Tautan Visi Bisnis dengan Visi Diri

Inti diskusi Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM), beberapa waktu lalu, cukup menggelitik: “Mengapa ada pandangan bahwa ketika musim paceklik tiba, kerapkali bisnis berubah menjadi beban kehidupan?”

Penuturan Yehuda Ardhianto, pembudidaya ayam kampung yang masih berstatus mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis Reguler 6, menyuarakan kecenderungan itu.

“Maksud hati meningkatkan kapasitas produksi, Pak. Namun apa boleh buat harga pakan ayam cenderung terus meningkat beberapa waktu terakhir. Takutnya, ketika dipaksakan menaikkan kapasitas produksi, harga jual kami malah naik. Padahal ¬∑ dengan harga Rp 55.000 per ekor, konsumen terlihat mulai enggan mengonsumsi ayam kampung,” tutur dia.

Kondisi makro akhir-akhir ini memang tidak sepenuhnya kondusif bagi perkembangan bisnis. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, yang memicu kenaikan harga sejumlah komoditas dasar, termasuk bahan bakar minyak, telah menciptakan situasi yang kusut. Biaya produksi, spontan meningkat drastis.

Tanpa kejelian yang memadai, niscaya, pebisnis akan lebih mudah untuk mengatakan akan rehat sejenak. “Apakah rehat dimungkinkan dalam dunia bisnis, Pak? Toh kami masih dalam fase inkubator?” tanya Arief, mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis Profesional 7 yang dikenal memiliki beberapa usaha.

Rehat, atau yang lazim dipahami sebagai istirahat sejenak, sebenarnya, tabu dalam bisnis. Cuaca apa pun yang terjadi, hujan atau kemarau, seorang pebisnis harus tetap konsisten menjaga kegiatan operasional usahanya. Keharan semacam itu bukan karena motif uang yang ada di dalamnya, melainkan karena ada begitu banyak nasib keluarga, atau individu yang turut ditentukan oleh roda operasional bisnis Anda.

Coba tengoklah karyawan dan keluarga yang menggantungkan kehidupan ekonominya pada perusahaan. Belum lagi nasib para pemasok dan distributor produk. Jika demikian, cara pandang apa yang tepat bagi pebisnis muda dalam mencermati realitas ini?

Dalam konsep manajernen strategis, setiap bisnis dibangun dengan visi-misi serta nilai-nilai yang kuat. Misi dipahami sebagai pernyataan untuk apa perusahaan didirikan. Sedangkan visi merujuk keimpian yang hendak dicapai dari eksistensi perusahaan tersebut, pada jangka waktu tertentu pula.

Nah dalam perkembangannya, konsep tersebut ternyata tidak hanya digunakan dalam skala perusahaan. Pada beberapa kasus di lapangan terdapat bukti bahwa kekuatan visi hidup seorang pemilik usaha akan mewarnai semangat dan visi usahanya. Semakin kuat visi hidup sang pemilik, makin kuat pula visi bisnisnya. Seorang rohaniwan, bahkan pernah menyatakan bahwa ketika visi hidup menyatu dengan visi bisnis, maka nilai-nilai mulia yang akan tercipta. Alhasil, di situlah titik awal perkembangan bisnis menuju kepada keberkahan umat.

Prinsip Stewardship

Studi tentang pengelolaan usaha mikro kecil menengah di wilayah Jawa Tengah menunjukkan bahwa cara pandang pemilik atau pendiri sangat kental dalam mewarnai budaya kerja yang ada. Seperti pemahaman bahwa seorang anak laki-Iaki tabu jika bangun tidur setelah matahari terbit, karena nanti rezekinya akan dipatok ayam. Meski terkesan sederhana, namun nilai-nilai tersebut itu yang menjadi alasan sebagian besar toko kelontong di sana memulai jam operasinya sejak pukul enam pagi, bahkan, ada yang sejak pukul lima.

Sang pemilik tak segan-segan meminta seluruh karyawannya melakukan apa yang menjadi nilai-nilai mereka. Alhasil, kedisiplinan yang terbangun kelak akan terus terbawa, meski sang karyawan telah beralih profesi. Hal yang sama juga terjadi pada nilai-nilai, seperti kejujuran dan kegigihan dalam berkarya.

Lalu apa yang sebenarnya membuat para karyawan tunduk pada budaya yang telah ditentukan? Jawabannya cukup sederhana; dengan memberikan pemahaman bahwa “ikut mereka” atau bekerja dengan mereka, tidak sekedar untuk mencari upah, namun juga belajar kehidupan. Jadi, kebanyakan karyawan melihat kewajiban pekerjaannya sebagai sebuah kewajiban demi kehidupan yang jauh lebih menjanjikan.

Fakta ini pula yang berhasil menciptakan loyalitas di antara mereka. Tak jarang, bahkan, satu keluarga penuh membaktikan diri dengan bekerja di unit-unit bisnis dalam naungan satu pemilik. Setelah satu generasi pensiun, maka regenerasi pun berlangsung. “Bukankah pola tersebut tidak terlalu aman secara ekonomi Pak?” tanya Ade Irwanto, seorang pebisnis di bidang fashion.

Sekilas, memang demikian adanya. Ketika bisnis yang ditekuni mulai mengalami penurunan, maka perekonomian keluarga akan terganggu. Namun hal lain yang menarik untuk dicermati adalah bagi keluarga-keluarga pemilik, melakoni bisnis dengan pola tersebut, pada dasarnya, merupakan sebuah amanah. Nah, di sini muncul komitmen untuk mengelola bisnis, agar jangan sampai mengalami kerugian.

Mereka bahkan jauh lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Penyebabnya, kebijakan yang tidak tepat tidak hanya merugikan keluarga pemilik, tetapi juga seluruh karyawan berikut keluarganya. Konsep ini dalam konteks manajemen modern dikenal sebagai prinsip stewardships.

Prinsip kehati-hatian dalam berbisnis ternyata dalam perkembangannya tertuang dalam pedoman perilaku pemilik maupun pengelola usaha. Banyak di antara mereka yang memberlakukan semacam code of conduct untuk hidup lebih ‘lurus’. Petuah sang kakek nenek yang menyatakan bahwa ketika hidup seorang pebisnis berkelok-kelok, maka dengan alur itulah bisnis akan berjalan menjadi pelita dalam kehidupan mereka.

Sekilas memang terkesan kolot, namun cara pandang konvensional itu yang bagi sebagian kalangan, merupakan kekuatan nilai-nilai hidupnya. Ketika prinsip hidup bersinergi dengan nilai-nilai usaha, maka bisnis akan langgeng, dan rezeki mengalir deras. Prinsip itu pula yang diwacanakan di Sekolah Tinggi Manajemen, yang terletak di JaIan Menteng Raya 9-19, depan Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Tulisan dimuat di mingguan bisnis Kontan, 16 Desember-22 Desember 2013 H. 21

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s