Revisi UU Hak Cipta: Angin Segar Bagi Industri Lokal

Tiga belas poin utama dalam revisi Undang-Undang Hak Cipta yang baru saja rampung secara eksplisit melarang peredaran barang-barang bajakan di pusat-pusat perbelanjaan.

Sanksi yang dikenakan bagi pelanggar pun tidak tanggung-tanggung. Sanksi pidana mulai dari kurungan hingga denda yang maksimal mencapai Rp 2,5 Milliar kini mengancam para pengelola pusat perbelanjaan, penjual hingga pembeli.

Realitas ini setidaknya mampu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menahan laju peredaran produk-produk bajakan di tanah air. Tak ayal langkah ini mendapat respon positif dari pebisnis lokal.

Lambatnya pertumbuhan industri domestik akhir-akhir ini selain disebabkan karena pelemahan Rupiah juga dipicu oleh minimnya daya saing di pasar. Industri lokal harus berhadapan dengan produk-produk impor (mulai dari yang bernilai tinggi hingga yang berlabel murah) baik yang merupakan produk asli buatan produsen maupun bajakan.

Di satu sisi pemain domestik harus bersaing dengan produk asli yang notabene mempunyai kualitas jauh di atas produk lokal. Namun ketika tingkatan kualitas diturunkan satu poin, maka pemain harus berhadapan dengan produk-produk bajakan dari merek-merek dunia. Nah dengan animo pasar yang konsumtif dengan kecenderungan ‘brand minded’, maka tidaklah mustahil bila produk-produk bajakan berlenggang kangkung di pusat-pusat perbelanjaan.

Jika dicermati lebih lanjut, maraknya produk bajakan di pusat-pusat perbelanjaan perlahan namun pasti merupakan pembunuh yang keji bagi kreativitas pemain lokal. Ia tidak hanya ‘meracuni’ pasar dengan harga murah – kualitas tanggung, melainkan juga berpotensi menurunkan rasa percaya diri pemain pada merek lokalnya. Betapa tidak, bila produk bajakan mempunyai omzet tiga kali lipat dari produk lokal, maka pebisnis akan berpikir untuk ikut terjun ke dalam pasar dan meninggalkan merek lokalnya.

Satu sektor yang perlu diwaspadai adalah industri kreatif. Pertumbuhan sektor ini telah berhasil mencapai 23% dalam tiga tahun terakhir. Maraknya bermunculan pebisnis-pebisnis muda di bidang fashion yang memanfaatkan pola pemasaran jejaring media sosial merupakan angin segar bagi industri domestik. Beberapa di antaranya bahkan mampu menembus pasar internasional dengan mengusung merek lokalnya.

Studi yang dilakukan pada beberapa bisnis dengan prestasi tersebut menemukan bahwa terdapat beberapa indikator yang membukakan peluang ekspor. Pertama sudah pasti respon pasar. Dewasa ini jumlah konsumen yang sadar akan pentingnya etika dalam kegiatan bisnis semakin meningkat. Konsumen muda di kota-kota besar di Asia bahkan hanya mau berbisnis dengan pemain yang menjunjung etika.

Di sinilah peluang pasar produk-produk lokal mulai tercipta. Dengan mengusung tema originalitas, produk-produk tersebut mampu berdiam di benak konsumen. Kini tantangannya ada pada bagaimana industri mampu secara konsisten meningkatkan jumlah konsumen dengan karakteristik tersebut.

Indikator kedua adalah dukungan pemerintah terhadap hak cipta (kekayaan intelektual). Dari sisi produsen (terlebih sektor kreatif), perlindungan terhadap hak cipta merupakan persyaratan mutlak untuk memasarkan produk di suatu negara. Sebab tanpa adanya proteksi tersebut niscaya risiko duplikasi produk akan meningkat. Faktor inilah yang disebut-sebut mengancam profitabilitas pemain dalam jangka menengah.

Meski terkesan retorika namun kebijakan proteksi ini memang memegang peranan yang cukup vital, terlebih di era perdagangan bebas. Nihilnya dukungan pemerintah suatu negara akan hal ini akan memicu tekanan dari pemerintah negara-negara mitra. Ancaman pemutusan hubungan kemitraan pun dapat dilayangkan sebagai bentuk protes terhadap minimnya perhatian di bidang hak cipta.

Kini hadirnya revisi Undang-undang Hak Cipta diyakini sebagai modal dasar dalam membangun keunggulan bersaing nasional. Tinggal sekarang bagaimana implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Semoga apresiasi hak cipta di negeri ini mampu memberikan angin segar bagi pertumbuhan industri domestik. selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di Media Indonesia, 17 Februari 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s