Inovasi Ciptakan Stabilitas Ekonomi

Dunia usaha di Tanah Air kembali mendapat kejutan awal tahun. Baru beberapa hari menapaki 2014, industri lokal dihadapkan pada kenaikan harga bahan bakar elpiji yang mencapai 68%. Untuk tabung dengan isi 50 Kg, rata-rata kenaikannya bahkan mencapai Rp. 160.000,-.

Kenyataan ini spontan tak hanya mengguncang perekonomian rumah tangga namun juga sektor usaha mikro kecil menengah hingga bisnis perhotelan dan restaurant. Sejumlah berita berusaha menilik dampak kenaikan harga bahan bakar pada produsen roti ‘rumahan’. Kenaikan yang cukup tinggi disebut-sebut menjadi pemicu peningkatan harga jual produk.

Bila realitas ini didukung oleh peningkatan daya beli masyarakat mungkin tak jadi masalah, namun sebaliknya jika daya beli tak kunjung naik maka sudah dapat dipastikan akan berdampak pada penurunan volume penjualan. Lagi-lagi rumah tangga dan bisnis kecil–menengah yang harus menelan pil ‘pahit’. Selanjutnya, inikah yang dimaksud dengan stabilitas ekonomi?

Meski cukup sulit menilai ke arah itu, namun kondisi di lapangan setidaknya mengajarkan kita beberapa hal. Pertama tentang arti penting inovasi. Ketika harga bahan bakar khususnya non subsidi terjadi karena mekanisme permintaan dan penawaran di pasar maka sudah dapat dipastikan bahwa harga akan sangat dipengaruhi kedua faktor tersebut.

Saat penawaran berlimpah (lebih tinggi dari permintaan) maka secara otomatis harga akan menurun. Namun berbeda halnya dengan ketika permintaan jauh di atas pasokan yang ada maka harga akan terkerek naik. Belum lagi jika faktor kurs (nilai tukar) turut bermain di dalamnya. Kuncinya hanya satu: dunia bisnis domestik tidak boleh ‘terlena’ oleh situasi dan kondisi di lapangan. Inovasi untuk mencari sumber energi terbarukan lainnya kini sudah menjadi kewajiban.

Kita masih ingat dengan jelas betapa minyak dan gas bumi Nusantara menjadi primadona ekspor era 80-90-an. Terlepas dari kebijakan yang diterapkan kala itu, stabilitas ekonomi ditandai dengan kurs yang terkelola rapi pada kisaran tertentu juga ketersediaan pasokan bahan bakar dalam jumlah yang cukup. Kenaikan harga juga direncanakan sedemikian rupa sehingga terjadi secara bertahap dan tidak terlalu ‘menggagetkan’ semua kalangan. Kini situasi berubah seratus delapan puluh derajat.

Era primadona itu telah berakhir, diiringi dengan munculnya mekanisme perdagangan bebas. Pihak–pihak yang memiliki daya saing (khususnya di bidang competitive advantage) mampu mengalahkan mereka yang sejatinya mempunyai comparative advantage (kelebihan dalam hal sumber daya fisik) tinggi.

Realitas tersebut mengajak kita untuk terus mengupayakan energi alternatif terbarukan. Salah satu sumber energi yang mungkin menjadi alternatif saat ini adalah tenaga surya. Sebagai contoh, hantaman kenaikan harga elpiji yang dirasakan industri perhotelan di Tanah Air salah satunya terjadi pada aktivitas layanan pemanas air.

Menggunakan pemanas bertenaga surya kini layak menjadi pilihan terbaik. Selain ketersediaan yang cukup, alternatif penggunaan tenaga surya disebut-sebut lebih ramah lingkungan dan efisien sehingga bisa jadi meningkatkan efisiensi operasional layanan yang berujung pada peningkatan profitabilitas di tahun ini. Di sisi lain, pola ini ditengarai mampu menekan jumlah permintaan elpiji yang akan memungkinkan terjadinya penurunan harga.

Kedua, terkait definisi stabilitas ekonomi itu sendiri. Dewasa ini stabilitas ekonomi tak dapat dikaitkan dengan harga bahan-bahan pokok. Cukup sulit jika kita berharap stabilitas ekonomi dicapai melalui harga barang-barang yang ‘murah’ karena mahal tidaknya harga produk kini sudah menjadi ‘relatif’.

Saat harga faktor produksi meningkat namun di sisi penerimaan juga mengalami peningkatan yang lebih besar maka di situlah stabilitas ekonomi tercipta. Alhasil dunia usaha lokal kini perlu melihat stabilitas ekonomi tak lagi menggunakan kaca mata makro namun lebih kepada pengamatan mikro. Kini pekerjaan rumah terbesar segenap produsen domestik adalah segera merubah skenario rumusan daya saingnya.

Berbicara cost leaderships dewasa ini mungkin layak untuk sejenak di kesampingkan. Sebagai gantinya, strategi inovasi produk dan layananlah yang perlu mendapat perhatian lebih. Bila prinsip ini semakin banyak diamini maka bukan hal mustahil jika kita mampu kembali bersaing di kancah internasional sekaligus menciptakan stabilitas ekonomi dalam definisi yang baru.

Selamat memasuki tahun 2014. Sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 6 Januari 2014. Hlm. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s