Antisipasi Risiko Alam

Banjir yang melanda sejumlah daerah di Nusantara seminggu ini telah berhasil memorakporandakan perekonomian setempat. Pusat-pusat perdagangan hingga toko kelontong pun terpaksa tutup karena banjir. Padahal, di sisi lain, permintaan akan produk-produk kebutuhan sehari-hari tetap ada.

Bak aliran air yang mencari tempat rendah, pola permintaan pun akan terus mencari penawaran di mana pun berada. Satu hal yang cukup mengkhawatirkan adalah ketika jumlah penawaran sangat terbatas, maka kenaikan harga-harga produk akan terjadi. Di situlah ancaman inflasi mulai menghantui.

Imbas bencana banjir kali ini tak berhenti di situ saja. Kepanikan dan chaos yang terjadi saat bencana datang telah membuat setiap pribadi cenderung ‘mengamankan’ keselamatan diri dan keluarganya dibanding harta benda.

Hal senada juga terjadi ketika banjir melanda kompleks perkantoran. Dapat dipastikan akan banyak sekali dokumen yang rusak akibat terjangan air. Kerusakan ini tak hanya menimbulkan kerugian yang bersifat material melainkan juga imaterial, seperti jika dokumen mencatat sejarah pertumbuhan perusahaan. Lalu upaya apa yang wajib dilakukan?

Hal utama yang perlu dicermati adalah terkait pemahaman risiko. Meski kini masih terdapat pandangan yang menyamakan risiko dengan ketidakpastian, namun sejatinya risiko merupakan sebuah kejadian di mana probabilitas terjadinya serta dampak yang ditimbulkan dapat diukur.

Bila definisi ini dinilai tepat maka banjir yang selama ini dicitrakan sebagai kejadian tahunan sudah dapat dikategorikan risiko. Tak hanya itu, ukuran dampak yang ditimbulkan pun sudah dimiliki dengan jelas. Kita dapat dengan mudah berkaca pada pengalaman banjir tahun lalu. Karenanya, langkah penanganan risiko ini mutlak diperlukan berbagai pihak.

Menghadapi bencana banjir dapat dilakukan melalui dua cara: menghindarinya atau meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Upaya menghindari bencana khususnya banjir umumnya menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Langkah peremajaan tanggul dan bendungan serta pembersihan sungai merupakan satu upaya konkret mengurangi peluang terjadinya bencana. Semua program ini umumnya menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Namun bukan berarti kontribusi rakyat tidak diperlukan. Kehadiran paradigma yang tepat serta komitmen yang kuat dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadi banjir mutlak diperlukan bagi program ini. Lalu bagaimana halnya jika banjir sudah tak dapat dihindari lagi? Solusi satu-satunya adalah memitigasi risiko tersebut. Berikut beberapa langkah yang dapat dijadikan alternatif.

Pertama, sistem penyimpanan dokumen berganda. Bila sebagian besar sistem komputer perusahaan terletak di basement yang mempunyai peluang terkena bencana paling besar, manajemen perlu menduplikasi dokumen untuk disimpan ‘di udara’.

Melalui pemanfaatan teknologi internet, kini semua dokumen penting perusahaan dapat disimpan secara online. Jika Anda khawatir dengan segi keamanannya maka mekanisme decoding dapat menjadi solusinya.

Kedua, terkait perlunya pemanfaatan sistem virtual office (VO) yang memungkinkan mekanisme operasional harian perusahaan tetap berjalan meski mungkin tetap mengalami pengurangan level aktivitas. Setidaknya, melalui mekanisme kerja ini, pene:apan rencana strategis perusahaan dapat tetap dilakukan dalam kondisi darurat.

Bila Anda tertarik dengan mekanisme ‘VO’ maka dukungan infrastruktur internet maupun sumber energi listrik mutlak dibutuhkan. Kealpaan satu dari kedua konstrain tersebut akan berujung pada hambatan pelaksanaan VO.

Benefit lain dari sistem kerja VO dalam kondisi darurat adalah pendistribusian informasi tentang kondisi di lapangan secara langsung. Dengan cara ini niscaya opini yang beredar tidak terlalu terdistorsi oleh hal-hal lain. Dari segi psikologis, peran VO dalam konteks tersebut diyakini mampu mempertahankan perekonomian lokal pada tataran rasionalnya.

Kondisi berbeda halnya dengan saat di mana pola ekonomi dikemudikan oleh kepanikan pasar. Melalui pemahaman tentang kondisi yang tengah terjadi dan disampaikan oleh sumber terpercaya secara real time, pola ini dapat terus mengupayakan optimisme pasar kala bencana tiba.

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 22 Januari 2014. Hlm. 15.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s