GCG: Angin Segar Menyongsong MEA

Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan yang menerbitkan peta arah tata kelola perusahaan Indonesia dinilai sebagai langkah yang sangat tepat. Meski kini penerapannya masih sebatas ‘wajib’ bagi perusahaan publik, namun realitas di negara-negara lain menunjukkan bahwa benefit yang diperoleh manajemen melalui penerapan good corporate governance (GCG) yang baik akan menjadi inspirasi semua perusahaan termasuk yang tertutup sekali pun.

Berbicara tentang prinsip tata kelola perusahaan pada dasarnya tak dapat dipisahkan dari filosofi yang harus dijalankan. GCG muncul sebagai jawaban atas perbedaan cara pandang antara pengelola perusahaan dengan pemangku kepentingan yang ada (salah satunya pemegang saham).

Di satu sisi pemegang saham sangat berkepentingan dalam kehidupan jangka panjang perusahaan, sedangkan di sisi lain turbulensi perekonomian di lapangan seringkali membuat manajemen memilih untuk berorientasi pada target-target jangka pendek. Terlebih bila perolehan target dikaitkan dengan kebijakan pembagian honor atau remunerasi manajemen.

Walau terlihat sederhana, namun bila tak segera diantisipasi maka perbedaan cara pandang tersebut akan berujung pada inefisiensi. Di sinilah kehadiran sebuah ‘kontrak’ kerja antara pengelola dengan pemangku kepentingan mutlak dibutuhkan.

Pada posisi tersebut, peran GCG telah berkembang menjadi tumpuan kedua belah pihak. Melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik, para pemangku kepentingan berharap agar manajemen mampu menjalankan misinya demi memperkuat ‘reasons for existences’ perusahaan. Sedangkan di sisi lain manajemen kini memiliki tolok ukur yang jelas dalam mengemban kepentingan para stakeholder.

Sekilas, menerapkan GCG terkesan sederhana. Selama ada kepatuhan pihak manajemen pada prinsip-prinsip tata kelola yang telah disepakati bersama, maka operasional perusahaan akan berjalan sesuai harapan.

Namun tidak demikian kenyataannya. Studi yang dilakukan penulis selama 2010-2012 dengan menggunakan 73 sampel emiten menunjukkan bahwa di sejumlah perusahaan, kesadaran menerapkan GCG belum sepenuhnya timbul dari nurani. 37% responden bahkan menyatakan bahwa penerapan GCG di dalam perusahaannya berawal dari ‘kewajiban’.

Tak hanya itu, atas pertanyaan ‘bagaimana anda memandang peran struktur GCG di dalam perusahaan?’, sejumlah jawaban negatif pun terkuak. Opini bahwa menjalankan prinsip tata kelola yang tak hanya menimbulkan konsekuensi di bidang administrasi melainkan juga sistem birokrasi seringkali dipandang sebagai ‘cost centre’.

Jika dicermati dalam konteks valuasi, studi lanjutan yang menilik kinerja emiten dengan tingkat penerapan GCG ‘baik’ menemukan bahwa ketika manajemen menerapkan prinsip tata kelola secara tepat maka nilai intrinsik maupun pasarnya cenderung naik.

Hal lain yang mengejutkan adalah kenaikan harga pasar di beberapa emiten selama kurun waktu tertentu memang didorong oleh efek positif pengkomunikasian prinsip tata kelola yang baik. Sebagai contoh ketika fungsi seorang komisaris independen dinilai mampu menjaga obyektivitas kebijakan perusahaan yang berdampak pada lingkungan maka di situlah opini positif tercipta.

Dukungan pasar mulai dari peningkatan penjualan hingga aliran dana investasi menunjukkan betapa besar kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Realitas ini seharusnya dapat dijadikan cermin bagi mereka yang masih beropini negative terhadap GCG.

Lalu bagaimana dengan tuntutan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)? GCG sudah menjadi ‘harga mati.’ Tanpa adanya bukti efektivitas penerapan GCG niscaya perusahaan tak kan dilirik oleh investor asing. Dengan demikian ini saatnya bagi perusahaan-perusahaan domestik untuk bergeser dari penerapan GCG sebagai retorika semata menjadi sebuah kesadaran untuk membangun kinerja yang lebih baik.

Elemen-elemen seperti transparansi, akuntabilitas public serta peran dan tanggung jawab direksi plus komisaris merupakan hal-hal yang harus terus ditingkatkan. Bila emiten telah mampu menerapkan governance dengan baik, niscaya Bursa Efek Indonesia akan mampu mewujudkan capital market governance. Di situlah tercipta peluang BEI untuk bertumbuh menjadi rujukan investor asing saat berinvestasi di Asia. Angin segarpun kembali berhembus pada perekonomian nasional. Semoga!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 10 Februari 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s