Meningkatkan Daya Pijar Sinar Dari Timur

pantai di pulau Ende

Menginjakkan kaki di bumi Ende (di Nusa Tenggara Timur) merupakan pengalaman yang sulit dilupakan. Betapa tidak, hamparan tanah yang subur serta geliat perekonomian lokal menunjukkan betapa nilai-nilai luhur budaya bangsa masih menjadi acuan hidup. Sebuah gambaran yang jauh dari kehidupan kota metropolitan bak ibu kota.

Kekaguman pun ternyata tak berhenti di situ. Berlimpahnya sumber daya alam baik hewani maupun nabati merupakan anugerah Sang Pencipta yang patut disyukuri senantiasa. Artinya dengan kepolosan dan kesederhanaan hidup masyarakat maka semua itu dapat tetap terjaga lestari.

Namun kini kekhawatiran mulai muncul ‘akankah situasi ini tetap kondusif di era perdagangan bebas’? Suatu era di mana arus investasi akan menjadi pemicu perubahan ritme kehidupan di daerah-daerah. Akankah kepolosan dan kesederhanaan itu sirna?

Satu fakta yang cukup mengejutkan adalah bahwa sebagian besar habitat ikan di sana mati bukan karena eksplorasi yang tak bertanggung jawab melainkan karena umur yang sudah tua. Realitas tersebut menunjukkan minimnya perhatian pada pengolahan bahan mentah menjadi barang yang bernilai jual tinggi.

Dapat ditebak apa yang akan terjadi saat Masyarakat Ekonomi ASEAN tiba. Para investor dari negara-negara tetangga spontan akan menempatkan Ende sebagai salah satu target investasi. Bila mekanisme tersebut mampu mendongkrak kinerja ekonomi daerah mungkin tak jadi soal. Namun bagaimana halnya jika arus investasi yang masuk didominasi oleh capital intensive? Penggunaan tenaga kerja lokal akan menjadi pilihan terakhir, padahal itulah yang kini sangat dibutuhkan.

Upaya industrialisasi di daerah-daerah khususnya kawasan Timur Indonesia memang patut dipandang sebagai langkah konkret dalam meningkatkan kualitas peradaban. Namun satu hal yang harus dicermati adalah jangan sampai masyarakat hanya menjadi target pasar sesaat setelah eksploitasi alam dilakukan.

Kita dapat menggunakan contoh di bidang pertambangan. Pada fase awal, keterlibatan masyarakat lokal pada usaha pertambangan cukup besar. Namun ketika aktivitas tersebut usai, maka hasil bumi akan dikirim ke wilayah lain.

Di situlah prinsip ekonomi mulai berbicara; masyarakat lokal yang tak bermodal hanya akan meraup Rupiah dari setiap aktivitas tambang. Setelah itu mereka akan menjadi konsumen bagi produk-produk olahan tambang tersebut. Sungguh sebuah ketimpangan bukan?

Mencari solusi atas kondisi tersebut harus diakui bukanlah hal yang mudah. Perubahan paradigma kiranya menjadi prasyarat utama bagi terciptanya komitmen daerah untuk maju dan berkembang.

Salah satu prinsip yang dapat dikembangkan adalah konsep ‘stewardships’. Prinsip ini menekankan bahwa setiap kekayaan alam yang ada merupakan ‘amanah’ Sang Pencipta. Oleh karenanya setiap elemen masyarakat harus saling bahu membahu dalam mempertanggungjawabkannya di bumi maupun di akhirat kelak.

Nah dengan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi, niscaya masyarakat lokal akan lebih mampu mengarahkan setiap upaya komersialisme kekayaan alam setempat pada upaya tercapainya cita-cita nasional.

Selanjutnya, dukungan pemerintah, baik dalam bentuk regulasi investasi maupun suntikan dana dalam pengembangan spirit kewirausahaan di daerah mutlak diperlukan. Selain bertujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi daerah, memperbanyak jumlah pelaku wirausaha lokal sama halnya dengan membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendayagunakan alam sekitar secara lebih bertanggung jawab. Pola ini oleh sebagian kalangan diyakini mampu menciptakan kemandirian perekonomian lokal dalam jangka menengah.

Syarat lain seperti pembangunan dan penyempurnaan fasilitas infrastruktur (jalan raya provinsi, rasio kelistrikan serta jaringan telekomunikasi) merupakan hal-hal yang dinanti demi terwujudnya cita-cita tersebut.

Sebagai bagian dari saksi sejarah, Ende telah memberikan pijar-pijarnya kepada Proklamator ketika mencari konsep dasar bangsa. Pancasila terilhami oleh kekayaan alam Ende. Kini pijar yang sama juga dibutuhkan bangsa untuk menang dalam persaingan perdagangan bebas. Sudah saatnya kita mengejar ketertinggalan dengan merapatkan barisan demi Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

*Tulisan dimuat pada harian Media Indonesia, 24 Maret 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s