Pelajaran Berharga Renungan Seorang Wrekudara

wrekudaraTak terasa, kini, kita telah berada di hari pamungkas tahun 2013. Dalam hitungan detik tahun 2014 akan tiba. Tahun di mana sejumlah agenda mulai dari ekonomi hingga politik akan dijalankan.

Satu hal yang membuatnya begitu spesial adalah bahwa kedua agenda tersebut sama-sama berujung pada kondisi sosial ekonomi rakyat juga nasib bangsa ini tentunya. Di lain sisi persaingan perdagangan bebas telah mengancam sendi-sendi ekonomi nasional. Dengan begitu, hasil yang kurang tepat akan berujung pada pelemahan daya saing domestik di pasar intemasional.

Sebagai sebuah catatan akhit tahun, artikel ini mengajak Anda untuk merenung dalam menemukan kembali inti misi hidup, baik secara pribadi maupun dalam kapasitas kita sebagai pemimpin.

Saya teringat kisah Wrekudara dalam menimba ilmu dari sang guru. Dua dimensi yang membangun cara pandang manusia (kemanusiaan dan keilahian) dipercaya hadir secara utuh di setiap pribadi. Seorang yang divonis bersalah pun secara hukum pada titik tertentu akan mengakui serta menyesali setiap perbuatannya. Di sinilah pertobatan hadir sebagai buah-buah ilahi.

Nah, berangkat dari pandangan tersebut, setiap individu yang menyadari betul posisinya sebagai seorang pemimpin hendaknya mampu mengelola kedua dimensi ini secara harmonis. Di satu sisi kita memahami kelemahan manusia, di sisi lain terdapat pemahaman bahwa kekuatan ilahi jualah yang akan memperkuat sisi lemah tersebut.

Ketika seorang Wrekudara ingin menemukan kehidupan, ia diperhadapkan pada permintaan sang guru yang sangat filosofis: masuk ke dalam tubuh sang panutan. Ini sama dengan saat pemimpin dihadapkan pada tuntutan untuk memahami kesulitan mereka yang dinaunginya.

Begitu filosofis hingga terkadang pemimpin tak mampu melakukannya. Alhasil hanya janji-janji yang sebatas retoris pulalah yang akan muncul, padahal dalam konteks suara rakyat merupakan suara Tuhan, seharusnya itu dipandang tabu.

Kisah berlanjut, setelah berhasil mengatasi setiap halangan Wrekudara pun berhasil meminum air yang dikenal dengan air kehidupan. Sebuah spektrum kehidupan yang membuatnya mampu melihat segala sesuatu dengan lebih indah.

Sebagai seorang pemimpin, kebutuhan untuk didengarkan selalu lebih besar ketimbang keinginan untuk mendengar. Kritik dan masukan sering kali dipandang sebagai warna yang berbeda. Namun, pelajaran dari Wrekudara jelas-jelas menuntun kita pada pemahaman bahwa semakin bervariasi warna yang terlihat di situlah keindahan hidup ditemukan.

Bila kita hanya terfokus memandang satu warna, definisi indah hanya akan tertuju pada satu warna tersebut. Padahal, pada saat yang sama dunia mendefinisikan keindahan dengan variasi warna. Alhasil, paham ini akan mengubah cara pandang kita dari didengarkan menjadi mendengarkan.

Poin perenungan berikutnya adalah titik puncak ketika Wrekudara menemukan air kehidupannya; memandang kesatuan antara sisi ilahi dengan sisi manusianya. “Dalam kelemahannya, manusia menemukan kekuatannya.” Inilah buah-buah Keilahian Yang Esa. Terlebih ketika dalam kapasitas tersebut ia memandang dirinya bukan lagi secara harfiah, melainkan secara spiritual. “Bukan lagi Aku melainkan Kamu”.

Di sinilah sebenarnya perenungan terbesar seorang pemimpin; tak lagi berbicara kepentingan individunya, melainkan kepentingan mereka yang dipimpinnya. Tengoklah seorang Mahatma Gandhi, Bunda Theresia, atau sejumlah pahlawan nasional Indonesia sebut saja Jenderal Soedirman atau Pangeran Diponegoro. Mereka memandang kehidupannya sebagai saat untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan dan cita-cita yang lebih mulia.

Ke depan ada banyak cita-cita nasional yang harus direalisasikan; begitu banyak kepentingan yang dipertaruhkan. Karena itu, kehadiran pemimpin yang mampu memaknai ‘death within life’ atau ‘life within death’ (mematikan dirinya untuk hidup bagi orang lain) diyakini mampu membawa bangsa ini pada kehidupan yang lebih menjanjikan.

Selamat Tahun Baru, sukses untuk setiap cita-cita lndonesia pada tahun yang baru.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 31 Desember 2013. h. 18.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo. Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s