalah dengan tehnik ‘aging schedule’. Teknik ini dilakukan dengan menempatkan tenggat waktu jatuh tempo pelunasan utang dengan penagihan piutang pada satu tabal yang sama, sehingga manajemen dapat mengatur skema penjualan kredit agar piutang tertagih sebelum jatuh tempo pelunasan utang tiba. Selain membantu menjaga likuiditas, langkah ini terbukti dapat melepaskan perusahaan dari jeratan pelemahan nilai kurs.

Saya teringat akan satu premise dalam manajemen keuangan ‘kebutuhan dana dalam mata uang asing harus dicukupi dalam mata uang yang sama, demikian pula sebaliknya’. Meski sederhana dan mungkin terkesan ‘naif’, namun premise ini mengingatkan kita akan pentingnya alokasi penggunaan dana sesuai kebutuhan. Selain dapat meningkatkan efisiensi, pola ini secara otomatis akan menciptakan independensi manajemen terhadap fluktuasi nilai tukar.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 4 Desember 2013. H. 15.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s