Banjir dan Ujian CSR Perusahaan

Bencana banjir yang melanda sebagian wilayah Indonesia minggu lalu merupakan hal yang sangat memilukan. Tak terhitung berapa besarnya kerugian materiil maupun non materiil yang ditimbulkan.

Belum lagi kondisi pasca bencana: kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai imbas dari gangguan distribusi produk serta motif ekonomi yang diterapkan sejumlah pedagang menghadapi peningkatan permintaan. Semua ini menggambarkan kompleksitas tanggung jawab social (CSR) yang harus diemban oleh setiap elemen masyarakat termasuk perusahaan.

Diskusi tentang CSR tidak dapat dilepaskan dari kepentingan masyarakat. Dewasa ini terdapat banyak perusahaan yang memanfaatkan program social untuk memperkuat pencitraan di masyarakat. Tak ayal program-program sosial berbasis pendidikan maupun kesehatan dinilai cukup efektif dalam membangun paradigm positif pada masyarakat.

Meski demikian sebagian kalangan tetap menilai program-program tersebut hanya bersifat retoris. Sesaat setelah program usai dilaksanakan maka hubungan erat yang selama ini berlangsung pun dapat terputus. Padahal aktivitas social yang diperlukan adalah bagaimana perusahaan mampu bersinergi untuk membangun sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Alhasil bencana banjir di awal tahun ini merupakan ujian bagi tanggung jawab sosial perusahaan yang sejati.

Pertama, besar kemungkinan korban bencana merupakan anggota keluarga perusahaan itu sendiri. Saat banjir melanda di awal minggu lalu, sejumlah pabrik bahkan terpaksa mengurangi kapasitas produksinya karena karyawan yang tak mampu menembus genangan air saat dalam perjalanan.

Selanjutnya ketika bencana berlangsung dalam beberapa hari, para korban mulai menderita penyakit sehingga produktivitas kerjanya pun terganggu. Itulah mengapa prinsip membantu korban sama dengan menolong karyawan dapat diterapkan. Alhasil aktivitas kemanusiaan seperti menyiapkan bantuan yang bersifat materiil kepada para korban merupakan langkah awal yang sangat strategis.

Kedua terkait proses pemulihan perekonomian para korban pasca bencana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bencana banjir secara otomatis telah menumpulkan kekuatan ekonomi masyarakat. Belum sempat berpikir upaya membangun kembali kekuatan ekonomi rumah tangga, para korban cenderung berusaha untuk memulihkan kehidupan fisik keluarganya terlebih dahulu.

Di situlah peran perusahaan mutlak dibutuhkan, khususnya untuk mendampingi kehidupan ekonomi para korban. Pemberian pelatihan dan ketrampilan khusus yang berujung pada penciptaan peluang bagi para korban untuk menjadi mitra strategis perusahaan dapat menjadi alternatif terbaik.

Pola ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekonomi para korban banjir. Tak hanya itu, transfer pengetahuan sangat mungkin terjadi sehingga paradigma kehidupan masyarakat dapat lebih bersahabat dengan lingkungan. Melalui cara ini jualah maka upaya menghindari bencana secara bertahap dapat terjadi.

Hal ketiga terkait kondisi infrastruktur pasca bencana. Debit aliran air yang sangat deras telah memporakporandakan infrastruktur mulai dari jalan raya, jembatan hingga perumahan warga. Di situlah kehadiran program CSR perusahaan dibutuhkan.

Alih-alih menanti program pemerintah, perusahaan dapat mengambil inisiatif untuk saling bahu membahu dengan pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki infrastruktur yang rusak. Di satu sisi perbaikan ini bertujuan untuk membantu masyarakat sekitar, di sisi lain perusahaan juga diuntungkan.

Melalui infrastruktur yang mendukung maka akses menuju dan keluar dari wilayah perusahaan dapat beroperasi secara efektif. Nah bila prinsip ini yang diyakini tepat oleh semua perusahaan maka jalur transportasi darat yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dapat terbangun dengan lebih baik.

Selain mendukung distribusi, mekanisme tersebut juga berdampak positif pada terciptanya paham bahwa menjaga dan memelihara fasilitas umum merupakan tanggung jawab bersama. Melibatkan masyarakat dalam upaya perbaikan infrastruktur ini akan mampu menciptakan rasa memiliki pada fasilitas bersama. Dengan demikian kemandirian masyarakat akan tercipta dalam jangka panjang. Di situlah CSR yang sejati ditemukan.

Semoga bencana ini lekas berlalu. Sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Jawa Pos, 23 Januari 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s