Peran Pemimpin dalam Perubahan

Dalam merencanakan masa depan sebuah organisasi, seluruh bagian yang terlibat harus diikutsertakan, sehingga akan tercipta strategic awareness, termasuk di dalamnya mengikutsertakan seluruh jajaran ujung tombak (front liners), sehingga kemudian kita kenai istilah CEO at all level.

Hal ini semata-semata dikarenakan terlalu banyak variasi permasalahan, dan terlalu banyak keputusan yang belum ada dalam SOP (Standard Operation Procedures) namun harus tetap diputuskan, hingga kadang front liners juga harus dapat mengambil keputusan, dalam menyikapi perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Salah satu budaya yang tampaknya bisa mengikuti perubahan adalah seperti yang dikembangkan di PT Telkom, yaitu Customers First!, karena walaupun telah bergonta-ganti pimpinan, budaya ini tetap dianut. Namun perlu diberlakukan pembatasan, artinya hingga sejauh mana para front liners dapat membuat keputusan, dan jika terdapat kesalahan pengambilan keputusan, anggaplah itu sebagai ‘uang sekolah’ yang harus dibayar, agar sebuah organisasi menjadi lebih baik.

Di masa mendatang diharapkan seluruh bagian dalam sebuah organisasi, mengetahui dengan baik kemana organisasi mereka akan bergerak, pemimpin yang efektif bertugas memimpin namun lebih penting lagi, mendampingi proses perubahan tersebut. Sehingga di waktu mendatang, jika terjadi pergantian pemimpin, itu tidak berarti harus terjadi perubahan secara frontal.

Setiap perubahan seharusnya didasarkan atas keinginan organisasi untuk melayani kebutuhan lingkungan dimana organisasi itu berada, bukan didasarkan atas keinginan pemimpin, selama organisasi mampu mengikuti dan memenuhi perubahan itu, maka organisasi bisa berjalan dengan baik.

Seorang pemimpin yang baru memulai kepemimpinannya, kadang dihadapkan pada budaya yang harus diperbaharui dan budaya yang memang dapat dipertahankan. Namun perlu juga diperhatikan, bahwa kadang ada budaya yang karena merasa telah mumpuni, sehingga terkesan mentabukan perubahan, padahal budaya yang dianggap bagus itu, belum tentu dapat menjawab tuntutan pasar atau tuntutan lingkungan yang telah berubah.

Solusinya budaya lama yang ‘merasa’ bagus, itu harus diunlearn. Masalah yang kemudian muncul ke permukaan adalah bagaimana menyadarkan, agar mereka mau menerima perubahan. Banyak contoh yang memperlihatkan kepada kita, bagaimana sebuah ‘kepongahan’ ini menyebabkan terjadinya kegagalan.

Tengoklah pengalaman Ford dengan produksi mobil Model T, dimana semua mobil diberi warna hitam, akibatnya masyarakat jenuh, demikian juga dengan IBM yang begitu percaya dengan mainframe-nya, hingga kehadiran Apple dengan Personal Computer meyadarkan IBM, jika mereka telah kalah langkah oleh Apple yang tidak sebanding dengan besarnya nama IBM.

Kadang pemimpin dan para manajer terjebak pada proses diskusi yang panjang, membicarakan alternatif solusi detail sebagai antisipasi terhadap perubahan lingkungan, dan ketika tercapai kesepakatan, solusi yang dicoba untuk diimplementasikan, terjadi perubahan baru telah terjadi lagi.

Demi melihat kenyataan ini tampaknya yang perlu untuk diperhatikan oleh segenap jajaran pengambil keputusan, mereka hanya perlu memperhatikan dan memfokuskan diri pada visi atau arah besar dari organisasi, sedangkan cara untuk mencapainya dapat dibuat fleksibel.

Tipologi pemimpin di era yang rentan terhadap perubahan ini dicirikan oleh beberapa hal: pertama, pemimpin itu harus memiliki wawasan yang baik sehingga ia dapat mengetahui kebutuhan di masa mendatang, siapa yang lebih cepat mengetahui arah perubahan ini, ia akan menjadi pemenang.

Termasuk dalam hal ini pemimpin tersebut juga harus mampu meyakinkan para jajaran dibawahnya bahwa satu-satunya cara untuk bertahan di era yang sangat sarat dengan perubahan itu, adalah dengan melakukan perubahan itu sendiri.

Kedua, pemimpin harus bersikap partisipatif, karena rancangan visi harus diyakini oleh seluruh organisasi bukan hanya diyakini oleh pemimpin saja, sehingga visi tersebut menjadi milik semua pihak yang ada pada organisasi, dengan kata lain harus terbina apa yang dikenal sebagai sense of ownership terhadap visi tersebut,

Ketiga, pemimpin tersebut harus dapat mensinergikan semua aktifitas yang terjadi dalam organisasi, sehingga organisasi dapat bergerak dengan arah yang pasti dan memfokuskan pada satu tujuan.

Keempat, pemimpin tersebut juga dituntut hal ini diupayakan pemimpin tersebut juga dituntut untuk dapat melakukan management of diversity, pemimpin yang baik harus dapat me-manage kebhinnekaan.

Hal ini menjadi menarik untuk dipahami, mengingat ke depannya ada semangat untuk melakukan desentralisasi, yang berujung pada empowerment. Kaitannya dengan hal ini gaya kepemimpinan gaya militer dengan sistem satu komando tidak dapat diberlakukan lagi.

Setelah ia dapat menyesuaikan dengan perubahan, maka pemimpin tersebut harus dapat menyusun strategi baru untuk menghadapi perubahan selanjutnya, demikian seterusnya, karena perubahan tidak akan pernah berhenti, melelahkan namun harus tetap dilakukan, jika tak ingin organisasinya hanya menjadi sebuah catatan sejarah sebagai sebuah organisasi yang gaga!

*Tulisan dimuat di majalah Manajemen no. 157, September 2001. H. 56.

Sukono SoebektiSukono Soebekti, Direktur Utama Lembaga Manajemen PPM (1998-2003)

2 thoughts on “Peran Pemimpin dalam Perubahan

  1. Pingback: Kepemimpinan | dewiartha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s