Ciptakan Uniqueness Sejak Dini

Dewasa ini, menjadi pionir dalam suatu industri bukan lagi suatu pekerjaan yang sederhana. Ide bisnis yang menurut kita baru, bisa jadi, sudah dijalankan selama bertahun-tahun di daerah lain.

Situasi itu berarti, membangun sebuah faktor pembeda (distinctive) yang nantinya diharapkan mampu berkembang menjadi karakteristik unik usaha kita, membutuhkan proses berpikir yang lebih kritis lagi. “Sebegitu pentingnya sebuah karakter unik dalam bisnis, Pak?” tanya Permata Carina, seorang peserta Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) yang mulai menggeluti bisnis bridal.

Merujuk ke business model canvas, besutan Alexander Osterwalder, suatu ide usaha berawal dari jenis layanan atau produk yang berbeda dengan yang layanan atau produk yang sudah ada. Hal ini bertujuan untuk memotret pasar yang akan dilayani. Jika produk yang dihasilkan sama dengan yang sudah ada, maka secara otomatis ia akan dipandang sejajar dengan kelompok produk atau jasa yang lain. Sehingga ketika harga yang ditawarkan pun sama, maka peluang produk baru itu untuk menjadi pemimpin pasar tidak akan besar.

Situasi berbeda akan terjadi untuk produk yang memiliki kinerja jauh di atas produk-produk lain yang sudah ada. Di titik itulah, karakter unik produk akan terbangun. Ia tidak hanya mempunyai posisi yang baik di mata konsumen, namun juga dapat menjadi sumber pendapatan lebih bagi perusahaan.

Betapa tidak, pada kondisi tersebut kekuatan tawar-menawar produsen jauh lebih besar daripada konsumen. “Kalau tidak mau, silakan memilih produk lain yang bisa jadi lebih murah, namun dengan kualitas jauh di bawah produk kami,” tutur Hadi, anggota PPM yang lain.

Jika demikian adanya, lalu bagaimana kita membangun karakter unik di fase awal bisnis? Ada beberapa alternatif langkah yang dapat dilakukan. Pertama, bisnis yang stabil dalam jangka panjang selalu dilandasi oleh filosofi yang kuat. Cara pandang pemilik usaha terhadap misi dan visi perusahaannya akan sangat menentukan keberhasilan manajemen dalam mencapai target.

Selanjutnya, kebijakan (baca: wisdom) pemilik maupun pimpinan puncak. Studi di lapangan menemukan bahwa kekuatan iman sang pemilik atau pimpinan tertinggi akan memberikan warna pada nuansa humanis yang tercipta di dalam perusahaan. Tidak hanya pada level kebijakan manajerial semata, melainkan juga pada tataran teknis. Ambil contoh, ajakan pemimpin untuk menolak setiap bentuk gratifikasi, serta meminimalkan terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam tubuh organisasi.

Nilai lain yang dapat dikembangkan menjadi sebuah faktor pembeda adalah cara pandang setiap pimpinan pada upaya pengharkatan manusia, baik dalam dimensi spiritualitas maupun duniawi. Salah satu contoh adalah kebijakan organisasi untuk terus aktif mengupayakan peningkatan harkat dan derajat para karyawannya.

Niat baik yang diwujudkan dalam bentuk memberikan sarana bagi karyawan untuk meraih jenjang pendidikan lebih tinggi, atau aktivitas yang berorientasi sosial, seperti pengalokasian dana untuk kepentingan beasiswa keluarga karyawan. Menjadikan perusahaan sebagai organisasi pembelajar bagi karyawan beserta keluarganya, secara otomatis, akan membuahkan daya saing perusahaan di kemudian hari.

Alternatif berikutnya adalah melalui pembentukan berikut pelaksanaan mekanisme kerja yang kondusif. “Dapat dilakukan dengan program kemitraan ya Pak,” tanya Hadi penuh antusias. Pada masa-masa awal bisnis dijalankan, biaya upah tenaga kerja biasanya cukup memberatkan.

Loyalitas karyawan

Di satu sisi, bisnis tidak akan dapat berjalan tanpa kehadiran karyawan. Namun di sisi lain, ketidakmampuan manajemen dalam memberikan upah sesuai tarif upah minimum provinsi, umumnya merupakan kendala, baik saat merekrut sumber daya maupun ketika mensyaratkan suatu tingkatan kinerja.

Alhasil, dalam kondisi tersebut, program kemitraan akan sangat membantu. Sebagai contoh, sebuah bisnis restoran milik seorang mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis PPM School of Management, yang beroperasi di kawasan Kemang memposisikan juru masak (chef) sebagai mitra bisnis. Pola yang dibangun adalah memberikan sejumlah persentase saham ke dua chef utamanya, sehingga setiap bulan sang juru masak tidak hanya menerima upah, melainkan pembagian keuntungan secara proporsional.

“Bukankah membangun hubungan seperti itu pedang bermata dua, Pak?” tanya Permata. Bisa jadi jawabannya adalah ya. Potensi mitra kerja menusuk kita dari belakang memang ada. Kini, tinggal sejauh mana kejelian seorang pebisnis melihat karakter tersebut dalam diri sang mitra. Bila sejak awal telah teridentifikasi, maka pebisnis mungkin harns melupakan mekanisme kemitraan itu, hingga terbentuk budaya loyalitas di antara mereka.

Nah, loyalitas itu yang kini mulai dibina dengan insentif yang tidak lagi berberituk moneter. “Benar Pak, saya memberikan insentif itu dalam bentuk mengajak karyawan outing secara periodik,” tutur Alica, pebisnis Spa Poespa di Harapan Indah, Bekasi. Melalui kegiatan outdoor seperti itu, tidak cuma upaya saling mengenal semata yang muncul, tetapi juga upaya membangun loyalitas sejak dini.

“Terkadang dari pembicaraan di antara mereka, kita dapat memahami sejauh mana karyawan merasa betah bekerja. Tak hanya itu, ada suatu kebanggaan ketika mereka berkata, enaknya kerja di sini, diperhatikan sama pimpinan. Di tempat lain belum tentu ada,” tutur Alica.

Itulah ungkapan jujur seorang karyawan, yang memaparkan uniqueness dari sebuah usaha. Ketika karyawan secara sadar menemukan pembeda utama dari tempatnya bekerja, akan muncul lebih banyak calon pekerja yang ingin berkarir bersama usaha itu, di masa mendatang. Semangat ini yang ingin ditularkan dari Jalan Menteng Raya 9-19, depan Patung Tani, Jakarta Pusat, ke seluruh pebisnis yunior di Indonesia.

*Tulisan dimuat di Mingguan Bisnis Kontan, 9 Desember-15 Desember 2013. H.21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s