Menghadirkan (Kembali) Semangat Berdikari

Salah satu peninggalan founding father bangsa di bidang ekonomi adalah konsep ‘berdikari’, berdiri di atas kaki sendiri. Konsep ini mengajak segenap elemen bangsa untuk bergerak seirama demi terciptanya kemandirian ekonomi nasional. Satu di antaranya dilakukan melalui sinergi koperasi dengan anggotanya.

Sebagai soko guru perekonomian nasional, peran koperasi dalam mendayagunakan perekonomian masyarakat kini menjadi lebih signifikan. Organisasi ini tak lagi menjadi sekadar ‘wadah’ aspirasi namun juga berkembang menjadi sarana pembelajaran bagi seluruh anggota (termasuk di bidang bisnis dan manajemen).

Tak ayal perubahan paradigma pun sangat dimungkinkan terjadi melalui peran nyata di lapangan. Semangat saling melayani demi terciptanya kesejahteraan bersama yang ditumbuhkan dalam koperasi setidaknya mengingatkan kita akan arti penting sebuah kemandirian ekonomi. Akankah semangat ini tetap membara di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)?

Meski sebagian kalangan meyakini bahwa era MEA akan diwarnai dengan mekanisme bisnis yang ‘liberal’, namun sebagian lagi masih memandang dengan cara yang berbeda. MEA yang dikenal sebagai era pasar bebas secara tidak langsung menempatkan setiap pemain pada garis start yang sama. Artinya kecepatan dan kedisiplinan pemain untuk terus berada di jalur (baca: track)nya akan membuahkan kemenangan.

Untuk itu, masing-masing pemain akan saling memandang kinerja satu sama lain. Tujuannya tak lain agar ia tetap termotivasi untuk menjadi yang terhebat. Di situlah sebenarnya konektivitas antar pemain terjadi.

Hal senada juga terjadi di ranah ekonomi. Meski konektivitas bisnis antar negara-negara anggota ASEAN diprediksi akan semakin erat di era MEA namun bukan berarti setiap pemain akan menyamakan semangat dan targetnya.

Takaran kemandirian internal di setiap negara juga turut menentukan komitmen dan semangat untuk mencapai tujuan yang digariskan oleh dasar-dasar negaranya. Semakin kuat semangat kemandirian internal maka sebenarnya semakin besar jualah daya saing negara tersebut. Inilah yang kemudian dipahami sebagai kekuatan tawar menawar (baca; bargaining power) di pasar. Siapa yang kuat maka dialah pemenangnya.

Lalu bagaimana kita memaknai kemandirian ekonomi tersebut? Dimensi pertama yang perlu dicermati adalah keunggulan bersaing produk-produk lokal. Sebagai bangsa yang memiliki jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia (setelah China, India dan Amerika Serikat), Indonesia merupakan pangsa pasar potensial tak hanya bagi produk-produk impor melainkan juga produk lokal.

Dalam penelusuran lebih lanjut, maraknya produk-produk impor di tanah air dewasa ini lebih disebabkan karena dua hal: pertama minimnya pasokan dan yang kedua adalah ketidakmampuan produk untuk ‘beradaptasi’ dengan karakteristik pasar.

Harus diakui bahwa dengan daya beli yang tidak terlalu tinggi, pasar domestik masih ‘melirik’ produk-produk berlabel murah (notabene impor). Situasi inilah yang secara tak langsung memberikan ruang gerak bagi produk-produk asing untuk menguasai pasar dalam negeri.

Minimnya eksplorasi faktor-faktor produksi lokal sering disebut sebagai elemen pemicu utama. Nah di sinilah peran koperasi sebagai institusi penggagas kemandirian ekonomi mutlak diperlukan. Ajakan kepada para anggota untuk memanfaatkan faktor-faktor produksi yang bersumber dari kekayaan nusantara dinilai efektif dalam menciptakan sebuah gerakan bersama.

Dimensi kedua terkait kesiapan produk dalam melangkah ke pasar global. Upaya menyiapkan produk untuk bermain di pasar internasional dapat dibagi dalam beberapa langkah. Pertama, menyiapkan standardisasi dan sertifikasi produk yang kini sudah dianggap sebagai prasyarat utama sebelum melangkah ke pasar ekspor.

Kedua, memperkuat lini inovasi para pemain domestik. Dengan kekayaan alam yang berlimpah (termasuk di bidang energi terbarukan), Indonesia seharusnya selangkah lebih maju di bidang inovasi produk-produk yang ramah lingkungan.

Sektor pertanian hendaknya memperoleh perhatian lebih agar benar-benar dapat menopang swasembada pangan nasional. Ketika itu yang terjadi niscaya produk-produk besutan negara kita akan menjadi incaran para pemain asing. Di sinilah tunas kemandirian ekonomi di masa depan itu bertumbuh.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Jawa Pos, 27 Februari 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Menghadirkan (Kembali) Semangat Berdikari

  1. Pasar kita yang dipenetrasi produk impor bukan semata-mata karena kurang mampu membaca/mengenalberadaptasi dengan tuntutan pasar akan tetapi karena sistem distribusi yang masih lemah, pemasaran yang kurang target-oriented bahkan kalah cepat dengan penetrasi produik impor yang dikelola lewat global marketing dan sistem distribusi yang terencana. Overhead cost untuk membuka dan memperluas pasar merupakan sebab lain, belum lagi regulasi yang terkadang menghambat. Produk lokal maupun impor jauh lebih mahal di daerah ketimbang di Jakarta karena isistem distribusi dan transportasi yang belum membentuk sinergi. Yang mengherankan, sering juga kita mendapatkan produk impor berharga lebih murah dan berkualitas. Perdagangan bebas ASEAN merupakan momentum bagi Indonesia untuk memanfaatkan momentum tentunya disertai perencanaan yang tepat agar mampu ‘mengelola’ produk impor dan memberdayakan produk lokal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s