Peluang dan Tantangan Efisiensi Modal Era MEA

Logo_AECEra ekonomi ASEAN memang menarik tuk dicermati setidaknya untuk dua hal: pasar yang lebih luas serta peluang mendapat akses pada biaya modal yang murah khususnya ketika kita berbicara tentang struktur modal.

Meski teori yang mendasari pendanaan jangka panjang ini telah terbukti efektif di lapangan, namun era Masyarakat Ekonomi ASEAN memunculkan sejumlah peluang bagi munculnya konsep-konsep pembaruan.

Hingga akhir tahun lalu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan publik di dalam negeri lebih memilih untuk menggunakan utang (dalam dominasi US$) sebagai sumber pendanaan jangka panjang.

Selain karena suku bunga yang lebih rendah, pemilihan US$ dipercaya mampu memperbesar jumlah dana pasca konversi. Belum lagi adanya keuntungan pajak mengingat beban bunga pinjaman yang termasuk dalam komponen pengurang pendapatan kena pajak.

Dengan memanfaatkan utang secara otomatis pajak yang dibayarkan akan semakin kecil. Kondisi tersebut sekaligus mengarahkan perusahaan-perusahaan domestik pada salah satu teory struktur modal yakni ‘Trade off theory’.

Namun memasuki awal tahun ini situasi kiranya mulai berubah. Efek sundulan atas kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta merta membuat kewajiban pembayaran bunga atas pinjaman meningkat drastis. Belum lagi diperparah dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang mencapai Rp. 12.000 lebih. Beban yang ditanggung perusahaan pun kini makin berat.

Realitas itulah yang membuat buruknya laporan keuangan sejumlah perusahaan. Bahkan perbankan pun terkena imbasnya. Tuntutan kenaikan suku bunga kredit pada praktiknya mempersulit kinerja perbankan, sebab dalam kondisi penurunan daya beli niscaya animo kredit sector riil akan berkurang.

Nah belajar dari kondisi tersebut, kini perusahaan mulai melirik pada penggunaan sumber-sumber internal dalam pola pendanaan jangka panjang. Pinjaman lunak kepada pemegang saham hingga utang terkonversi dalam bentuk kepemilikan mulai menjadi primadona pendanaan.

Kedua belah pihak (manajemen perusahaan dan pemilik) memiliki paradigma yang sama akan hal tersebut. Pada pola itu manajemen tidak hanya terbantu dalam hal permodalan melainkan juga mampu menjaga kepentingan pemilik lama.

Dalam jangka panjang (pasca penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN), pola ini diyakini akan bertumbuh menjadi primadona pendanaan. Terbukanya akses perusahaan kepada sumber pendanaan regional akan menjadi alternatif tersendiri.

Di masa itu, kemudahan yang dimiliki investor dari negara-negara anggota ASEAN akan memungkinkan mereka untuk mencari skala ekonomis yang optimum khususnya dalam konteks faktor produksi. Artinya dengan kepemilikan faktor produksi yang berlimpah, Indonesia akan dipandang sebagai target investasi yang menguntungkan.

Cara pandang senada juga dapat diterapkan oleh para pemain domestik. Kegiatan produksi akan diarahkan tuk dilakukan pada wilayah yang paling tepat, dalam mata uang setempat. Dengan demikian premis yang mengatakan bahwa kebutuhan investasi dan pendanaan harus dilakukan dalam mata uang yang sama dapat dilakukan. Di sinilah efisiensi modal itu terjadi.

Meski sangat ideal, namun hal lain yang juga perlu dicermati adalah munculnya potensi masalah keagenan. Semakin beragamnya alternatif pendanaan memungkinkan manajemen untuk melihat semuanya dalam tataran jangka pendek.

Ini cukup berbahaya, mengingat cara pandang tersebut perlahan akan menciptakan motif spekulasi. Tak hanya itu, sebagian kalangan bahkan meyakini akan munculnya beberapa instrumen yang mendukung aktivitas spekulasi. Bila dilakukan pada saat yang tepat memang langkah ini mampu mengamankan kinerja, namun bila tidak, maka akan ada hal lain yang dikorbankan.

Upaya meraih rapor kinerja baik dalam jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang kini sangat mungkin terjadi. Oleh karenanya, pemilik perusahaan harus mulai melihat efektivitas fungsi pengendalian yang ada.

Pastikan setiap mekanisme kerja dan sistem prosedur standar telah berjalan sesuai arahan. Bila ini yang terjadi, niscaya perusahaan akan mampu mendasari setiap keputusan pendanaannya dengan berorientasi pada jangka panjang.

Melalui pola tersebut biaya modal akan mampu ditekan seefisien mungkin sejak dini, sehingga dengan aplikasi nilai waktu dari uang yang tepat niscaya pemain domestik akan lebih mudah memperbaiki kinerja fundamentalnya.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 17 Maret 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s