Berjabat Tangan dengan Tangan Terkepal

Checkered flag telah dikibarkan, sepeda-sepeda itu berkelebat bagaikan sekawanan lebah yang meninggalkan sarangnya, masing-masing ingin berada di posisi terdepan.

Setelah beberapa kilometer para pembalap itu telah terbagi dalam beberapa rombongan kecil. Di rombongan terdepan tampak seorang pembalap yang memacu sepedanya secepat mungkin, namun setelah beberapa lama berada di posisi terdepan ia memperlambat laju sepedanya, dan pembalap yang lain dengan sportif menggantikan posisinya, karena bagi seorang pembalap berada di posisi terdepan di awal etape adalah sebuah pengorbanan, karena ia harus berhadapan dengan angin sehingga beban lebih berat ditanggungnya ketimbang pembalap yang berada di belakang,

Aksi unjuk sportivitas ini terus berlangsung hingga menjelang garis finish. Dan ketika garis finish telah berada di pelupuk mata, para pembalap tidak lagi duduk di atas jok sepeda mereka, sekarang lebih tepat dikatatkan mereka sedang berlari di atas sepeda, dan sang pemenang pun berhak mengenakan t-shirt ketat berwarna kuning. Ucapan selamat pun disematkankan pada sang juara, aroma sportivitas semakin kuat tercium.

Ilustrasi balap sepeda di atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa di  dunia ini kita tidak akan pernah dapat mengerjakan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, bahkan dengan’pesaing  sekalipun. Etika, adalah kata kuncinya yang menghubungkan antara cooperation dan competition di dunia bisnis, bukan hanya antarpesaing (inter-organization) karena di waktu mendatang cooperation dan competition juga terjadi di dalam organisasi (withitn organization).

Banyak contoh yang tanpa disadari telah mengimplementasikan sebuah jalinan kerja sama yang baik antarpesaing. Di pusat penjualan komputer Mangga Dua misalnya, berkumpul sesama penjual komputer dan dengan mudah Anda akan menemukan beragam jenis komputer dengan segala spesifikasinya,

Anda cukup mendatangi satu toko saja, karena jika di toko itu tidak tersedia komputer dengan spesifikasi yang Anda inginkan, maka sejurus kemudian sang penjual akan mencarinya di toko yang lain yang notabene adalah pesaingnya, dan akan memberikan komputer seperti yang Anda inginkan.

Kenyataan ini jugaAnda dapat temukan di sentra penjualan telepon selular Roxy Mas Jakarta. Fenomena serupa juga dapat kita temui pada rumah sakit besar yang memiliki fasilitas MRI (Magnetic Resonance Imaging) biasanya juga meoerima rujukan dari rumah sakit yang kebetulan belum memiliki fasilitas ini.

Di dunia pendidikan, terutama di kalangan perguruan tinggi kini juga telah terjalin kerja sama antarperpustakaan, di Amerika kita mengenalnya dengan program Inter Library Loan, dengan kerja sama ini memungkinkan setiap perpustakaan saling meminjam buku atau majalah.

Namun di lain pihak masih kita temukan suasana persaingan yang kental pada bisms penyelenggara telepon selular (cellular phone provider) di tanah air. Mereka berlomba-Iomba mendirikan antenna relay atau juga dikenal sebagai repeater di pelosok tanah air. Jika mereka saling bekerja sama tentunya akan jauh lebih menguntungkan, dan di muka bumi, nusantara ini tidak perlu lagi ditaburi menara-menara besi yang terkesan angkuh itu.

Di negeri Paman Sam juga ditemui fenomena serupa. Jika ada gerai McDonald’s maka di dekatnya hampir dapat dipastikan berdiri gerai Burger King. Masing-masing merasa kehadiran pesaing justru menjadi hal yang positif bagi perkebangan bisnis mereka, bukan hanya sekadar sebagai benchmarking.

Bahkan di negara ini kita akan dengan mudah menyaksikan persaingan yang sedikit ‘vulgar’, misalnya beberapa tahun yang lalu produsen minuman ringan Pepsi menggagas sebuah iklan, digambarkan ada dua ekor simpanse yang dimasukkan ke dalam dua kandang yang berbeda, salah satu dari simpanse itu diberikan satu kaleng Coca-cola, dan simpanse yang lain diberikan sekaleng Pepsi.

Setelah sekian lama simpanse yang meminum Coca-cola ditemukan sedang membaca buku, sementara kandang yang lain kosong! Menyisakan pertanyaan, kemana gerangan perginya sang simpanse. Kamera pun kemudian bergerak ke arah pantai di sana’ sang simpanse sedang berpesta dengan gadis-gadis cantik.

Pilihan kini terletak pada konsumen akan :memilih produk minuman yang mana. Namun disini kita menemukan baik Coca-cola maupun Pepsi yang menggagas iklan ini sama-sama diuntungkan, dan tanpa mereka sadari, mereka telah saling bekerja sama dan saling membantu. Satu hal yang pasti dalam kehidupan berbisnis selain memerlukan mitra kita pun ternyata masih memerlukan pesaing.

*Tulisan dimuat di majalah Manajemen no. 162 Februari 2002. H. 56

Sukono SoebektiSukono Soebekti, Direktur Utama Lembaga Manajemen PPM (1998-2003)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s