Deal Fantastis Facebook-Whatsapp: Tech Bubble atau True Value?

Jikalau banyak orang menikmati Hari Valentine beromantis ria bersama pasangan, CEO Facebook Mark Zuckerberg malah membuat momen lebih hebat nan mencengangkan banyak pihak dengan meminang mahal Whatsapp Inc. sejumlah harga yang lebih besar dari nilai pasar Sony Corp ataupun nilai 275 perusahaan di S&P 500 Index.

Untuk sebuah aplikasi online messaging, akuisisi ini tak ayal memicu perdebatan seru di jagat maya. Para akademisi, analis, investor, ataupun orang awam saling berdebat untuk bisa mencerna, sebenarnya hal ini sungguh gila atau bagaimana?

Bagi para entrepreneur start-up di Silicon Valley, mega deal yang bisa membuat kaya mendadak para pendirinya ini jelas menimbulkan iri luar biasa. Ada begitu banyak aplikasi pengirim pesan yang serupa, bahkan beberapa diantaranya memiliki revenue yang jelas dan stabil.

Anda pun bisa merasakan bahwa aplikasi ini sungguh simpel dan berguna untuk mengirim pesan kepada teman atau keluarga sama seperti BBM, Line, ataupun Facebook Messenger. Lalu mengapa nilainya seharga GDP sebuah negara seperti Afghanistan?

Whatsapp adalah aplikasi yang dibuat oleh Jan Koum dan Brian Acton di tahun 2009 selepas keluar dari Yahoo. Konsep yang ditawarkan cukup sederhana, yakni aplikasi pengirim pesan tanpa iklan, tanpa games, dan tanpa gimmick.

Pendapatan pun hanya diperoleh dari biaya berlangganan 99 sen dolar yang ditarik setelah satu tahun menggunakan Whatsapp secara gratis. Jan Koum juga tidak menggunakan data pengguna untuk dimonetisasi lebih lanjut, sehingga praktis pendapatannya cukup kecil.

Dengan pendapatan tak seberapa, sungguh sulit menghitung nilai Whatsapp hingga  menyentuh angka 19 milyar dolar. Perhitungan valuasi tradisional berdasarkan proyeksi pendapatan, faktor pertumbuhan, dan biaya modal seperti yang telah dilakukan Profesor Damodaran dari NYU Stern mengharuskan Whatsapp memperoleh after-tax income secara stabil sebesar 1,52 miliar dolar.

Jika model bisnisnya tetap, nilai ini mungkin diperoleh dari hasil berlangganan 2,5 milyar pengguna secara kontinu. Atau jika menggunakan basis pengguna saat ini, yaitu 450 juta, maka biaya berlangganan setidaknya sebesar 5 dolar per tahun dengan tentunya berbasis asumsi tanpa biaya operasional. Sebuah situasi yang belum tercapai bagi perusahaan dengan 55 karyawan di Mountain View California.

Jika model bisnisnya diubah dengan memasukkan pendapatan misalnya dari advertising, digital emoticon stickers, in-app games, atau juga melalui payment services. Maka selain jumlah pendapatannya harus sangat masif, model ini juga dikhawatirkan akan mengganggu proposisi unik Whatsapp sekarang yang menempatkan kenyamanan dan privasi pengguna sebagai prioritas utama.

Hal ini juga diakui sendiri oleh Zuckerberg. Sebagai perbandingan, Line yang memiliki 340 juta pengguna global memiliki revenue 338 juta dolar pada tahun 2013 yang diperoleh in-app purchase games, stickers, dan official account. Sementara itu KakaoTalk yang berfokus pada kustomisasi memperoleh 200 juta dolar dari games, mobile reader, dan e-commerce.

Pendapatan yang lebih besar diperoleh Twitter sebesar 665 juta dolar dari iklan dan lisensi data pengguna yang jumlahnya mencapai 241 juta. Perusahaan social messaging & sharing utility lain seperti WeChat, KiK, Viber, Snapchat, ataupun Blackberry Messenger tercatat memiliki revenue yang jauh lebih kecil atau bahkan nol di tahun 2013.

