Mengurai Benang Kusut Merpati

Dunia penerbangan Indonesia kembali dirundung masalah. Kali ini virus menjangkiti Merpati Nusantara Airlines. Maskapai yang dikenal sebagai perintis penerbangan di kawasan Timur Indonesia ini (sejak 1964) divonis mengalami kesulitan keuangan.

Meski symptom penyakit ini sudah teridentifikasi sejak awal 2000-an, namun optimisme pengelola harus diacungi jempol. Sejumlah terobosan yang dilakukan terbukti mampu mempertahankan operasional maskapai meski hanya dalam hitungan tahun.

Kini efek sistemik yang dipicu Merpati telah berimbas pada beberapa mitra pemasok. Utang yang menumpuk hingga Rp. 6,7 Trilliun salah satunya kepada Pertamina sebagai pemasok bahan bakar armada mereka. Alhasil bila tak segera ditangani maka kronisnya penyakit Merpati akan menular pada mitra kerjanya.

Mengurai benang kusut pengelolaan maskapai ini memang tidak mudah. Sejarah pengelolaan di masa lalu tak dapat dipisahkan dari kinerja saat ini. Budaya organisasi serta kebijakan lampau terbukti tidak mudah mengubah mekanisme kerja di masa kini. Meski demikian ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian ini.

Pertama, pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau dikenal dengan good corporate governance. Tantangan persaingan di industri penerbangan tanah air dewasa ini tidaklah terbilang mudah. Perang tarif masih terus membayangi kinerja masing-masing maskapai.

Alhasil kini kekuatannya ada pada proses penciptaan efisiensi secara terus menerus di dalam perusahaan; mulai dari efisiensi operasi hingga langkah meminimalkan aktivitas yang tak bernilai tambah (non value added activity). Di sinilah peran GCG diperlukan.

Merujuk pada mekanisme tata kelola beberapa maskapai internasional (Cathay Pacific, Singapore Airlines dan Emirates), kemampuan adaptasi perusahaan dengan perubahan pasar merupakan poin krusial yang mendatangkan arus kas. Mekanisme birokrasi kini lebih difungsikan sebagai sistem pengendalian kinerja dalam mencapai target perusahaan.

Poin-poin utama seperti kedisiplinan, loyalitas serta komitmen tinggi merupakan kunci sukses dalam menghasilkan kualitas layanan terbaik. Selanjutnya melalui layanan inilah upaya maskapai untuk menjaring pelanggan akan semakin mudah. Hasil akhirnya pun sudah dapat ditebak: stabilitas arus kas masuk.

Jika dicermati lebih lanjut pola tersebut sebenarnya mampu melepaskan maskapai dari himpitan perang tarif, bahkan di tingkat ‘low fare’ sekali pun. Karena di satu sisi keberhasilan efisiensi menunjukkan kepiawaian manajemen dalam menjaga arus kas keluar, sedangkan di sisi lain peningkatan jumlah pelanggan berarti penambahan pendapatan (baca; arus kas masuk). Inilah modal awal mengelola arus kas secara efektif dalam menghindarkan perusahaan dari risiko gagal bayar utang.

Hal kedua terkait manajemen risiko. Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri penerbangan sangat rentan dengan fluktuasi harga bahan bakar minyak di pasar global. Ketika harga BBM cukup ‘bersahabat’, maka di situlah maskapai dapat sedikit bernapas lega. Namun saat harga di pasar naik, sedangkan respon konsumen atas peningkatan harga tiket bersifat negatif maka dapat dipastikan potensi laba akan berkurang drastis.

Realitas ini mengingatkan kita akan pentingnya mekanisme lindung nilai (baca: hedging) baik dari sisi komoditas itu sendiri maupun mata uang yang digunakan dalam pembayaran.

Selain untuk menjaga operasional maskapai, teknik hedging juga mutlak diperlukan dalam mendukung rencana investasi besar-besaran perusahaan. Sebut saja kegiatan penambahan armada yang harus didanai dengan US Dollar, padahal di sisi penerimaan, maskapai akan memperoleh Rupiah.

Thus, melemahnya nilai Rupiah akan memperbesar nilai utang yang dialokasikan bagi investasi. Kondisi itulah yang memaksa manajemen untuk mencari pendapatan lebih. Alhasil ketika hal itu tak kunjung sukses maka ‘gali-tutup’ lobang akan terus terjadi.

Pada praktiknya, aktivitas hedging memang sudah menjadi sebuah keharusan. Perusahaan pun dengan sadar pasti melakukannya terlebih untuk mejaga performa jangka panjang. Namun patut disadari bahwa di Indonesia ketersediaan instrumen hedging masih terbatas. Perusahaan masih harus melirik pasar Singapura untuk dapat memperoleh instrumen tersebut dengan harga terbaik. Melalui kejelian dua hal tersebut, niscaya benang kusut ini akan lekas terurai. Semoga.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Mengurai Benang Kusut Merpati

  1. suatu industri perhubungan yang bersifat pionir , tidak bisa hanya dilihat dari konstalasi perusahaan tetapi harus dilihat secara lebih luas , dampak terhadap sosial ekonomi lingkungan yang dilayani. Apabila kita lihat contoh Singapore dengan Temasek Holdingnya , dimana resiko keuangan perusahaan transportasi publik diambil alih oleh Temasek , tugas utama perusahaan tranportasi adalah menjamin ketepatan waktu , keselamatan dan kenyaman yang akan menjadi andalan bagi kemajuan perekonomian singapore . Jadi khusus untuk Merpati sebagai perusahaan penerbangan pionir selama misinya dalam memajukan daerah tertinggal telah tercapai , maka pemerintah harus berani menaggung resiko kerugian finansial sebagai bagian dari social responsibility negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s