Harmonisasi Seni dan Dimensi Fisik

m.sana_.corpore.sano_Anda pasti sangat akrab dengan pepatah “Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.” Harmonisasi keduanya memang mutlak dibutuhkan dalam menjalankan bisnis.

Ketika fisik sedang tidak mendukung, pebisnis akan menemui sejumlah hambatan, mulai dari kesulitan menciptakan ide-ide inovasi hingga memberi arahan di lapangan. Alhasil ketika kondisi tersebut tak kunjung berubah, hampir dapat dipastikan ada pengaruh negatif ke profit perusahaan.

Minggu lalu, kelompok Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) mengalami kedukaan yang mendalam. Seorang mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis Reguler 8 Raifaza Alfaridzi berpulang. Siswa yang dikenal berkat kepiawaiannya memainkan piano ini meninggal dalam usia yang sangat belia.

Meski saya hanya mengenalnya dalam waktu yang sangat terbatas, namun beberapa ungkapannya ternyata memberi makna yang sangat mendalam. Satu yang saya ingat adalah perhmya harmonisasi antara seni dan kekuatan fisik.

Sepintas, mungkin Anda tidak menemukan hal yang baru dalam ide tersebut. Men sana in corpore sano sudah dikenal oleh kebanyakan dari kita, saat menduduki bangku sekolah dasar. Namun tidak demikian halnya dengan sisi praktis dari konsep tersebut.

“Saat menjalankan roda usaha, segala sesuatu terlihat sangat penting sehingga seringkali kita tidak punya waktu untuk berolah raga. Padahal kekuatan fisik mutlak diperlukan terlebih saat bisnis sedang berada pada fase pengenalan,” ungkap Tri Alga. “Baru terasa seteiah kondisi tubuh menurun, sedangkan di sisi lain ada banyak pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak dapat ditunda lagi,” imbuh dia.

Fenomerna itu yang mendudukkan konsep manajemen sebagai sebuah “seni”. Marier Pierce, seorang cendekiawan mengungkapkan bahwa “management is an art of doing something.” Napas dasar dari manajemen dipahami dalam konteks seni sehingga dalam seni inilah, manajemen dikenal dengan fleksibilitas dan keindahannya. Coba lihat bagaimana cara yang efektif untuk membangun hubungan dengan pelanggan.

Firman Agus, anggota PPM yang juga seorang pebisnis kuliner punya pengalaman semacam itu. “Suatu ketika saya terlambat mengawal pasukan katering mengantar pesanan kepada seorang pelanggan kamL Setibanya di lokasi, kami hanya terlambat lima belas menit dari jadwal. Namun apa boleh buat ratusan karyawan sudah menanti kehadiran kami yang akan menyajikan makan siangnya. Caci maki pun menjadi santapan siang kami kala itu,” tutur Agus.

Bagi Agus yang kala itu masih dalam fase pembelajaran, terlambat mengantarkan produk diyakini sebagai hal yang dapat termaafkan. Namun tidak demikian halnya dengan si pelanggan. “Kontrak kerja kami langsung diputus Pak,” tegas Agus. “Saya jadi kehilangan pelanggan, yang berarti juga kehilangan kas masuk,” imbuh dia.

Bahagia dan inovasi

Sungguh sebuah pembelajaran yang baik bagi kita sekalian. Kualitas memang telah menjadi faktor dominan dalam menjalankan roda usaha. Ketlka hal yang satu ini hilang, maka secara otomatis melayang pulalah kepercayaan konsumen. Namun satu hal yang menarik untuk dicermati adalah cara Agus untuk tetap memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan.

“Keesokan harinya saya resmi datang berkunjung untuk meminta maaf Pak. Mulai dari membuat pernyataan tertulis hingga berupaya memperbaiki mutu layanan berupa layanan gratis. Niatan kami kala itu tulus untuk meminta maaf, tanpa adanya motif berharap agar kontrak diteruskan,” tutur dia.

lnilah penerapan customer relationships management, terutama di bidang service recovery. Memang praktik ini mengandung biaya, namun wajib dilakukan. Di situlah sebenarnya seni dalam berbisnis. Ketika ungkapan permintaan maaf hanya dilakukan secara formal tertulis, seperti melalui surat,  maka respons yang diperoleh akan sangat berbeda dengan ketika dilakukan meminta maaf secara kesantunan adat timur.

Paham Timur menekankan bahwa ungkapan rasa bersalah harus diekspresikan secara langsung kepada pihak yang dirugikan. Hanya dengan cara itu kita dapat beroleh maaf yang tulus. Dari pengalaman itu, Agus mempelajari beberapa hal. “Pertama, masalah komunikasi dengan tim, lalu kedisiplinan yang ternyata bersumber pada kesiapan fisik dalam bekerja di kesehariannya, Pak,” ujar dia.

Secara pribadi, saya sangat sepakat dengan kesimpulan Agus. ProfesionaIisme harus diprioritaskan, hingga hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana menyiapkan fisik agar tetap prima dalam beraktivitas.

Secara psikologis ditemukan bahwa ketika setiap fungsi tubuh beroperasi secara utuh, maka manusia cenderung memiliki perasaan yang bahagia. Nah perasaan inilah yang pada akhirnya akan menciptakan semangat untuk berkarya.

Kebahagiaan yang ditandai dengan perasaan tanpa tekanan, umumnya berujung ke pola pikir yang siap keluar dari zona nyaman saat ini. Di situlah ide-ide kreatif inovatif umumnya dapat dengan mudah ditemukan. Tak jarang bahkan pada kondisi tersebut manusia mampu merumuskan ide-ide bisnis terbaik.

“Benar, Pak. Beberapa waktu kemudian, saya kembaIi diminta menyuplai makan siang karyawan di pabrik itu. Tentunya dengan persyaratan yang cukup kompleks. Secara pribadi saya ikhlas mengingat ini merupakail poin pembelajaran bagi kesuksesan yang akan diperoleh di masa depan,” tutur Agus.

Akhirnya, harmonisasi seni dan dimensi fisik jualah yang akan mengantar para Pebisnis Pengkolan Menteng pada kesuksesan kariernya.

*Tulisan dimuat di mingguan bisnis Kontan, 30 Desember 2013-5 Januari 2014. Hlm. 21.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s