Solusi Pendanaan Saat Rupiah Ambruk

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) harus diakui memberikan dampak negatif pada perkembangan bisnis lokal.

Di satu sisi, dengan rupiah yang lemah, sebenarnya, harga produk akan lebih murah jika dinilai dalam dolar AS. Namun mengingat sebagian besar material produksi diperoleh melalui impor, pelemahan rupiah juga memicu peningkatan beban yang harus ditanggung perusahaan.

Hasilnya pun dapat ditebak. Harga jual semakin meningkat. Nah ketika produsen asing masih mampu mempertahankan harga, situasi tersebut justru melemahkan daya saing lokal di pasar internasional. Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi sebenarnya merupakan risiko yang dapat diminimalkan sejak dini.

Penggunaan instrument ‘lindung nilai’ (hedging) sebenarnya ampuh dalam menghadapi krisis. Sedangkan pengelolaan persediaan produksi yang tepat di lain sisi juga mampu menghindarkan perusahaan dari fluktuasi harga bahan baku selain hedging.

Dua mekanisme tersebut mungkin lazim bagi perusahaan menengah atas; namun tidak demikian halnya dengan sektor mikro dan kecil. Keterbatasan akses seringkali menjadi kendala bagi pertumbuhan sektor ini, terlebih ketika didera aksi pelemahan rupiah.

Meski begitu, bukan berarti tak ada yang dapat dilakukan. Belajar dari India soal bagaimana negara tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan, khususnya ketika nilai rupee tergerus terus menerus, pendanaan berbasis microfinancing bisa jadi pilihan terbaik.

Konsep pendanaan ini cukup sederhana. Bagaimana komunitas pebisnis lokal dapat memahami situasi yang tengah dihadapi sekaligus menyatukan langkah demi tercipta kemandirian yang memicu pertumbuhan skala bisnis. ‘Dari anggota untuk anggota’ merupakan nafas dasar yang menghidupi pola pendanaan ini.

Konsep yang diterapkan di sejumlah negara terkait microfinaning adalah melalui pola kerja sama inti antara perusahaan besar dan menengah dengan usaha mikro dan kecil. Tujuannya satu, menumbuhkembangkan usaha mikro dan kecil untuk menjadi mitra perusahaan besar. Misalnya dengan menjadi pemasok atau distributor produk-produk perusahaan.

Melalui dana corporate social responsibility, perusahaan besar menanamkan sejumlah dana pada kelompok tersebut dalam bentuk modal dasar. Selanjutnya, komunitaslah yang bertanggung jawab mengembangkan dana tersebut melalui mekanisme kredit modal kerja.

Sekilas langkah itu mirip dengan apa yang dilakukan credit union. Setiap anggota yang meminjam dibebani bunga dalam persentase tertentu. Sebagian di antaranya akan dikembalikan dalam bentuk dividen. Jika dihitung dengan lebih cermat, biaya utang yang dibebankan jauh lebih rendah dari perbankan konvensional.

Kunci sukses dari mekanisme ini adalah kolaborasi antar anggota komunitas. Organisasi tidak diarahkan untuk menditribusikan kredit semata melainkan juga membuka peluang kerja sama antar anggota sehingga melalui wacana. ini, diharapkan masing-masing’ anggota dapat menjadikan anggota lainnya sebagai mitra usaha.

Bukan hal mustahil jika berkat kerja sama ini, anggota dapat meningkatkan kemandiriannya terhadap kebutuhan bahan baku impor. Nah jika sebagian besar material dapat diperoleh dari pasar lokal, niscaya usaha kecil dan mikro tidak akan terlalu terkena imbas pelemahan rupiah. Bahkan, ini merupakan momentum berkah bagi mereka.

Betapa tidak, ketika komunitas mampu menembus pangsa pasar ekspor, penurunan nilai rupiah akan memberikan hasil konversi yang lebih banyak. Disinilah potensi peningkatan kesejahteraan pebisnis lokal tercipta.

Saya teringat kejadian di tahun 1998 silam. Para pengrajin tradisional di Jawa Tengah malah mengalami kebangkitan saat krisis. Dengan bantuan dana ‘jaring pengaman sosial’ (salah satu bentuk micro financing) para pengrajin mampu belajar untuk mengelola modal secara lebih efisien sehingga produksi dapat tetap berjalan.

Alhasil dengan dukungan kecermatan, ketelitian, serta semangat tinggi dalam kegiatan produksi, produk-produk yang mereka hasilkan mampu menjadi primadona di Jepang dan Eropa. Di satu sisi, aktivitas ekspor pun mulai tercipta. Di sisi lain, perekonomian setempat juga turut terbantu.

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 11 Desember 2013. H. 15.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s