Tampaknya making money bukanlah perhatian utama Silicon Valley dan Wall Street, lalu apa yang menjadi patokan atas sejumlah besar akuisisi di dunia teknologi informasi dan internet ini? Salah satu alat ukur utama yang digunakan para analis dan investor adalah jumlah user atau pengguna. Lebih fokus lagi jumlah pengguna aktif (engaged user).

Melalui analisis relatif price-per-user, beberapa akuisisi tampak lebih mudah dipahami. Menurut Michael Wolf dari NextMarket Insight, harga akuisisi termahal masih dipegang oleh Broadcast.com yang diakuisisi Yahoo sebesar US$ 11ribu/user. Kemudian harga akuisisi Youtube oleh Google mencapai US$ 48/user. Sedangkan harga akuisisi Whatsapp oleh Facebook adalah US$ 42/user. Yang lain, akuisisi Tumblr oleh Yahoo adalah US$ 33/user dan akuisisi Instagram oleh Facebook adalah US$ 28/user. Nilai pasar Facebook sendiri US$ 170/user dan nilai pasar untuk Twitter yaitu US$ 212/user, ungkap Ross Sandler dari Deutsche Bank.

Dengan nilai yang mencapai 176 miliar dolar, Facebook cukup membayar sekitar 10% dari nilai pasarnya untuk memperoleh peningkatan sekitar 30% engaged user. Sebuah strategi yang dianggap cukup smart oleh banyak pihak.

Dari 44 analis yang dihimpun Thomson Reuters, 37 diantaranya memberikan rating “strong buy” dan “buy” serta tak ada satu pun yang memberikan rating ”sell.” Strategi ini pun juga menggagalkan upaya Google untuk mendapatkan Whatsapp. Professor keuangan Wharton School David Wessels menyatakan bahwa harga yang dibayar Facebook tidaklah terlalu bubble meski secara berdiri sendiri nilai Whatsapp tidak akan sebesar itu.

Pandangan ini tentunya ditolak mentah oleh para fundamentalis pasar dan business strategist. Selain karena jumlah pengguna tidak mencerminkan konversi ke pendapatan, akuisisi yang kental dengan pricing game akan rentan terhadap overvalue dan memunculkan potensi bubble.

Situasi pasar M&A terkini yang terus meningkat mengingatkan kembali pada kejadian dotcom bubble di tahun 2000. Dimana strategi “get big fast” umum dipakai perusahaan internet dan teknologi informasi. Strategi ini mencerminkan model bisnis yang bertumpu pada perebutan market share, cenderung mengabaikan bottom line dan pengembangan teknologi secara riil.

Gina Sanchez dari Chantico Global mengatakan, Facebook deal ini tidak akan membuat pasar akan jatuh dalam waktu dekat, namun menjadi sebuah pertanda bahwa tech bubble akan terjadi. Bisa jadi tech bubble yang dimaksud tidak mengenai seluruh sektor teknologi informasi dan internet namun lebih khusus pada segmen sosial media. Beberapa analis juga mengatakan, ukuran pasar saat ini tentu lebih besar dan kuat dibanding tahun 2000 lalu.

Apa pun pandangan eksternal di atas, yang menjadi titik penting bagi Facebook adalah strategic value dari hasil akuisisi ini. Tidak hanya mengenai bagaimana memonetisasi Whatsapp, namun bagaimana Facebook dapat menciptakan long-term value yang lebih nyata dan stabil.

Selama beberapa tahun terakhir Facebook sering dikritik gagal melakukan transisi dari dekstop ke mobile. Upaya IPO-nya pun kurang begitu sukses. Berbagai langkah agresif Zuckerberg nampak menandakan bahwa ia tak ingin ketinggalan dengan industri mobile yang tumbuh sangat pesat.

