Meningkatkan Daya Pijar Sinar Dari Timur

pantai di pulau Ende

Menginjakkan kaki di bumi Ende (di Nusa Tenggara Timur) merupakan pengalaman yang sulit dilupakan. Betapa tidak, hamparan tanah yang subur serta geliat perekonomian lokal menunjukkan betapa nilai-nilai luhur budaya bangsa masih menjadi acuan hidup. Sebuah gambaran yang jauh dari kehidupan kota metropolitan bak ibu kota.

Kekaguman pun ternyata tak berhenti di situ. Berlimpahnya sumber daya alam baik hewani maupun nabati merupakan anugerah Sang Pencipta yang patut disyukuri senantiasa. Artinya dengan kepolosan dan kesederhanaan hidup masyarakat maka semua itu dapat tetap terjaga lestari.

Namun kini kekhawatiran mulai muncul ‘akankah situasi ini tetap kondusif di era perdagangan bebas’? Suatu era di mana arus investasi akan menjadi pemicu perubahan ritme kehidupan di daerah-daerah. Akankah kepolosan dan kesederhanaan itu sirna?
Continue reading

Managing Conflict

Konflik tak pernah lekang dari jalan karier dan karya seorang CEO. Bahkan, konflik perlu senantiasa  ada dan harus dapat dikendalikan karena konflik ternyata juga bermanfaat.

Konflik dalam tahap awal justru mendorong timbulnya perubahan dan inovasi. Organisasi yang dapat memetik pelajaran dari konflik akan bergerak dinamis, seperti gunung api yang melepas energinya secara teratur dan termanfaatkan sebagai gas bumi sumber energi penggerak kehidupan dan industri.

Sebaliknya, energi besar dalam konflik yang tidak naik ke permukaan, akan menjadi bahaya laten yang sangat dahsyat ketika meletus. Karena, konflik tidak mungkin sirna, maka perusahaan yang dapat mengelola konfliklah yang selamat bahkan memenangkan persaingan.
Continue reading

Pentingnya Daya Saing Lokal

asean-mea2015Menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan, setiap negara anggota kini tengah berupaya menyusun daya saing bangsa. Malaysia menitik beratkan pembangunan di sektor kreatif. Filipina dan Thailand juga melakukan hal yang sama. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikenal dengan sumber daya alamnya. Kekayaan hasil bumi (pertanian, perkebunan) serta maritim yang melimpah berpeluang menjadi daya saing unik yang membedakannya dengan anggota ASEAN lainnya.

Namun, kondisi geografis setiap daerah jualah yang kini dipahami sebagai tantangan terbesar. Belum lagi pekerjaan rumah berupa penyempurnaan infrastruktur di setiap daerah yang tak kunjung usai. Semua ini mengingatkan kita akan tugas dan tanggung jawab bersama dalam menciptakan daya saing lokal.
Continue reading

Peluang dan Tantangan Efisiensi Modal Era MEA

Logo_AECEra ekonomi ASEAN memang menarik tuk dicermati setidaknya untuk dua hal: pasar yang lebih luas serta peluang mendapat akses pada biaya modal yang murah khususnya ketika kita berbicara tentang struktur modal.

Meski teori yang mendasari pendanaan jangka panjang ini telah terbukti efektif di lapangan, namun era Masyarakat Ekonomi ASEAN memunculkan sejumlah peluang bagi munculnya konsep-konsep pembaruan.

Hingga akhir tahun lalu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan publik di dalam negeri lebih memilih untuk menggunakan utang (dalam dominasi US$) sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Continue reading

Memanfaatkan Euforia Pasar

Tahun ini setidaknya terdapat dua event besar: Pemilihan Umum sebagai agenda politik lima tahunan dan gelaran Piala Dunia sebagai agenda olah raga (khususnya sepak bola) empat tahunan. Tak ayal kedua event ini memberikan peluang emas bagi bisnis lokal.

Namun realitas sering berkata hal yang berkebalikan. Menjelang penerapan era Masyarakat Ekonomi ASEAN, sejumlah pemain dari negara tetangga mulai menggunakan kedua event tersebut untuk ‘menjajaki’ pasar Indonesia sebelum 2015.

Fenomena itulah yang membuat kompetisi domestik menjadi sangat sengit. Belum lagi iming-iming potensi pasar yang diciptakan melalui peningkatan populasi di nusantara. Semua itu pada akhirnya memunculkan pertanyaan “Bagaimana pemain domestik mampu memanfaatkan eforia yang ada?’
Continue reading

Dari Hot Menjadi Cold Money

Penguatan Rupiah di level Rp. 11.000-an per Dollar Amerika Serikat ternyata tidak secara otomatis menurunkan kekhawatiran kita. Pasalnya aliran dana tersebut diyakini hanya bersifat temporer sebagai respon sesaat atas kenaikan suku bunga acuan di tanah air.

Meski ini menandakan bahwa perekonomian nasional mulai stabil namun kehadiran uang panas di bumi nusantara masih perlu diwaspadai. Ketika aliran ‘hot money’ tak terbendung lagi maka secara otomatis Rupiah akan menguat jauh di atas nilai wajarnya. Situasi ini spontan akan mempengaruhi aktivitas impor dan ekspor.

Dengan nilai yang menguat, nilai impor produk-produk asing akan terkerek naik terlebih saat era Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan tahun depan. Sebaliknya mengingat penguatan Rupiah berarti nilai uang yang semakin mahal, maka nilai ekspor diperkirakan menurun. Realitas tersebut yang sejatinya tak terlalu menguntungkan bagi Indonesia.
Continue reading

Menggagas Pemicu Pertumbuhan Industri Kreatif Nasional

Kontribusi industri kreatif pada perolehan Product Domestik Bruto kian tahun semakin meningkat. Dari rata-rata 5,74% selang waktu 2002-2006 menjadi 7% di 2013. Ini berarti ke depan industri kreatif diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia, khususnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kemajuan dunia internet dan teknologi diakui telah membuka peluang lebih luas bagi para pelaku industri ini untuk berkembang. Melalui pemanfaatan jejaring media sosial, para pemain dapat dengan mudah memperoleh akses pemasaran internasional. Namun lagi-lagi kendala berbasis ‘human’ membuat produk-produk lokal industri ini belum mampu unjuk gigi di pasar global.
Continue reading