Menggagas Pemicu Pertumbuhan Industri Kreatif Nasional

Kontribusi industri kreatif pada perolehan Product Domestik Bruto kian tahun semakin meningkat. Dari rata-rata 5,74% selang waktu 2002-2006 menjadi 7% di 2013. Ini berarti ke depan industri kreatif diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia, khususnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kemajuan dunia internet dan teknologi diakui telah membuka peluang lebih luas bagi para pelaku industri ini untuk berkembang. Melalui pemanfaatan jejaring media sosial, para pemain dapat dengan mudah memperoleh akses pemasaran internasional. Namun lagi-lagi kendala berbasis ‘human’ membuat produk-produk lokal industri ini belum mampu unjuk gigi di pasar global.

Berbicara tentang strategi pertumbuhan industri ini tak dapat dilepaskan dari empat komponen dasar. Sebut saja kapabilitas modal manusia, dukungan infrastruktur, transparansi dan ketegasan hukum serta ketersediaan akses di bidang permodalan.

Bila dicermati lebih lanjut, dari keempat komponen dasar tersebut, kapabilitas modal manusia setidaknya layak menjadi perhatian utama. Selain karena elemen ini sangat menentukan kinerja industri, penggunaan paradigma yang kurang tepat juga diyakini memberi pengaruh negatif.

Satu contoh adalah ketika pebisnis ‘meremehkan’ pentingnya kepemilikan hak cipta. Produk inovatif yang tidak didampingi dengan kepemilikan paten akan berpeluang ditiru lalu diakui kepemilikannya oleh pemain lain. Bila ini terjadi, rugi jualah yang diterima.

Untuk itu peran pemerintah selaku ‘pelindung’ pertumbuhan industri lokal mutlak diperlukan. Selain upaya nyata mempermudah mekanisme pengurusan paten, langkah aktif dalam mensosialisasikan pentingnya hak cipta ke kalangan pemain industri maupun pasar diharapkan mampu mengubah cara pandang yang telah ada. Tak hanya itu, memberikan pemahaman akan arti penting hak cipta sejak dini kepada siswa-siswi yang tengah duduk di bangku sekolah hendaknya dipandang sebagai sebuah kewajiban.

Mewajibkan produk-produk lokal untuk memiliki hak cipta sebenarnya sama halnya dengan mendorong mereka untuk lebih berinovasi. Hal ini terlihat ketika uji originalitas dilakukan dalam kerangka mekanisme pemberian hak. Dengan memahami prosedur perolehan hak yang harus dijalani, mau tak mau pemain akan mulai menciptakan inovasi baik dalam tataran proses, manajemen hingga produk.

Elemen kedua adalah dukungan infrastruktur. Di sinilah peran investor dalam maupun luar negeri dibutuhkan. Harus diakui bahwa industri ini didominasi oleh padat modal. Sebagai bahan kajian, arus investasi pada industri ini di negara-negara ASEAN selama 2010 hingga akhir 2013 rata-rata mengalami peningkatan 23% per tahun.

Ini menunjukkan bahwa investasi di infrastruktur kreatif masih menjadi primadona. Karenanya satu-satunya langkah yang perlu dilakukan untuk mendorong investasi di bidang ini adalah dengan mereview kembali peraturan yang ada. Mengundang investor asing memang langkah yang sangat strategis sebab dengan cara itu kita dapat menahan modal mereka dalam jangka panjang, namun belum tentu merupakan langkah yang bijak.

Realitas itulah yang hendaknya perlu diwaspadai. Ketika investasi usai dan infrastruktur telah dapat mendatangkan keuntungan maka aliran dana keluar (ke negara asal) akan semakin deras. Lalu berapa banyak dana yang akan tersisa di Indonesia? Belum lagi bayang-bayang masalah potensi pelemahan nilai tukar. Perimbangan kepemilikan antara pemain domestik dan asing kiranya perlu dicermati kembali.

Terakhir, terkait transparansi dan ketegasan hukum. Revisi Undang-undang Hak Cipta sebenarnya data dipandang sebagai angin segar bagi pertumbuhan industri ini. Melalui UU tersebut pemerintah mengajak seluruh elemen untuk secara aktif mengubah kebiasaan dan cara pandang yang ada.

Apresiasi terhadap nilai-nilai originalitas yang diciptakan melalui sebuah karya kreasi kini mulai ditempatkan pada posisi sejatinya. Namun meski perundangan yang ada secara jelas telah memetakan aturan bagi setiap pelanggar, pelaksanaan di lapangan masih berupa tanda tanya.

Ketika ketegasan di lapangan mengendor, niscaya pembajakan akan tetap marak terjadi di bumi pertiwi ini. Satu hal yang ditakutkan adalah saat konsumsi produk bajakan sudah dipersepsikan sebagai ‘kewajaran’. Bila tak segera ditangani secara serius, perlahan namun pasti hal ini akan membentuk sebuah budaya yang mewarnai sejarah perjalanan Bangsa kita. Artinya secara otomatis ‘membunuh’ industri kreatif.

Semoga tulisan ini mampu menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk terus mengupayakan pertumbuhan di sektor yang nantinya akan menopang perekonomian nasional. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Jawa Pos, 6 Maret 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s