Dari Hot Menjadi Cold Money

Penguatan Rupiah di level Rp. 11.000-an per Dollar Amerika Serikat ternyata tidak secara otomatis menurunkan kekhawatiran kita. Pasalnya aliran dana tersebut diyakini hanya bersifat temporer sebagai respon sesaat atas kenaikan suku bunga acuan di tanah air.

Meski ini menandakan bahwa perekonomian nasional mulai stabil namun kehadiran uang panas di bumi nusantara masih perlu diwaspadai. Ketika aliran ‘hot money’ tak terbendung lagi maka secara otomatis Rupiah akan menguat jauh di atas nilai wajarnya. Situasi ini spontan akan mempengaruhi aktivitas impor dan ekspor.

Dengan nilai yang menguat, nilai impor produk-produk asing akan terkerek naik terlebih saat era Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan tahun depan. Sebaliknya mengingat penguatan Rupiah berarti nilai uang yang semakin mahal, maka nilai ekspor diperkirakan menurun. Realitas tersebut yang sejatinya tak terlalu menguntungkan bagi Indonesia.

Tidak terhenti di situ, aliran dana dari luar negeri ini diyakini akan semakin deras pasca publikasi hasil Pemilihan Umum baik legislatif maupun presiden. Selain karena adanya efek positif dari euphoria Pemilu beberapa kebijakan pemerintah yang mendukung pelaksanaan kesepakatan perdagangan bebas dinilai sebagai pemicu pemulihan kondisi makro.

Larangan penggunaan Non Deliverable Forwards (NDF), upaya menahan suku bunga acuan di level 8% serta revisi Undang-undang Hak Cipta yang secara tegas melarang perdagangan barang-barang bajakan merupakan langkah konkret untuk memuluskan langkah Indonesia di era MEA. Kini tinggal bagaimana kita mampu menahan aksi penarikan dana tersebut sehingga hot money perlahan akan berubah menjadi cold money yang kondusif bagi investasi jangka menengah.

Mengajak aliran dana asing untuk menetap di Indonesia dalam jangka menengah memang bukanlah pekerjaan yang ringan. Upaya perbaikan indikator kinerja keuangan harus terus menerus dilakukan. Salah satu industri yang diprediksi mampu mendongkrak kinerja perekonomian nasional adalah sektor kreatif.

Selama empat tahun, sejak 2002, kontribusi rata-rata sektor ini terhadap perolehan Product Domestic Bruto Indonesia adalah 4,74%. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 7% di 2013 (jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,74%). Realitas tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah pemain maupun omzet penjualan cukup menggembirakan.

Sebagai bahan pembanding, kontribusi sektor serupa terhadap PDB Malaysia baru mencapai 5% di 2013. Namun ini tak boleh dipandang sebelah mata. Memasuki 2014, para pemain di sana sangat optimis bahwa pertumbuhan sektor ini akan menembus angka 11% di akhir tahun.

Angka tersebut sekiranya merujuk pada kontribusi sektor kreatif pada perekonomian Amerika Serikat yang kini sudah mampu menyumbang lebih dari 12% PDB. Alhasil fenomena itulah yang membuat pemerintah setempat menempatkan industri kreatif sebagai pemicu utama kebangkitan ekonomi nasional khususnya dalam menyambut era MEA.

Nah untuk menciptakan kondisi serupa di tanah air, setidaknya ada dua pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan. Pertama terkait infrastruktur serta ketegasan dan komitmen bersama terkait pelaksanaan UU Hak Cipta.

Apresiasi terhadap hak cipta suatu produk kini telah menjadi prasyarat mutlak sebelum bisnis bergulir di era perdagangan bebas. Komponen penegak hukum kini tak bisa lagi bersikap ‘abu-abu’ pada produk-produk bajakan karena itu satu-satunya elemen yang mampu ‘mengamankan’ posisi produsen saat melayani pasar.

Kedua terkait penyempurnaan rantai nilai dari industri kreatif di tanah air. Pembenahan infrastruktur jaringan telekomunikasi mutlak membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Dengan kondisi geografis yang didominasi kepulauan, pertumbuhan industri ini mutlak membutuhkan dukungan peran infrastruktur teknologi informasi yang kuat.

Di sinilah peluang emas investasi jangka panjang bagi aliran dana asing itu muncul. Dengan jumlah populasi yang mencapai dua ratus lima puluh juta jiwa lebih, Indonesia merupakan pasar industri kreatif yang sangat menjanjikan.

Artinya semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan jasa sektor ini maka tingkat pengembalian investasi akan semakin menjanjikan. Melalui mekanisme tersebut besar harapan bahwa ‘hot money’ akan berubah menjadi ‘cold money’ dalam beberapa waktu mendatang.

Selamat berefleksi, sukses menyertai anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 10 Maret 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s