Organizational Inertia

kodok-rebus“BUMN perlu pemimpin yang bersemangat!” pungkas Dahlan Iskan (DI). DI senantiasa menggunakan dua kriteria ketika memilih  Direktur Utama di BUMN, yaitu Integritas yang dimaknai dengan kata kejujuran, dan Antusiasme yang dimaknai dengan semangat.

Dalam kesempatan launching buku “Great Spirit, Grand Strategy” yang digelar di PPM Manajemen, 19 Desember 2013 yang lalu, Arief Yahya (AY), CEO PT Telkom Persero, Tbk.,  menambahkan kata Totalitas sebagai amunisi tambahan untuk menjadi pemimpin yang sukses.

Dalam pengamatan AY  terdapat tiga masalah utama yang banyak menghinggapi pimpinan BUMN, masalah tersebut adalah  Solid, Speed, dan Smart (3S). Lebih jauh AY menjelaskan, “Filosofi hukum rimba mengatakan siapa yang cepat akan memakan yang lambat, namun belum tentu yang besar dapat memakan yang lebih kecil.”

Disinilah semangat diperlukan. Untuk berlari dengan cepat sangat diperlukan semangat. Sedangkan yang hanya menambah beban ketika harus  memacu kecepatan adalah kelembaman atau inersia, yang jika terjadi pada organisasi, maka disebut dengan Organizational Inertia  yang dapat diartikan sebagai kelembaman (baca; kemalasan) organisasi.

Kelembaman organisasi ini perlu dipahami penyebabnya dengan cermat,  karena sering kali tidak disadari hingga setelah terlihat nyata semuanya sudah menjadi terlambat, seperti fenomena “Kodok Rebus” dimana seekor kodok (katak) ketika direbus pada awalnya tidak menyadari bahaya yang dihadapinya, bahkan cenderung merasa nyaman, dan ketika air semakin mendidih sang kodok sudah tidak mampu melarikan diri, dan perlahan mati terebus!

Kelembaman diawali dengan resistensi untuk berubah, biasanya dimulai dengan keengganan menghadapi risiko. Padahal semua keputusan selalu ada risikonya. Semakin besar benefit yang diharapkan semakin besar pula potensi risikonya. Keputusan stratejik yang menjadi tanggung jawab pimpinan puncak selalu berskala besar sehingga juga akan berisiko besar.

Umumnya risiko dapat terjadi dalam jangka pendek, sedangkan hasilnya mungkin dipetik dalam jangka panjang. Investasi produk baru atau perluasan pabrik baru misalnya, biaya pembangunan infrastruktur akan langsung terlihat sedangkan pendapatan baru diterima setelah pabrik beroperasi normal.

Pemimpin yang cenderung mencari aman, tidak akan berani mengambil keputusan besar karena mempertimbangkan masa kepemimpinannya yang terbatas. Tidak hanya mencari aman, pemimpin seperti itu juga sebenarnya mencari keuntungan jangka pendek.

Biaya investasi yang langsung dibebankan dalam bentuk biaya penyusutan dapat langsung menggerus laba, selain kemungkinan kesulitan dana kas bila dibiayai sendiri, atau kewajiban membayar bunga bila dibiayai dari pinjaman. Laba tergerus akan membuat bonus juga mengecil. Diperlukan energi besar dalam diri sang pemimpin untuk meyakinkan banyak pihak bahwa ini adalah investasi yang benar sementara melihat kondisi kas menipis dan biaya yang meningkat.

Birokrasi yang terlalu birokratis akan menjadi faktor berikutnya yang membelit kaki pemimpin untuk melakukan perubahan besar. Bahkan dalam beberapa kejadian masih terjadi semacam kriminalisasi keputusan bisnis yang berujung pidana. Kondisi ini akan semakin menyiutkan nyali sang pemimpin untuk melakukan terobosan besar yang berdampak kebaikan untuk jangka panjang.

Situasi ini menjadi tantangan bagi pemimpin yang memiliki integritas dan kecerdasan intelektual tinggi serta didukung oleh antusiasme, semangat yang menyala-nyala! Namun itu saja belum cukup, dibutuhakan organisasi dan lingkungan pemangku kepentingan yang ‘Solid’, bersatu untuk menyatukan langkah, mendukung dan menghadapi risiko bersama-sama. Sinergi antar-BUMN adalah contoh nyata dukungan kebersamaan itu.

Tahun 2014 adalah tahun yang diramalkan lebih dinamis dari tahun sebelumnya. Tidak hanya karena 2014 adalah ‘tahun politik’ tapi juga pergolakan ekonomi global yang masih terus berlangsung, tarik menarik kepentingan antar-negara akan semakin kuat.

Tidak hanya negara miskin dan sedang berkembang yang dinamis mencari selamat, bahkan negara Superpower sekelas Amerika dan negara di Eropa pun juga sudah ikut terancam. Itu sebabnya perkiraan ahli ekonomi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi sangat bervariasi mulai dari 4,9 sampai 6,4%. Tidak pernah sebesar itu variasinya. Lingkungan dinamis ini akan menjadi alat uji nyata bagi pemimpin yang sukses, karena ujiannya memang berat!

*Tulisan dimuat di majalah BUMN Track No. 78 Tahun VIII Januari 2014. H. 40.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D.
Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s