Menakar Potensi Masalah Keagenan di Era MEA

Perdagangan bebas harus diakui memberikan sejumlah besar peluang pengembangan bisnis. Beberapa indikator perekonomian seperti akses kepada pendanaan murah serta potensi perluasan pasar diyakini akan berkembang menjadi lebih besar di era tersebut sehingga dengan tuntutan kepada manajemen (baca: pengelola perusahaan) untuk memaksimalkan nilai perusahaan, maka setiap entitas bisnis diprediksi semakin bersemangat dalam meraup pasar internasional. Hal senada juga dapat terjadi saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan. Pengelola perusahaan akan mempunyai alternatif lebih banyak dalam mencapai biaya ekonomi rendah.

Studi keperilakuan akhir-akhir ini mencatat simpulan bahwa cara pandang manajer (yang dibangun oleh dimensi-dimensi seperti usia, latar belakang pendidikan, wawasan, nilai-nilai budaya yang dianut serta jam terbang di bidang manajerial tertentu) sangat mempengaruhi keputusan yang diambil.

Manajer yang cenderung hanya terfokus pada pencapaian target jangka pendek teridentifikasi melakukan strategi ‘hit and run’, sedangkan mereka yang berpandangan jangka panjang akan cenderung memilih strategi yang berpotensi menjaga keberlangsungan operasi di tahun-tahun berikutnya.

Di sinilah cikal bakal masalah keagenan muncul. Di satu sisi pemilik menginginkan terciptanya dimensi sustainability jangka panjang, sedangkan di sisi lain para pengelola perusahaan hanya memikirkan cara untuk meningkatkan kinerja selama ia menduduki sebuah jabatan. Artinya meski suatu strategi dinilai efektif namun jika tidak menguntungkan pihak pengelola maka bisa jadi ia tak kan dieksekusi.

Bila ditelaah lebih lanjut sebenarnya realitas tersebut cukup mengkhawatirkan terlebih ketika kinerja manajer selalu dikaitkan dengan perolehan target tahunan. Focus group discussion yang dilakukan beberapa waktu lalu menemukan bahwa era perdagangan bebas dewasa ini telah memungkinkan pengembangan karir secara lebih luas dan global.

Realitas tersebut spontan membuat manajer berpikir dalam jangka pendek. Ketika target tak dapat dipenuhi maka ia dapat berpindah ke perusahaan lain bahkan di pasar ASEAN sekali pun. Dengan cara ini mereka mulai membuka karir di kancah global. Bila ini benar-benar terjadi lalu upaya apa yang harus ditempuh?

Pertama memperkuat penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Optimalisasi peran dan fungsi dewan komisaris plus pihak independen mutlak diperlukan untuk mengatasi hal tersebut.

Kuncinya ada pada objektivitas dari setiap kebijakan dan keputusan strategis manajemen. Pihak pengelola harus dapat memastikan ‘terkabulnya’ harapan para pemegang saham berikut pemangku kepentingan secara objektif dan proporsional.

Langkah berikutnya adalah memperkuat lini manajemen pendukung lainnya seperti manajemen risiko dan mekanisme audit internal. Era MEA juga berpotensi menciptakan risiko bisnis yang lebih besar. Kekuatan kondisi fundamental masing-masing perusahaan akan mewarnai kekuatan daya tukar mata uang setiap negara, termasuk ketika nanti single currency diterapkan. Di sinilah peran pengelolaan risiko berikut mekanisme audit internal mutlak dibutuhkan.

Meski secara konseptual sinergi ‘duo’ fungsi tersebut diyakini efektif dalam mengarahkan setiap keputusan strategis untuk memberikan dampak positif kepada stakeholder, namun tidak demikian halnya dengan temuan di lapangan.

Beberapa perusahaan bahkan hingga kini masih dihadapkan pada masalah ‘tumpang tindihnya’ fungsi audit internal serta manajemen risiko. Fungsi audit masih dipandang pada tataran ‘compliance’ dari setiap aktivitas yang dilakukan. Sedangkan manajemen risiko masih dipandang sebatas estimasi risiko yang mungkin tidak akan menimpa kehidupan perusahaan di masa depan.

Tak hanya itu, beberapa kalangan bahkan menilai kedua fungsi ini dalam kapasitas ‘cost centre’, bukan pada pihak ‘assurance’. Karenanya penerapan mekanisme audit berbasis risiko dapat menjadi alternatif terbaik di masa depan.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 3 Maret 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Menakar Potensi Masalah Keagenan di Era MEA

  1. Saya juga sempat membaca tulisan karya Bapak Aries tentang bagaimana Indonesia (sebaiknya) mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi MEA 2015. Taruhannya sangat besar. Bangsa Indonesia bisa memilih untuk menjadi tamu atau tuan di rumahnya sendiri. Peran pengembangan organisasi dan anggotanya menjadi hal yang sangat penting. Menurut saya, setiap anggota Divisi SDM di organisasi manapun harus berani bergerak keluar dari ‘ruangan’ dan melihat situasi dunia. Tujuannya adalah untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan saat ini, terutama dalam menghadapi MEA 2015. Dalam hal ini, menurut penulis, apakah knowledge sharing antar organisasi bisa menjadi salah satu jawaban? Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s