Saat Ekonomi Ditentukan oleh Opini

Opini dan ekonomi kini merupakan dua hal yang sudah tak lagi mampu dipisahkan. Hubungan timbal balik yang bersifat positif di antara keduanya telah membawa pasar pada pemahaman bahwa ketika spirit optimis yang terbangun maka perekonomian akan bertumbuh secara signifikan, demikian pula sebaliknya.

Beberapa studi bahkan menyimpulkan bahwa opini jualah yang menentukan tinggi rendahnya tingkat ketidakpastian berbisnis di suatu negara. Opini negatif (bernada pesimis) secara langsung akan meningkatkan risiko bisnis. Sedangkan opini positif dapat menurunkan risiko yang ada. Realitas ini mau tak mau telah memperhadapkan kita pada upaya untuk membentuk opini positif demi kehidupan yang lebih baik.

Meski terlihat cukup sederhana, namun membentuk opini positif dewasa ini jauh lebih kompleks dibanding era orde lama dan orde baru. Derasnya arus masuk informasi global yang didukung oleh percepatan perputaran arus informasi dalam negeri telah membawa masyarakat (sebagai pelaku ekonomi) pada intepretasi yang berbeda.

Saat pemerintah mengumumkan rencana pembatasan penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi melalui pemasangan alat detector ‘RFID’, antrian kendaraan di sejumlah SPBU sempat terjadi.

Tak hanya itu, kepanikan pun sempat terjadi manakala di sejumlah daerah terdapat kelangkaan BBM. Spontan opini negative terkait ketersediaan BBM kala itu berimbas pada kehidupan social ekonomi masyarakat.

Harga-harga bahan kebutuhan pokok meningkat drastis. Kondisi serupa juga dialami segenap konsumen elpiji non subsidi di awal tahun ini. Ketika harga jual elpiji kemasan 12 kg sempat dipatok meningkat 68% spontan opini negatifpun kembali tercipta.

Alhasil saat keputusan direvisi dengan kenaikan hanya Rp. 1.000,- per kg maka langkah tersebut tidak dapat secara langsung menurunkan harga jual elpiji di pasar. Hari-hari ini elpiji 12kg masih dijual dengan harga Rp. 120.000.

Inilah realitas yang harus dicermati secara arif oleh semua pihak. Sebab jika tidak maka penurunan daya beli masyarakat akan terjadi; di satu sisi biaya hidup meningkat, di sisi lain pendapatan tidak mengalami peningkatan yang berarti.

Sejenak kita boleh belajar dari kebangkitan ekonomi China dan Korea Selatan. Geliat industri lokal yang terjadi di awal 2000-an sebenarnya berangkat dari sebuah semangat yang sama; bekerja dengan lebih produktif untuk hari depan yang lebih menjanjikan.

Anda mungkin akan berkata ‘bukankah kita juga memiliki spirit yang sama?’ Satu hal yang membedakan adalah keseragaman semangat di antara pelaku ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan langkah konkret pemangku negara saat merancang strategi industrialisasi domestik.

Sejumlah stimulus (mulai pajak hingga insentif investasi) bahkan diciptakan khusus untuk mendukung percepatan pertumbuhan industri dalam negeri. Tak puas hanya campur tangan di bidang produksi, pemerintah mengambil posisi dalam bidang pemasaran.

Melalui pemanfaatan jejaring yang dimiliki, pemerintah kedua negara tersebut berhasil memanfaatkan loby-loby perdagangan internasional. Puncaknya adalah ketika China mampu menempatkan mata uangnya sebagai salah satu ‘komoditi’ yang diburu di pasar global. Semakin banyak produk China digunakan maka opini positif dunia internasional atas pertumbuhan perekonomian di sana akan semakin berkembang.

Hal senada sebenarnya berpeluang terjadi di Indonesia, apalagi melihat semangat bangsa yang tercatat pada sejarah. Diperlukan sebuah gerakan bersama yang dilandasi kesadaran pentingnya merumuskan daya saing nasional demi bertahan di era perdagangan bebas.

Hal ini kiranya tak lagi dapat ‘dibalut’ dengan kepentingan golongan. Setiap pelaku ekonomi hendaknya melihat kembali ‘value preposition’ yang diberikan kepada mereka yang diposisikan sebagai mitra kerjanya.

Pasar (baca; konsumen) tak lagi dapat dipandang sebagai obyek strategi semata melainkan penentu masa depan perekonomian nasional. Karenanya opini yang tercipta harus mulai digunakan sebagai bahan evaluasi setiap kebijakan.

Memperhatikan efek domino jangka panjang dari rancangan kebijakan kiranya menjadi pertimbangan utama. Selanjutnya menumbuh kembangkan daya inovasi demi munculnya peluang emas di masa depan merupakan pekerjaan rumah rutin yang harus segera diselesaikan.

Langkah tersebut dipercaya mampu menumbuhkan opini positif Bangsa. Dengan demikian modal dasar pertumbuhan ekonomi nasional kita akan semakin kuat. Selamat berefleksi, sukses menyertai anda

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 13 Januari 2014. Hlm. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s