Membangunkan Pasar Pasca Banjir

Bencana banjir yang hingga saat ini melanda sejumlah besar daerah di Indonesia telah berhasil melumpuhkan perekonomian. Terganggunya fasilitas infrastruktur di sejumlah wilayah telah berdampak negatif pada indikator perekonomian nasional. Ancaman kenaikan inflasi, penurunan indeks harga saham gabungan serta pelemahan Rupiah merupakan dimensi yang ‘menidurkan’ pasar.

Sebagai contoh, banjir tahun ini membuat produksi pertanian dalam negeri terhenti. Lahan persawahan yang sedianya dapat dipanen kini tergenang air. Demikian halnya dengan lahan sayur-mayur. Debit air yang tinggi telah meluluhlantakkan sektor ini, padahal produksi pertanian merupakan kebutuhan primer. Alhasil penurunan penawaran yang disertai dengan peningkatan permintaan akan terjadi. Terbayang jelas potensi peningkatan harga pangan beberapa hari ke depan. Situasi inilah yang perlu segera diantisipasi.

Membangunkan pasar dari tidur siangnya bukanlah hal yang mudah. Diperlukan sinyal positif agar pasar kembali bergairah. Sinyal itu tak lain adalah optimism pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Seperti telah diketahui, tahun 2014 merupakan penentuan kecepatan pertumbuhan ekonomi yang akan membawa Indonesia sebagai pemimpin pasar baik di tingkat regional maupun internasional.

Salah satu event besar yang menjadi pusat perhatian di awal tahun adalah pemilihan umum serta pemilihan Presiden. Bila para pemimpin terpilih mendapat legitimasi dari pasar, maka respon positif akan mendorong pertumbuhan secara lebih cepat. Namun hal sebaliknya juga dapat terjadi. Ini yang sebenarnya ditakutkan oleh sebagian besar kalangan. Ketika legitimasi pasar tak kunjung diperoleh maka hal ini malah melemahkan daya saing Indonesia saat menghadapi ASEAN Economic Cooperative.

Mencermati realitas tersebut maka syarat pertama untuk dapat membangunkan pasar adalah mekanisme yang mampu menjaga stabilitas pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok di seluruh wilayah nusantara. Membuka keran impor bisa jadi solusi terbaik saat ini (mengingat penurunan produksi). Agar harga eceran yang dibayar konsumen tidak terlalu tinggi maka pemberian subsidi serta aktivitas operasi pasar dipercaya mampu menahan kenaikan harga yang juga berarti menghambat peningkatan laju inflasi.

Hal kedua adalah mempercepat upaya perbaikan infrastruktur di setiap daerah. Meski opini ini harus berhadapan dengan mekanisme birokrasi yang ada, namun darurat banjir setidaknya dapat digunakan sebagai pijakan untuk segera mengalokasikan anggaran bagi perbaikan infrastruktur penghubung yang rusak akibat bencana.

Dengan perbaikan ini diharapkan distribusi produk khususnya bahan-bahan pangan dapat kembali berjalan normal. Hal senada juga diharapkan terjadi pada aktivitas produksi. Infrastruktur jalan raya yang baik akan mempermudah mobilisasi faktor-faktor produksi antar wilayah.

Demikian pula halnya dalam penyediaan energi. Langkah konkret di lapangan untuk segera memfungsikan kembali sumber-sumber energi yang terganggu akibat banjir perlu segera dilakukan. Pola ini dipercaya mampu menggairahkan kembali perekonomian daerah.

Bila kedua langkah tersebut berhasil dalam jangka pendek, maka elemen berikutnya yang mampu menggairahkan pasar adalah insentif dalam bidang permodalan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penurunan kinerja ekonomi akhir-akhir ini dipicu oleh ekonomi biaya tinggi. Ketika suku bunga acuan meningkat, maka secara otomatis bunga kredit modal kerja juga turut terkerek naik. Tak hanya itu, potensi kebangkrutan pun kini mulai mengancam kinerja keuangan sejumlah perusahaan. Saat risiko meningkat maka otomatis biaya ekuitaspun akan semakin mahal.

Satu-satunya cara yang berpotensi meredam gejolak tersebut adalah dengan mengurangi ketidakpastian pasar. Dengan filosofi dasar bahwa pasar membutuhkan kepastian, maka wacana untuk menaikkan beberapa tariff seperti tarif dasar energi di tahun ini perlu dipertimbangkan ulang.

Hal ini bertujuan memberi kesempatan bagi industri untuk beradaptasi dengan biaya-biaya ‘baru’. Ketika adaptasi itu berhasil maka harga-harga akan bergerak dengan stabil. Di situ barulah upaya pengurangan subsidi dapat dilakukan.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 27 Januari 2014. Hlm. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s