Banyak Bencana Alam, Rajinlah Menabung

Kita semua prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini. Mulai dari bencana banjir, meletusnya gunung, terjadinya tanah longsor dan gempa. Seakan alam hendak memperlihatkan kemurkaan akibat kurangnya perhatian manusia akan lingkungan hidupnya di awal tahun kuda kayu, yang katanya ramalan, peruntungan rejeki akan semakin baik.

Bencana banjir menyisakan sengsara, seperti berlubangnya jalan, bahkan amblas, sehingga menghambat transportasi komoditi penopang kehidupan seperti sayur mayur, sumber protein hewani (ikan, ayam dll) , telur atau beras. Tak pelak lagi, harga-harga pun semakin merangkak naik. Kenaikan di tukang sayur, lebih tinggi lagi, karena sang pedagang harus berebut dan berjuang untuk mendapatkan sumber dagangannya.

Lingkungan yang terjadi saat ini bisa mempengaruhi kondisi dasar, struktur industri dan pasar yang pada akhirnya akan mempengaruhi pula daya saing di dalam negeri maupun di luar negeri (Pearce, C.L., Marciariello, J.A., Yamawaki, H., 2010).

Kualitas produk juga bisa ikut terpengaruh. Curah hujan yang tinggi, bisa membuat para petani sayur mengalami kerugian besar, sementara kualitas sayur yang dipanen tidak  sebaik biasanya. Pembeli tidak banyak pilihan, membelinya karena tuntutan kebutuhan dengan harga lebih tinggi.

Bencana alam memang menyisakan banyak derita. Pemerintahpun dibuat sibuk. Perusahaan mencoba melakukan konsolidasi untuk mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan. Dalam kondisi pasar yang tidak menentu saat ini, Moore, G.A. (2005), menyarankan perusahaan untuk menjaga kerugian yang akan ditimbulkan dengan salah satunya melakukan inovasi yang cukup berhasil secara komersial, mampu mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan secara cepat.

Riset dalam percepatan pengembangan produk yang dilakukan Kurnia, P. R. (2007), menginformasikan hampir 70% lebih praktisi pemasaran dalam industri pangan di Indonesia melakukan inovasi  incremental, misalnya inovasi produk yang dilakukan dengan merubah kemasan, menambah bahan atau aroma dsb. Cepat, murah dan mudah.

Jadi tidak perlu terlalu berambisi menghasilkan inovasi yang menghasilkan produk sangat berbeda, pesaing belum memilikinya, nomer satu di kelasnya, bahkan baru untuk dunia, yang memerlukan biaya sangat tinggi. Apalagi dengan sumber daya terbatas dan kondisi tidak menguntungkan seperti saat ini.

Untuk mendukung keberhasilan inovasi yang dilakukan, perusahaan perlu memperbaiki produktivitas  sumber daya manusia seiring dengan kemungkinan diberlakukannya pengurangan budget karena kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan.

Hal ini perlu dilakukan lebih awal untuk mencegah adanya peningkatan PHK yang tentu tidak diinginkan oleh para pekerja. Untuk itu, seorang project manager dalam proses pengembangan produk harus memiliki kemampuan mengelola sumber daya manusia yang benar agar tetap memperoleh keunggulan dari ketersediaan sumber daya yang dimilikinya saat ini (Rosenau Jr. M.D. & Githens, G.D., 2005).

Ia juga harus terampil menggunakan budget sesuai kemampuan perusahaan agar tetap bisa mencapai kinerja yang cukup menggembirakan. Perlu diingat, pengembangan produk merupakan salah satu bentuk inovasi yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk bisa tetap bertahan dan unggul dalam industrinya.

Griffin, A. dalam Kahn, K.B. (2013) menambahkan bahwa berbeda dengan seorang project manager, seorang pemasar dalam menghasilkan produk yang bisa sukses secara komersial, selain menjadi pemimpin dalam tim pengembangan produk, juga perlu senantiasa berinteraksi, terlibat dalam kehidupan dan mengamati secara kritis pasar sasarannya. Interaksi dengan pasar yang terus menerus dan berkelanjutan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang pemasar (Cooper, R.G. 2011).

Tidak hanya perusahaan, keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah negara juga perlu siaga dalam kondisi saat ini. Apa yang perlu disiagakan? Selain tentunya kesiagaan diri agar kuat dalam menghadapi situasi saat ini, juga keluarga perlu membiasakan untuk rajin menabung.

Perilaku dan kebiasaan menabung sering dilupakan, padahal kita memerlukannya untuk menghadapi berbagai kebutuhan masa depan. Saat kondisi cuaca, perekonomian tidak menguntungkan dan pasar yang tidak menentu saat ini, perlu mengevaluasi ulang kebutuhan mana yang utama (primer) dan kebutuhan yang bisa menunggu (sekunder) untuk dipenuhi pada waktu kondisi lebih baik.

Menabung tidak akan menjadi kebiasaan yang memberikan manfaat besar bila tidak disertai denga disiplin diri. Maka mulailah mengecek dengan teliti semua kebutuhan yang ada saat ini, memilahnya untuk menentukan skala prioritas dan pada akhirnya menentukan jumlah rupiah untuk ditabung.

*Tulisan ini dimuat di harian Kontan, 5 Februari 2014. H. 15

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia, PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s