Melirik Key Success Factor Pemilu 2014

Pesta demokrasi tak lama lagi akan berlangsung. Tinggal hitungan bulan, setiap partai politik (parpol) bekerja ekstra demi terciptanya efektivitas komunikasi agenda politiknya.

Ada yang benar-benar menjanjikan, ada pula yang disangsikan komitmennya oleh publik. Alhasil gandeng-menggandeng antara parpol dengan tokoh nasional pun diharapkan mampu mendongkrak perolehan suara.

Meski terkesan biasa saja, menilik kunci keberhasilan Pemilihan Umum 2014 kini menjadi barang mahal, terlebih ketika perekonomian nasional tengah dirundung duka seperti saat ini. Spontan tak hanya harapan masyarakat semata yang bertumpu pada hasil pemilu April 2014 namun juga kepentingan dunia usaha. Ketika RI-1 beserta segenap jajaran yang terpilih sesuai dengan “suara rakyat” maka hampir dapat dipastikan respons positif jualah yang akan tercipta.

Kunci keberhasilan pertama ada pada kolaborasi antarpartai. Meski strategi ini sudah menjadi santapan harian, namun parpol di lndonesia hendaknya memahami terminologi ini secara lebih arif. Ini setidaknya menimdai kedewasaan politik di Tanah Air.

Kolaborasi seyogianya tak lagi dipahami sebagai titik temu kepentingan politik yang sama melainkan sinergi kesamaan visi misi demi Indonesia yang lebih maju. Untuk itu pembukaan UUD 1945 alinea keempat hendaknya menjadi nafas bagi semangat baru dunia politik di dalam negeri.

Meski cukup naif bila berharap 100% pada ide kolaborasi tersebut, namun dengan adanya semangat warisan bangsa berupa gotong royong, seyogianya kerja sama antarpartai dapat mengerucut pada upaya memperbaiki kehidupan bangsa dalam berbagai dimensi. Cara pandang inilah yang membuka peluang luas bagi penyelesaian pekerjaan rumah yang selama ini tak kunjung usai.

Sebut saja masalah pemerataan kesejahteraan ekonomi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia hingga persoalan- persoalan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan mineral seantero Nusantara.

Lalu bagaimana kolaborasi itu terjadi? Jawabannya cukup mudah, masing-masing partai hendaknya memetakan keahliannya dalam mengelola bidang yang menjadi dasar persoalan tersebut. Nah, dengan pemahaman bahwa tidak ada satu partai yang memiliki semua keahlian secara mahir maka di situlah kolaborasi terjadi.

Partai pemenang hendaknya mampu memanfaatkan keahlian yang dimiliki parpol lain. Jadi dengan demikian sharing jabatan dalam konteks nasional bukan lagi didasarkan karena dukungan partai pada sang pemenang melainkan didasarkan pada keahlian yang dimiliki.

Kunci sukses kedua adalah kolaborasi antara semua partai dengan rakyat Indonesia, jadi tak hanya pemenang saja. Opini tersebut muncul karena kegagalan parpol dalam menjaga konsistensi romantisme bulan madu pasca kemenangan teraih. Saat tampuk kekuasaan teraih terdapat kecenderungan bahwa partai melupakan rakyat yang memilihnya.

Meski fenomena ini tergolong umum (karena terjadi di beberapa negara besar), namun Indonesia yang dipersenjatai dengan asas kekeluargaan seharusnya mampu memberikan bukti lebih baik. Atau bahkan menjadi contoh penerapan demokrasi yang utuh.

Untuk itu, setiap partai kini sudah harus menentukan konsep dasar layanan yang akan diberikan kepada publik pascapemilu. Sehingga dengan pola komunikasi yang efektif niscaya romantisme partaiĀ  dengan rakyat akan terus terbina.

Di sinilah kehadiran partai benar-benar diharapkan menjadi mitra strategis segenap rakyat Indonesia dalam mengarungi kehidupan baik ketika menjelang pemilihan ataupun pascapesta demokrasi.

Sadar atau tidak, bila pola ini diterapkan secara konsisten maka bukan mustahil jika bibit-bibit cinta keduanya akan bersemi. Bukankah ini akan menguntungkan partai pada pemilihan berikutnya?

Jika dicermati lebih dalam, tolok ukur keberhasilan model tersebut berawal dari definisi layanan yang akan diberikan (bukan yang dijanjikan). Kini publik di Indonesia tengah menanti hadirnya sosok parpol yang melayani dan bukan mereka yang ingin dilayani lewat suara yang diberikan.

Oleh karenanya konsep a servant party berikut servant leader menjadi prasyarat mutlak bagi teraihnya legitimasi dari masyarakat. Ketika seluruh rakyat bahu membahu bersama partai membangun daya saing Indonesia dalam kompetisi global, disitulah kesuksesan pemilu 2014 terjadi.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 17 Desember 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s