Taktik Hindari Tekanan Pasar

Memasuki tahun kuda kayu kali ini segenap pelaku ekonomi diprediksi akan melakukan banyak pekerjaan ekstra. Betapa tidak, selang setahun terakhir ini Rupiah bersama-sama dengan sejumlah mata uang lokal lainnya (Thailand Bath, Ringgit Malaysia, serta Filipina Peso) telah mengalami pelemahan hingga 1,9%.

Situasi ini diyakini timbul sebagai dampak pemulihan perekonomian di Amerika Serikat yang memicu aksi penarikan dana dari sejumlah investor dari pasar ASEAN. Aksi inilah yang menempatkan Rupiah kita di level Rp. 12.350 per Dollar Amerika. Alhasil langkah Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan hingga 25 basis poin yang awalnya bertujuan untuk menahan larinya dana kini mulai berimbas ke sektor industri.

Efek sundulan dari kenaikan suku bunga acuan pada suku bunga kredit telah membuat perbankan maupun manufaktur ‘merugi’. Perbankan mulai mengalami kesulitan dalam mendistribusikan kreditnya, sedangkan industri manufaktur harus berhadapan dengan ekonomi biaya tinggi.

Celakanya, situasi ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk India, juga mengalami hal serupa. Mata uang Rupee kini sudah tak secantik dulu. Hampir setiap hari aksi pelemahan terjadi. Demikian pula halnya dengan Thailand. Situasi politik yang tak lagi kondusif kini malah memperparah perekonomian lokal.

Nah berangkat dari pemahaman integrasi perekonomian antar negara sebagai akibat era perdagangan bebas, kini hal yang perlu diwaspadai adalah efek sistemik dari setiap gejolak yang ada.

Berkaca dari pengalaman krisis di 1997-1998, kala itu gonjang-ganjing ekonomi di Thailand secara cepat menyebar hingga ke tanah air. Usut punya usut bisa jadi salah satu penyebabnya adalah sistem pengendalian mata uang kita yang menggunakan fixed exchange rate. Saat tekanan pasar melanda, alih-alih ingin mengamankan nilai tukar Rupiah, langkah ini malah menciptakan kecemasan pasar.

Kini ketika Indonesia menggunakan skema mengambang, maka nilai kurs diserahkan pada mekanisme pasar. Dengan kata lain psikologis pasarlah yang akan menggerakkan investor untuk membawa Rupiah pada posisi amannya.

Satu-satunya langkah untuk menangkis gejolak ekonomi regional maupun global adalah memperkuat fundamental ekonomi melalui peningkatan ekspor. Ini saatnya bagi sektor industri kreatif dalam negeri untuk meraup keuntungan dari nilai tukar Rupiah di level Rp. 12.000-an.

Sektor yang diyakini memiliki fleksibilitas dalam mengelola biaya produksi dan operasi ini diharapkan mampu memenuhi standar minimum kualitas sebelum produk diterbangkan ke pasar Amerika, Eropa maupun China. Hanya dengan cara itu peningkatan ekspor dapat terjadi.

Upaya kedua yang perlu dikembangkan adalah dengan terus berinovasi guna meningkatkan ‘value’ dari produk. Berbagai kalangan menilai bahwa sektor yang sarat dengan ide-ide kreatif ini perlu dikembangkan secara serius karena hingga satu titik, produk akan bergeser dari produk khusus menjadi produk masal.

Moment inilah yang dinanti oleh manufaktur lokal. Kebangkitan ekonomi China telah membuktikan bahwa kecepatan sektor manufaktur dalam membaca peluang yang diciptakan oleh sektor kreatif mampu membangkitkan aktivitas usaha mikro kecil menengah di negara tirai bambu itu. Tak hanya itu, peningkatan aktivitas ‘home industry’ telah membuka lapangan kerja secara luas. Dengan dukungan berupa stimulus pajak dari pemerintah niscaya produk dapat diproduksi secara murah.

Tak mau berhenti di situ, pemangkasan jalur distribusi dipercaya mampu meningkatkan efisiensi dan performa perusahaan. Untuk hal ini, kita perlu belajar dari China. Keberanian produsen untuk menjual produk tanpa ‘label’ ataupun produk-produk setengah jadi telah menciptakan pasar-pasar baru.

Tengoklah bagaimana China turut mempercepat perputaran roda penjualan telepon seluler berbasis android akhir-akhir ini. Kebijakan menjual produk dalam kuantitas tertentu tanpa label telah membuat banyak UKM di sana menjadi tempat ‘kulakan’ pebisnis dunia (termasuk Indonesia).

Pasca membeli dalam jumlah tertentu, setibanya produk di negara tujuan maka pemain hanya tinggal menyiapkan merek, bungkus, buku manual serta layanan purna jual. Melalui cara inilah telpon seluler dapat dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Bila kondisi itu mampu dipertahankan dalam jangka panjang niscaya kekuatan daya tawar menawar produsen di sana akan semakin tinggi. Di situlah penguatan mata uang lokal serta fundamental ekonomi negara tercipta.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Media Indonesia, 3 Februari 2014. Hlm. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s