Inovatif dengan Menjadi Perusahaan yang Resilient

ipod-vs-walkman“Resilient adalah kemampuan untuk bertahan atas kejutan (shock) tanpa mengalami perubahan berarti, serta kemampuan untuk pulih atau beradaptasi dengan mudah terhadap perubahan-perubahan”.–Merriam Webster dictionary

Kemampuan perusahaan dalam berinovasi telah diakui dapat mendukung kesuksesannya di industri dan pertumbuhannya dalam jangka panjang. Sebuah studi dari Lembaga NESTA di Inggris menyampaikan temuannya bahwa perusahaan inovatif mengalami pertumbuhan penjualan dua kali lipat dibandingkan perusahaan yang tidak berinovasi. Perusahaan-perusahaan seperti 3M, Samsung, dan Toyota, tidak berhenti berinovasi setelah meluncurkan suatu produk baru, namun sebaliknya justru terus melahirkan inovasi secara berkelanjutan.

”Apa yang menyebabkan perusahaan tersebut tak berhenti berinovasi, sementara perusahaan lain hanya mampu berinovasi secara sporadis, susah payah dan bahkan perlahan upaya inovasi mereka memudar dan menghilang?” Mari kita tengok kasus Sony. Ketika Sony meluncurkan produk terobosan mereka di tahun 70-an; Walkman! Dunia segera dilanda demam alat pemutar musik mini ini. Walkman diciptakan tahun 1978 oleh Nobutoshi “Mr. Walkman” Kihara dan segera menjadi trendsetter.

Antara tahun 1980-1990, hampir semua anak muda pencinta musik seolah wajib memiliki Walkman. Namun sayangnya, Sony gagal mempertahankan kedigdayaannya dan harus menyerahkan tampuk kepemimpinan pada Apple dengan serangkaian produk iPod-nya. Apple jauh lebih inovatif dibanding Sony sejak beberapa tahun terakhir hingga Sony mengakhiri produksi Walkman di bulan Oktober 2010.

Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, bagaimana Sony bisa kehilangan kemampuan inovasinya dan tertinggal dari Apple di industri ini? Bagaimana suatu perusahaan dapat mempertahankan sekaligus memperkaya keunggulannya dalam bersaing di pasar? Sebuah studi menarik untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan oleh de Oliveira Teixera dan Werther (2013), yang telah berpengalaman 40 tahun di dunia konsultansi dan riset data sekunder.

Menurut studi ini, kesuksesan suatu perusahaan di masa yang penuh turbulensi tergantung pada kemampuan perusahaan meluncurkan dan mengimplementasikan serangkaian produk baru (yang sukses) secara berkesinambungan. Untuk itu, perusahaan perlu menjamin bahwa inovasi yang dihasilkan bukan sebagai upaya khusus yang membebani, melainkan dihasilkan sebagai “produk sampingan” selagi perusahaan menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnisnya.

Menurut de Oliveira Teixera dan Werther, perusahaan yang beradaptasi secara antisipatif dan terus-menerus ini disebut perusahaan yang resilient. Pertanyaan berlanjut. Bagaimana menjadi sebuah organisasi yang resilient? Dalam studi mereka, de Oliveira Teixera dan Werther menyarankan empat komponen utama yang saling terkait yakni; peran pemimpin, budaya organisasi, perencanaan stratejik, dan menjadikan inovasi sebagai way of life.

Pemimpin memiliki peran yang krusial dalam menentukan tingkat keberhasilan inovasi perusahaan. Sebuah studi inovasi yang dilakukan oleh Center of Innovation and Collaboration (CIC) PPM Manajemen – dengan mensurvei 208 perusahaan di Indonesia- membuktikan bahwa pimpinan sangat berperan dalam menggerakkan karyawan dan menghasilkan inovasi yang menguntungkan bagi perusahaan. Pemimpin tersebut tidak hanya sekedar memiliki visi, namun, yang lebih utama, ia memberi kesempatan bagi karyawannya untuk melakukan berbagai aktivitas inovasi dan berani mengambil keputusan terkait perubahan dalam perusahaan.

Namun, inovasi yang diupayakan oleh segelintir karyawan dalam organisasi tidak akan menghasilkan inovasi yang berkelanjutan. Dalam hal ini, sang pemimpin perlu mengembangkan lingkungan kerja yang kondusif dan saling percaya, dimana seluruh karyawan terpacu untuk bekerja sama dalam menghasilkan inovasi. Budaya organisasi yang mendukung inovasi seperti ini dicontohkan oleh perusahaan – antara lain Apple di Amerika, Samsung di Korea, dan Nutrifood di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan yang resilient ini sangat ‘organik’ dan dinamis. Proses bisnis serta strategi perusahaan ditata demi meningkatkan kemampuan bermanuver dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Apple, Samsung, dan Nutrifood menjadikan inovasi, termasuk semangat berubah dan bertumbuh, sebagai jalan kehidupan (way of life) perusahaan.

*Tulisan ini dimuat di Majalah Marketing Edisi 12/XIII/ Desember 2013. H. 91.

Erlinda N. YunusErlinda N. Yunus
Manajer Akademik PDMA Indonesia
erl@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s