Tercatat setidaknya ada 46 upaya akuisisi Facebook untuk menguatkan portofolio produknya. Tiga terbesar diantaranya adalah akuisisi Instagram sebesar US$ 1 miliar, akuisisi Snapchat sebesar US$ 3 miliar namun gagal, dan terakhir akuisisi Whatsapp.

Whatsapp sendiri secara diferensiatif menguatkan portofolio Facebook. Dengan jumlah dan pertumbuhan user yang sangat cepat, tingkat engagement user yang tinggi, serta demografi pengguna yang mengglobal, Whatsapp melapangkan jalan Facebook untuk mendominasi industri sosial media.

Sektor industri teknologi informasi dan internet tampaknya memang bertumpu pada user melalui platform/ekosistem yang dimiliki baik internal perusahaan maupun eksternal (industry-wide). Model bisnis dengan platform di sektor ini memaksa perusahaan bersaing dalam memberikan layanan dan produk yang diinginkan dan diminati oleh pasar secara luas serta terus dinamis dalam berinovasi mengikuti perubahan selera konsumen.

Platform juga menciptakan network effect, yaitu semakin banyak pengguna maka akan semakin bernilai platform tersebut. Platform yang semakin diminati akan menjadi platform yang diterima secara industri. Contohnya adalah platform game.

Dulu platform game berkembang melalui PC yang dikontrol oleh Microsoft dan konsol yang dikontrol oleh Nintendo, Sega, dan Sony. Namun saat ini ekosistem mobile game jauh lebih diminati karena dapat diakses melalui smartphone dan tablet. Pergeseran ini membuat pemain lama tersebut jika tidak berinovasi maka akan mati.

Platform/ekosistem juga memunculkan double-sided market. Contohnya adalah Google Android. Smartphone berbasis Android cukup terjangkau sehingga menarik banyak minat pengguna. Jumlah pengguna yang banyak menarik lebih banyak developer dan manufacturer. Developer yang lebih banyak akan mampu menyediakan software aplikasi lebih banyak, sehingga akan menarik lebih banyak lagi pengguna. Demikian seterusnya hingga tercipta siklus dua sisi.

Secara umum, untuk terus memperbesar user dan platform/eksosistem ini, terdapat tiga langkah yang biasanya dipilih oleh perusahaan raksasa, seperti Google, Apple, Microsoft, Amazon, dan Facebook, yaitu Inovasi, Mimikri, dan Akuisisi.

Facebook sendiri merupakan ekosistem yang agak sedikit terpinggirkan dengan tren saat ini yang dipegang oleh Google dan Apple. Kedua perusahaan ini menarik banyak pengguna melalui ekosistem Android dan iOS yang muncul pada perangkat mobile dukungan masing-masing.

Di tablet atau smartphone, Facebook hanyalah sebuah aplikasi sosial. Sementara Google dan Apple, yang kemudian diikuti Microsoft dengan evolusi Windowsnya, adalah sebuah raksasa entertainment, penyedia layanan consumer dan layanan corporate.

Konsep Facebook Phone yang pernah muncul bisa dibilang gagal. Hal ini semakin membuat terang bahwa satu-satunya jalan bagi Facebook adalah mendominasi sosial media untuk dapat memonetisasi trafik mobile dalam skala yang lebih masif.

Sektor ini pun sebenarnya masih terus menggeliat, membesar, dan mempengaruhi sektor lain. Tren yang terus berkembang misalnya adalah teknologi robotik dan wearable devices seperti Google Glass, Smartwatch, dan lain-lain.

Pun tak kalah menarik untuk ditunggu adalah gabungan antara teknologi informasi dengan otomotif. Pembicaraan Apple dengan Tesla, Ford dengan Blackberry, Toyota dengan Nokia, dan lainnya membuat khalayak konsumen jadi tergiur, kira-kira mobil canggih seperti apa nanti di masa depan? Nah, jika trennya begini, bagaimana dengan Facebook?

M. AKHSANUR ROFIM. Akhsanur Rofi, MM.
Core Faculty PPM School of Management
ROF@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s